
Kebijaksanaan dalam Mendidik Generasi Muda
Dialektika, — Dalam kehidupan masyarakat Biak, terdapat sebuah pepatah yang menyampaikan pesan penting tentang pendidikan dan sikap hidup. Pepatah tersebut berbunyi: “Farkor pyum insamaido wakbe amber”, yang dapat diterjemahkan sebagai “Kamu belajar baik-baik supaya kamu menjadi orang yang maju atau yang dihormati”. Kalimat sederhana ini mengandung makna filosofis yang mendalam serta semangat yang kuat.
Kata “amber” dalam bahasa Biak memiliki makna yang luas. Dalam konteks adat, “amber” bisa merujuk pada tamu, tuan, orang asing, atau pendatang. Sementara itu, kata “farkor” merujuk pada ajakan untuk belajar, mengajar, atau bercerita. Dengan demikian, pepatah ini mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang menekankan pentingnya pendidikan bagi generasi muda.
Pendidikan yang diberikan harus dilakukan tanpa arogansi, penuh dengan nuansa kerendahan hati, dan penuh harapan akan masa depan agar anak muda kelak dihormati dan mampu melindungi sesamanya. Arogansi sendiri adalah sikap sombong, keangkuhan, atau perasaan superioritas yang berlebihan.
Hal ini sering ditunjukkan dengan meremehkan orang lain. Arogansi juga bisa muncul dalam bentuk arogansi kekuasaan, intelektual, atau bahkan di jalan raya. Dalam Alkitab, arogansi dipandang sebagai dosa serius dan kekejian di mata Tuhan.
Banyak ayat yang menegaskan bahwa orang yang angkuh akan menghadapi hukuman, karena arogansi menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan dan sesama. Pertanyaannya adalah, mengapa pendidikan bagi Generasi Muda Papua harus dilakukan tanpa arogansi? Mungkin jawabannya terletak dalam pesan-pesan yang disampaikan melalui lagu-lagu daerah.
Salah satu contohnya adalah lirik lagu yang berbunyi: “kata orang engkau mau berangkat, matahari hendak terbenam, kalau mukamu tak bercahaya kampung kami menjadi gelap, mari duduk sebentar bercakap, tidak boleh pergi tergesa, jangan lupa lembah-sungai merah dan seorang dengan kasihnya”.
Mendidik dengan arogansi bisa saja menggagalkan masa depan kolektif. Generasi muda Papua yang dididik dengan cara yang tidak ramah dan penuh arogansi berpotensi kehilangan daya lenting atau resiliensi untuk terus belajar, mengajar, atau bercerita tentang tujuan dan makna tua.
Mengedepankan Sikap Rendah Hati
Mari kita menjadi sombar tanpa api, menjadi angin tanpa badai, dan menjadi “amber” tanpa arogansi intelektual atau apapun yang dimiliki oleh diri kita. Dengan demikian, pendidikan bagi generasi muda Papua bisa berjalan dengan penuh kasih dan kebijaksanaan.
Beberapa prinsip penting dalam mendidik generasi muda antara lain:
- Kerendahan hati: Pendekatan pendidikan harus dilakukan dengan sikap rendah hati, sehingga tidak memperlihatkan kebanggaan yang berlebihan.
- Kasih sayang: Setiap pembelajaran harus dibungkus dengan kasih dan perhatian yang tulus.
- Pemahaman budaya: Penting untuk memahami nilai-nilai adat dan kearifan lokal dalam proses pendidikan.
- Harapan akan masa depan: Setiap pengajaran harus membuka wawasan tentang masa depan yang cerah dan penuh harapan.
Dengan menjaga nilai-nilai ini, generasi muda Papua akan tumbuh menjadi individu yang tangguh dan berwawasan luas, juga menjadi pribadi yang memiliki kedalaman intelektual-spiritual dan sosial. Pendidikan yang memanusiakan manusia akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak tercerabut dari akar budayanya, dan mampu berdiri tegak di kancah global. Inilah esensi sejati dari menjadi sombar—menjadi pelindung yang memberikan kesejukan bagi sesama, serta memberikan kontribusi nyata yang tulus bagi kemajuan masyarakat di Tanah Papua dan Indonesia

Penulis dan illustrator yang senang membahas psikologi, filsafat dan estetika kesenian. Hidup menjadi philomath dan mempelajari berbagai bidang disiplin ilmu. Siap membuka mata, telinga dan juga ruang diskusi yang bebas tanpa penghakiman.
