
Sejarah Perubahan Nama dari Sala Menjadi Solo
Khasanah, — Nama Solo begitu melekat sebagai identitas salah satu kota budaya di Jawa Tengah. Namun, tak sedikit masyarakat yang bertanya-tanya, mengapa nama resminya Surakarta, tetapi lebih populer disebut Solo? Ternyata, ada sejarah panjang di balik perubahan nama dari Sala menjadi Solo yang berkaitan erat dengan perpindahan Kerajaan Mataram Islam dan pengaruh bangsa Eropa pada masa kolonial.
1. Awal Mula Kerajaan Pindah ke Desa Sala
Sejarah bermula pada masa pemerintahan Paku Buwono II. Saat itu, Kerajaan Mataram Islam tengah menghadapi konflik besar melawan Belanda. Situasi politik yang tidak stabil membuat pusat kerajaan di Kartasura mengalami kerusakan dan akhirnya diduduki Belanda.
Kondisi tersebut mendorong Paku Buwono II mencari lokasi baru yang dianggap lebih aman dan strategis untuk membangun kembali pusat pemerintahan kerajaan. Pilihan kemudian jatuh pada sebuah wilayah di tepi Sungai Bengawan Solo, yakni Desa Sala. Pada tahun 1745, seluruh elemen penting kerajaan di Kartasura dipindahkan ke Desa Sala melalui prosesi besar. Dari sinilah lahir pusat pemerintahan baru yang kemudian dikenal sebagai Keraton Surakarta Hadiningrat.
2. Kenapa Sala Berubah Menjadi Solo?
Meski lokasi kerajaan berada di Desa Sala, lama-kelamaan masyarakat lebih akrab menyebut wilayah tersebut sebagai Solo. Perubahan penyebutan ini ternyata dipengaruhi oleh orang-orang Eropa, khususnya Belanda. Berdasarkan penjelasan yang pernah dimuat di situs resmi Dinas Pariwisata Kota Solo, orang Belanda pada masa itu mengalami kesulitan melafalkan kata “Sala” dengan huruf “a” yang kuat di akhir kata.
Akibatnya, pelafalan berubah menjadi “Solo” dengan bunyi huruf “o”. Penyebutan tersebut kemudian semakin populer dan digunakan secara luas oleh masyarakat hingga sekarang.
Sala sebenarnya adalah nama desa tempat berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat. Dengan kata lain, Surakarta merupakan nama resmi kerajaan dan wilayah pemerintahan, sedangkan Solo atau Sala adalah nama populer yang digunakan masyarakat sehari-hari.
3. Surakarta dan Solo, Apa Bedanya?
Hingga kini masih banyak orang menganggap Surakarta dan Solo adalah dua wilayah berbeda. Padahal, keduanya merujuk pada kota yang sama. Nama resmi kota tersebut adalah Surakarta, sedangkan Solo merupakan sebutan yang lebih akrab di masyarakat. Nama Solo sendiri berasal dari Desa Sala, lokasi awal berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Selain sebagai nama kota, Surakarta juga pernah digunakan sebagai nama eks karesidenan yang meliputi tujuh wilayah di Solo Raya, yaitu Kota Solo, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri.
4. Berkaitan dengan Perpecahan Kerajaan Mataram
Setelah pusat kerajaan pindah ke Desa Sala, konflik internal Kerajaan Mataram ternyata belum berakhir. Kerajaan masih menghadapi perlawanan dari Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi. Perselisihan tersebut akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Isi perjanjian itu menjadi tonggak penting dalam sejarah Jawa karena membagi Kerajaan Mataram menjadi dua kekuasaan, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram Islam resmi berakhir dan lahirlah dua pusat pemerintahan baru di Jawa.
5. Asal-usul Nama Sala dari Tanaman
Selain berkaitan dengan nama desa, kata Sala juga diyakini berasal dari nama tanaman yang dahulu tumbuh subur di kawasan tersebut. Beberapa sumber menyebut tanaman sala banyak ditemukan di wilayah tempat berdirinya Keraton Surakarta. Keyakinan ini bahkan diperkuat oleh penelitian terhadap sebuah pohon tua yang berada di halaman Keraton Surakarta Hadiningrat.
6. Budaya Kota Solo yang Terkenal
Saat ini, Solo atau Surakarta dikenal sebagai salah satu kota budaya terpenting di Indonesia. Kota seluas 44,04 kilometer persegi itu memiliki sejarah panjang sebagai pusat kerajaan Jawa. Solo juga semakin dikenal luas sejak dipimpin Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat masih menjabat Wali Kota Solo selama dua periode.
Meski nama resminya tetap Surakarta, masyarakat Indonesia hingga dunia lebih familiar menyebut kota ini sebagai Solo, sebuah nama yang lahir dari sejarah panjang, budaya Jawa, dan pengaruh pelafalan orang Eropa pada masa kolonial.

Seorang pengamat independen yang mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif.







