
Sejarah dan Deskripsi Candi Planggatan
Manuskrip, — Candi Planggatan terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Lokasinya tidak jauh dari Candi Sukuh, sehingga memiliki kesamaan gaya arsitektur dan latar belakang sejarah.
Situs Candi Planggatan berada pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut dengan luas 4.460 meter persegi. Lingkungannya diapit oleh perkampungan penduduk dan lahan tegalan. Saat ini, reruntuhan candi Planggatan ditumbuhi pohon beringin besar yang menambah kesan mistis dan asri. Dari Kota Solo, jarak ke Candi Planggatan sekitar 38 kilometer, atau bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 6 menit menurut Google Maps.
Struktur dan Reruntuhan Candi
Candi Planggatan terdiri dari susunan bebatuan berteras, meskipun batas tiap tingkatannya kini tidak begitu jelas. Dari reruntuhan tersebut, ditemukan batu-batu yang polos maupun berelief. Relief yang ada menampilkan berbagai tokoh dan adegan seperti:
- Tokoh menunggang kuda dengan pengawal bersenjata dan payung
- Rumah panggung dan pendapa yang diiringi pengawal
- Bala tentara bersenjata tombak
- Tokoh laki-laki dan perempuan dengan pengiring, serta punakawan
Ukiran-ukiran ini menyerupai relief Candi Sukuh dan Candi Cetho, menandakan kesamaan gaya visual dan pengaruh budaya Majapahit.
Relief Gajah Wiku dan Sengkalan Memet
Salah satu relief paling menarik adalah Gajah Wiku, digambarkan setengah manusia-setengah gajah dengan belalai memakan bulan sabit. Gajah mengenakan sorban dan kain lipat, menunjukkan atribut seorang begawan. Relief ini merupakan sengkalan memet yang berbunyi “Gajah wiku mangan wulan”, menandai tahun 1378 Caka (1456 Masehi), sama dengan relief di Candi Sukuh.
Di sebelah relief Gajah Wiku terdapat prasasti empat baris yang memiliki kesamaan dengan prasasti di Candi Ceto dan Sukuh, memperkuat keterkaitan ketiga situs tersebut.
Temuan Arkeologis
Selain relief, di situs Candi Planggatan juga ditemukan:
- Lingga-yoni, menandakan pemujaan terhadap Dewa Siwa
- Bokor batu, tempat sesaji
- Batu berelief lain yang menampilkan cerita keagamaan dan kegiatan masyarakat
Berdasarkan arah hadap candi ke Barat, serta kesamaan relief, Candi Planggatan diperkirakan searah dengan Candi Sukuh. Penggalian pertama dilakukan BP3 Jateng pada 1985, namun setelah mengetahui arah hadap candi, batuan ditutup kembali.
Candi Planggatan merupakan warisan Majapahit yang sarat nilai agama Hindu dan ritual keagamaan. Relief dan prasasti yang ditemukan menjadi bukti hubungan budaya dan seni antara beberapa candi di Karanganyar. Beberapa ahli juga berpendapat situs ini terkait dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang sempat singgah di daerah sekitar Gunung Lawu sebelum meninggal.

Seorang pengamat independen yang mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif.







