
Sejarah Panjang Kota Tua Jakarta
Khasanah, — Kota Tua Jakarta memiliki sejarah yang sangat panjang dan kaya akan peradaban. Dari abad kedua hingga masa kolonial, wilayah ini telah menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan. Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menjelaskan bahwa kawasan ini tidak hanya terkenal pada masa kolonial Belanda, tetapi sudah ada sejak jauh sebelumnya.
1. Awal Mula Kehadiran Bandar Salaka
Menurut Yahya, dalam beberapa manuskrip kuno yang dibahas dalam kongres sejarawan abad ke-17, wilayah Nusantara sudah dikenal sejak abad kedua. Saat itu, kawasan Jakarta dikenal sebagai Bandar Salaka, mengikuti nama kerajaan Salakanagara. Ia menjelaskan bahwa nama kawasan tersebut berubah sesuai dengan kekuasaan kerajaan yang memimpin wilayah tersebut.
Pada masa kerajaan Tarumanagara di abad kelima, kawasan itu disebut Bandar Taruma. Lalu, saat Kerajaan Sunda Pajajaran berkuasa, wilayah ini berubah menjadi Sunda Kelapa. “Memang konsentrasi orang karena itu kota bandar, maka konsentrasinya terbatas hanya pada kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa sampai kepada kawasan yang sekarang kita sebut sebagai tempat berdirinya Museum Sejarah Jakarta,” ujarnya.
2. Perubahan di Era Kolonial
Yahya menjelaskan bahwa kawasan ini mulai berubah besar ketika kolonial Belanda membangun Batavia pada 1619 di atas reruntuhan Jayakarta. Infrastruktur kota mulai ditata lengkap dengan kanal-kanal yang menyerupai tata kota di Belanda. “Jadi memang dia menjadi kota persinggahan yang sangat ramai dari JP Coen membangun kota itu dari yang dulu namanya Jayakarta menjadi Batavia,” tutur dia.
Sejak saat itu, kawasan pesisir hingga Glodok dan Pinangsia berkembang menjadi pusat pemerintahan kolonial VOC. Gedung yang kini dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta dulunya merupakan kantor Gubernur Jenderal VOC. Sementara Museum Keramik dan Seni Rupa pernah difungsikan sebagai kantor pengadilan kolonial.
3. Simbol Ketimpangan Sosial
Bagi masyarakat pribumi saat itu, Batavia bukan sekadar kota perdagangan, melainkan simbol ketimpangan sosial. Yahya menyebut masyarakat kolonial kala itu dibagi dalam tiga kelas sosial. “Kelas utama itu orang-orang putih terutama penjajah Belanda. Peringkat kedua masyarakat timur asing seperti Cina, Arab, Jepang. Nah, kita ini disebut inlander, pribumi yang enggak ada harganya,” katanya.
4. Bergeser ke Gambir
Menurut Yahya, kawasan Kota Tua perlahan ditinggalkan pada akhir abad ke-18 karena padat penduduk, wabah penyakit, serta kondisi kanal yang kotor dan menimbulkan malaria. “Orang-orang penting VOC banyak yang terserang malaria dan muntaber. Oleh karena itu di akhir abad ke-18 berbarengan dengan bangkrutnya VOC 1799, pusat pemerintahan dipindahkan ke selatan,” ujar dia.
Pusat pemerintahan kolonial kemudian bergeser ke kawasan Weltevreden yang kini dikenal sebagai area Gambir meliputi Monas, Lapangan Banteng, hingga Istana Negara.
5. Kota yang Tetap Terbuka
Meski menyimpan banyak cerita kelam kolonialisme, Yahya menilai Kota Tua tetap menjadi pengingat penting perjalanan Jakarta sebagai kota terbuka dan multikultural. “Jakarta itu dari dulu enggak berubah dari sisi demografi. Dia tempat berkumpulnya banyak bangsa. Kota ini kota yang terbuka,” katanya.
Ia pun mengaku bangga dengan wajah Jakarta yang tetap memelihara keberagaman sejak dahulu hingga sekarang. “Yang berubah itu infrastrukturnya. Tapi sifat dia sebagai kota yang bersama-sama, kota multikultur itu dari dulu sampai sekarang enggak berubah,” ucap Yahya.

Seorang pengamat independen yang mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif.







