The worst consequence of feeling right is living in unconscious stupidity – Socrates
Pernahkah kamu merasa bahwa tata cara hidup yang orang lain lakukan adalah sebuah kesalahan? Dan cara hidupmu-lah yang benar?
Kita sering kali memandang cara kita menyelesaikan masalah adalah cara paling tepat. Tidak dipungkiri, itu adalah hal manusiawi karena berbagai faktor. Bisa jadi karena pengalaman yang sama terjadi berulang ataupun karena sudah pernah mencoba menggunakan cara lain namun gagal.

Manusia sering merasa benar karena kombinasi mekanisme pertahanan psikologis untuk melindungi harga diri, bias kognitif yang hanya menerima informasi sesuai keyakinan, serta insecurity yang aslinya butuh kendali. Hal ini manusiawi, namun bisa mengarah pada sikap kaku jika tidak kita sadari.
Kadang, kita mudah sekali menilai apa yang dilakukan orang lain.
Barangkali, bagi kita pengasuhan anak dari orang tua lebih baik daripada kita harus ke daycare. Mungkin saja, bagi orang lain daycare lebih manusiawi daripada menitipkan asuhan kepada kakek neneknya. Atau mungkin, membahas sebuah masalah saat itu juga terasa lebih baik untuk menjaga hubungan. Di sisi lain, menunda untuk berbicara terasa lebih baik agar tidak emosi. Semua hal dan pilihan mengenai cara terbaik dalam memutuskan sesuatu tentunya terasa benar bagi masing-masing orang.
Kebenaran itu milik siapa, sih?
Jelas, jika merujuk pada kekuatan terbesar maka kebenaran hanya milik Tuhan.
Dalam sebuah sumber filsafat menyebutkan bahwa di era modern atau post-truth, kebenaran sering kali diklaim oleh pihak yang memiliki narasi paling kuat atau pengikut paling banyak. Namun, secara filosofis, klaim kebenaran berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Siapa pun bisa mengklaim memilikinya, tetapi validitasnya bergantung pada bukti dan konsistensi atau biasa kita sebut dengan data.
Kebenaran = data.
Perasaan paling benar dalam sebuah penilaian atas sesuatu sering kali bukan karena kita memiliki data yang paling akurat, melainkan karena cara kerja otak dan psikologi manusia yang cenderung memihak pada diri sendiri.
Saya mencoba mencari dari berbagai sumber mengenai alasan-alasan kenapa sih kebenaran terasa mutlak buat kita? Dan, berikut ini bisa dijadikan referensi singkat mengenai alasan “kenapa” merasa paling benar itu relevan.
Naïve Realism (Realisme Naif):
Kita secara alami percaya bahwa cara kita melihat dunia adalah objektif dan akurat. Akibatnya, jika orang lain memiliki pandangan berbeda, otak kita secara otomatis menyimpulkan bahwa merekalah yang tidak mendapat informasi lengkap, tidak rasional, atau bias. Konsep ini pertama kali dikemukakan secara mendalam oleh psikolog sosial Lee Ross dari Universitas Stanford. Ross menjelaskan bahwa manusia cenderung merasa persepsinya terhadap dunia bersifat objektif.
Dunning-Kruger Effect
Fenomena ini bersumber dari penelitian tahun 1999 oleh David Dunning dan Justin Kruger. Pada sumber akuratnya ada di Jurnal Unskilled and Unaware of it : How difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to inflated self-assessments. Fenomena ini terjadi ketika seseorang yang memiliki pengetahuan terbatas dalam suatu bidang justru merasa sangat ahli. Karena ketidaktahuan mereka, mereka tidak bisa mengenali kekurangan dalam argumen mereka sendiri dan menganggap pendapat orang lain salah.
Confirmation Bias
Peter C Wason (1960) dalam penelitiannya On the failure to eliminate hypotheses in a conceptual task ; Quarterly Journal of Experimental Psychology menyebutkan bahwa otak kita cenderung hanya mencari dan mengingat informasi yang mendukung pendapat kita. Dalam debat, kita sering kali “menutup telinga” terhadap fakta yang disampaikan oleh lawan dan hanya fokus pada poin-poin yang menguatkan posisi kita. Pada pengambilan keputusan, kadang kita tahu bahwa kita salah namun otak kita memaksa mencari jalan apa pun agar membenarkan pernyataan sebagai sebuah bentuk pertahanan.
Mekanisme Pertahanan Ego
Mengakui kesalahan sering kali dirasakan oleh otak sebagai ancaman terhadap harga diri atau identitas. Oleh karena itu, kita merasa “paling benar” sebagai bentuk tameng psikologis agar tidak terlihat lemah atau tidak kompeten di hadapan orang lain. Penjelasan mengenai “tameng psikologis” berakar pada teori psikodinamika yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan dikembangkan lebih lanjut dalam psikologi modern mengenai harga diri (self-esteem). Dr. Guy Winch dalam artikel di Psychology Today sering membahas bagaimana ego yang rapuh membuat seseorang sulit mengakui kesalahan.

Kadang-kadang, merasa paling benar adalah cara untuk mempertahankan kontrol dalam sebuah interaksi sosial.
Orang dengan kebutuhan kontrol yang tinggi sulit berkompromi karena menganggap perbedaan pendapat sebagai bentuk kekacauan. Jadi tidak bisa abu-abu, yang bisa dipikirkan hanya “aku benar dan kamu salah”.
Sering kali, di balik sikap merasa paling benar tersembunyi rasa tidak aman yang mendalam, di mana orang tersebut butuh mengendalikan situasi agar merasa aman. Orang sering terpaku pada persepsi pribadinya sendiri dan sulit memahami sudut pandang orang lain.
Mencari tahu mengenai kecenderungan merasa benar ini, saya menemukan literaturnya dari Google utamanya menurut pandangan filsafat.
Ada dua istilah yang mungkin melekat mengenai hal ini. Epistemic humiliate dan epistemic arrogance.
Epistemic humility
adalah sikap atau kebajikan intelektual yang berfokus pada pengakuan akan keterbatasan pengetahuan dan kemungkinan bahwa keyakinan kita bisa keliru. Secara sederhana, ini adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu segalanya dan keterbukaan untuk menerima informasi baru meskipun itu bertentangan dengan pendapat pribadi.
Istilah oposisinya yaitu epistemic arrogance.
Epistemic arrogance
adalah sikap intelektual di mana seseorang memiliki keyakinan berlebihan pada kebenaran pendapatnya sendiri dan meremehkan batas-batas pengetahuannya. Dalam filsafat dan psikologi kognitif, keangkuhan ini bukan hanya soal sombong, melainkan kegagalan fungsi berpikir.
Seseorang mungkin saja mengalami the illusion of knowledge. Mereka yang angkuh secara epistemik merasa bahwa mereka memahami suatu isu secara mendalam, padahal pemahamannya dangkal. Mereka sering kali terjebak dalam Dunning-Kruger Effect, di mana ketidaktahuan mereka justru membuat mereka merasa sangat kompeten.

Ciri utama keangkuhan ini adalah ketidakterbukaan. Informasi atau bukti baru yang bertentangan dengan keyakinan mereka tidak dianggap sebagai bahan evaluasi, melainkan dianggap sebagai serangan atau kesalahan pihak lain.
Ini menciptakan echo chamber di dalam pikiran sendiri.
Echo chamber adalah situasi di mana seseorang hanya terpapar pada informasi, opini, atau keyakinan yang sejalan dengan pandangannya sendiri. Di dalam “ruang” ini, pandangan yang berbeda jarang terdengar atau bahkan sengaja disaring, sehingga keyakinan yang sudah ada terus bergema dan menjadi semakin kuat. Fenomena echo chamber menyediakan lingkungan yang memvalidasi rasa “paling benar” tersebut secara terus-menerus.
Seorang yang angkuh secara epistemik memandang rendah kapasitas intelektual orang lain. Mereka merasa tidak ada yang bisa dipelajari dari orang yang berbeda pendapat, sehingga mereka menutup pintu bagi kolaborasi intelektual dan diskusi yang sehat.

Jadi, kadang merasa pendapat pribadi atau cara memilih hidup kitalah yang paling benar sering kali dianggap sebagai keangkuhan. Menurut saya, merasa diri paling benar adalah fase di mana kita masih ada di layer paling dasar. Tujuannya memang mempertahankan pikiran pribadi. Namun, berusaha memikirkan apakah benar bahwa kita benar adalah sebuah cara pandang hidup next level.
Bijak yang sangat bijaksana, berani mengakui barangkali kita juga salah. Berani mengakui barangkali orang lain bisa saja benar.
Bagaimana kalau kita terlalu kaku dan merasa diri super benar-benar paling benar?
Pertama, kita akan mengalami yang namanya stagnasi intelektual. Karena merasa sudah tahu segalanya, mereka berhenti belajar dan berkembang. Akibatnya, tidak ada perubahan ke arah lebih maju karena mereka akan merasa bahwa pengetahuan mereka sudah paling benar.
Kedua, kita berpotensi mengalami polarisasi sosial. Sikap merasa paling benar secara mutlak adalah akar dari fanatisme dan ketidakmampuan berdialog dalam masyarakat. Sepertinya kita semua tahu bahwa ketika kita tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial, keangkuhan itu akan membuat kita menjadi pribadi yang mengalami penolakan bahkan menjadi antisosial.
Ketiga, kita mungkin saja mengalami fatal mistake. Akibat menutup diri dari pengetahuan dan kebenaran baru, kita tetap berada pada sisi tanpa pengetahuan. Dalam konteks profesional kerja, keangkuhan ini bisa menyebabkan kesalahan pengambilan keputusan karena mengabaikan risiko atau variabel yang tidak diketahui.

Dalam pandangan Socrates, akibat paling buruk dari merasa benar adalah hidup dalam kebodohan yang tidak disadari. Manusia akan merasa bijak padahal sebenarnya terjebak dalam delusi, yang justru membuat hidup menjadi kurang bermakna.

Penulis dan illustrator yang senang membahas psikologi, filsafat dan estetika kesenian. Hidup menjadi philomath dan mempelajari berbagai bidang disiplin ilmu. Siap membuka mata, telinga dan juga ruang diskusi yang bebas tanpa penghakiman.
