
Dialektika, — Buku ini menceritakan tentang perjalanan self healing yang berfokus pendekatan mindfulness, dimana kita harus menyediakan waktu untuk berbicara dengan sunyi, sebab dengan berkomunikasi melalui sunyi, perlahan kita akan lebih mengenal diri dan menjadi diri sendiri, mampu mengelola emosi yang kita rasakan, tentunya di dalam buku ini akan dipandu step by step bagaimana kita dapat dengan nyaman menjalani kehidupan.
Bukan apa-apa sebab penulis buku ini sendiri, merupakan seorang mentor emotional healing, dan buku ini sangat menyegarkan di tengah gempuran krisis kesehatan mental yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia, pengelolaan emosi menjadi hal yang sangat utama harus dikuasai oleh generasi muda sebagai bekal menjalani kehidupan, baik dalam menjalin pertemanan, keluarga, bahkan menjalani kehidupan berumah tangga.
Di dalam buku ini, tentu kita akan mendapat metode yang bermanfaat, seperti bagaimana melakukan meditasi yang baik untuk meningkatkan kesadaran kita, panduan untuk latihan bersyukur, latihan mengamati perasaan lebih ke dalam diri kita, how to self love yang tepat, dan tentunya self healing melalui menulis, yang membuat menarik dari buku ini adalah, bahwa manfaat menulis akan membantu kita berpikiran jernih, lebih mengenal diri sendiri, dan mampu menerima diri sendiri. Lebih simplenya, buku ini mengajak kita untuk lebih sibuk melihat problem di dalam diri.
Ada tulisan yang membuatku terkesan di dalam buku ini tentang makna cinta, makna cinta selalu identik dengan “jatuh” bukan “bangun”, dan cinta bukan saja persoalan antara pria dan wanita, hubungannya luas bisa kepada sahabat, keluarga, anak atau hal-hal yang kita melekat kepadanya, makna jatuh cinta sebenarnya adalah tentang kepasrahan, penerimaan dan pengendalian diri.
Agaknya penulis menyadarkan kita akan realita menjalani sebuah hubungan pasti akan menemukan ketidaknyamanan, sebab kita semua adalah manusia yang memiliki satu paket hal baik dan hal buruk, oleh karena itu selain teknik meditasi, disini kita juga akan diberikan pengetahuan tentang pentingnya menjaga jarak, atau bahasa kerennya adalah set boundaries.
Buku ini juga membahas tentang menjalin komunikasi percintaan yang berkualitas terutama terhadap pasangan hidup kita, bahwa dalam buku ini menunjukkan sebuah kebenaran agar di dalam menjalin hubungan yang awet adalah kuncinya penerimaan/saling memasrahkan, sebab apapun yang terjadi di masa depan yang akan dihadapi, selalu menjadi misteri.
Seberapa pun indah sepasang kekasih di mata orang lain, yang sebenarnya menjadi paling utama adalah bagaimana dia memperlakukan pasangannya sehari-hari ketika tak ada mata yang tertuju kepadanya. Nah, selain karya Adjie Santosoputro ini bagus banget, buku ini juga ringan untuk dibaca, mudah dipahami ketika kita mengalami kebuntuan dalam memecahkan masalah atau mood yang sedang galau, kita bisa coba praktikkan langkah-langkah meditasi yang ada di dalam buku ini.

Seorang guru Bahasa Inggris di sekolah swasta yang juga aktif sebagai Tentor literasi Bahasa Inggris. Suka membaca, diskusi, deep talk, menulis, menonton film kemudian menyelami narasinya, jalan-jalan, dan seorang yang antusias pada olahraga, sebab kombinasi antara intelektual dan latihan fisik konsisten adalah motor penggerak utama dalam berkarya.
