
Ada Orang yang Wajahnya Biasa Saja, Tapi Hatinya Membuat Kita Betah
Dialektika, — Aku makin percaya kalau pesona seseorang itu tidak selalu datang dari tampilan luar. Tidak ada yang bisa menjamin antara penampilan dan kebaikan hati pada relung jiwa setiap individu di dunia ini. Ada orang-orang yang bahkan tampil sederhana, low profile, tidak terlalu banyak bicara, tidak sibuk ingin terlihat sempurna, tetapi entah kenapa kehadirannya selalu bikin nyaman.
Ada juga yang berpenampilan nyeleneh, namun memiliki kejujuran yang lurus. Kita tak pernah tahu isi hati manusia. Sebegitu kita memandang lautan biru yang menghampar luas, dalamnya isi lautan kita tidak pernah tahu, apalagi dalamnya isi hati manusia, tentu jauh lebih dalam dari Samudera Hindia. Tidak akan ada yang pernah tahu apa yang terjadi pada sisi terdalamnya, dan tidak ada yang mendengar gemuruhnya.
Duduk dekat mereka rasanya tenang. Ngobrol dengan mereka tidak membuat lelah emosional. Tatapannya begitu teduh. Cara bicaranya teratur. Dan tanpa sadar, kita merasa aman di dekatnya.
Dulunya… aku sempat berpikir bahwa daya tarik seseorang itu soal penampilan. Soal siapa yang paling menarik dilihat, paling percaya diri, paling menonjol di tengah keramaian. Tetapi semakin bertambah usia, aku sadar ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada itu semua hati yang baik.
Menakar Ketulusan Lewat Ujian Waktu

Mengenali bagaimana seseorang memiliki hati yang baik sangatlah sulit memang, jika kita tidak benar-benar dekat dengannya. Bagaimana mereka mengelola konflik, tentang durasi waktu yang kita habiskan bersamanya, 1 tahun, 2 tahun, atau bahkan awet sampai lebih dari 23 tahun lamanya.
Baru kita dapat merasakan getaran ke seluruh insting dan tubuh kita, bahwa memang dia orang yang memiliki hati yang benar-benar indah. Hati yang menawan memang tidak terlihat oleh mata, tetapi aku beri satu rahasia di antara banyak rahasia: hati yang menawan akan selalu terasa damai bila kita di dekatnya.
Seperti wangi tanah setelah hujan. Ia tidak berisik, tidak memaksa siapa pun untuk memperhatikan, tetapi mampu menghadirkan rasa damai.
Tetap Lembut Meski Dunia Berbalas Luka

Dulu aku pernah bertemu beberapa orang seperti itu. Hidup mereka tidak selalu mudah. Ada yang sering diremehkan, tidak luput dari hinaan, hujatan, ada yang berkali-kali dikecewakan, diperlakukan tidak adil, sering kali dibohongi padahal dia tahu kalau sedang dibohongi, tapi dia memilih diam. Namun anehnya, setelah mendapat perlakuan yang tidak layak, mereka tetap lembut kepada orang lain.
Mereka biasanya tetap bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Tetap bisa peduli meski dirinya sendiri sedang lelah. Tetap memilih bicara baik walau pernah disakiti. Dan menurutku, itu indah sekali. Karena dunia sekarang terlalu ramai oleh orang-orang yang sibuk membangun citra. Media sosial penuh dengan kehidupan yang terlihat sempurna. Semua ingin tampak menarik, sukses, bahagia, dan dicintai banyak orang.
Padahal belum tentu hatinya tenang. Kita benar-benar tidak mengetahui tulus atau tidak. Dan belum tentu benar-benar peduli kepada sesama. Makanya kadang kita bertemu seseorang yang tutur katanya manis sekali, tetapi setelah berbicara dengannya malah terasa capek. Ada energi yang bikin sesak. Sebaliknya, ada juga orang yang sederhana, bahkan tidak begitu pandai memuja dan memuji, tetapi kehadirannya terasa dirindukan dan begitu hangat.
Itu karena manusia sebenarnya bisa merasakan energi hati. Hati yang penuh iri biasanya membuat suasana jadi tidak nyaman. Hati yang penuh amarah terasa menekan dan membuat merasa diserang. Sedangkan hati yang bersih memunculkan ketenangan. Mungkin itu sebabnya ada beberapa orang tertentu yang selalu dirindukan, bahkan ketika mereka tidak banyak bicara. Kamu pernah bertemu orang seperti itu nggak? Kalau pernah, hidupmu beruntung!
Pesona Sejati yang Menembus Keabadian

Aku jadi ingat satu kalimat yang sempat tinggal lama di kepalaku. Kutipan ini dari sebuah buku yang ditulis ulama tasawuf yang sudah berlindung:
“Selagi engkau masih terus merawat kebaikan hatimu, wahai kekasihku, percayalah engkau akan menabur pesona kepada siapa pun.”
— Buya Syakur
Kalimat itu sederhana, tetapi dalam sekali.
Mari sedikit menelisik kata “kekasih” pada diksi yang dipilih Buya Syakur. Kata kekasih itu artinya bukan ditujukan kepada pacar atau pasangan saja, melainkan kepada muridnya, atau bisa juga ditujukan kepada pembaca yang kebetulan hatinya sedang dilanda kedukaan mendalam. Maka makna “kekasih” di situ adalah sebagai pelipur lara bagi sang ulama tasawuf tersebut.
Karena ternyata pesona sejati memang lahir dari hati yang tidak kehilangan kelembutannya. Dari seseorang yang tetap memilih menjadi baik meski dunia tidak selalu baik kepadanya. Kamu tahu nggak, itu hal yang sangat berat, itu tidak mudah. Menjadi orang baik sering melelahkan, apalagi dipaksa menjadi baik dengan dikelilingi lingkungan yang toxic.
Kadang ketulusan malah dimanfaatkan. Kesabaran dianggap kelemahan. Kebaikan dianggap kebodohan. Terkadang ada bisikan senewen dan hari-hari ketika kita merasa ingin berhenti peduli karena terlalu sering kecewa.
Itulah letak tantangannya, yaitu hati yang sedang diuji. Apakah kita tetap memilih menjadi manusia yang penuh empati bukan karena dunia memperlakukan kita dengan baik, atau malah sebaliknya? Lalu akhirnya kita lupa bagaimana caranya menjadi manusia? Dan lupa caranya memanusiakan manusia?
Aku rasa, itu bentuk kekuatan yang jarang dimiliki semua orang.
Sebab menjadi keras jauh lebih mudah. Membalas luka juga teramat sangat mudah. Tetapi tetap menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian setelah disakiti berkali-kali, itu bukan perkara sederhana. Ikhlas tidak mudah sekadar membalikkan telapak tangan saja.
Dan jangan salah, berhati baik bukan berarti tidak punya batas. Orang yang tulus juga boleh berkata “cukup”. Boleh menjauh dari hubungan yang toxic. Boleh melindungi dirinya sendiri. Karena menjaga hati bukan berarti membiarkan diri terus terluka. Tapi lebih memberi ruang untuk membuka diri pada sosok manusia yang membawa ketenteraman batin.
Kadang kita terlalu sibuk mempercantik bagian luar sampai lupa merawat isi hati. Kita membeli banyak hal supaya terlihat berharga, padahal nilai diri tidak pernah benar-benar datang dari semua itu.
Wajah akan menua.
Tren akan berubah.
Tubuh pun tidak akan selalu sama.
Tetapi hati yang baik selalu punya caranya sendiri untuk dicintai. Karena manusia mungkin lupa rupa seseorang, tetapi mereka jarang lupa bagaimana perasaan yang pernah diberikan oleh orang itu. Mereka lupa kalau perlakuan buruk yang ditorehkan akan membekas bagi si penerimanya, selamanya bahkan!
Mereka lupa pakaian apa yang kita pakai. Tetapi mereka ingat siapa yang membuat mereka merasa diterima. Mereka lupa bentuk wajah kita. Tetapi mereka ingat siapa yang pernah menenangkan mereka saat hidup sedang berantakan.
Dan mungkin itulah alasan kenapa sebagian orang terlihat begitu bercahaya meski dalam tampilan yang biasa-biasa saja. Apa yang membuat mereka terlihat bercahaya? Cahayanya hanya akan menembus pada pemilik hati yang tiada mendengki, karena ia merawat hatinya untuk tetap berdenyut hidup. Ia menanam benih-benih empati. Ia memupuk rasa peduli. Bahkan ia masih mampu mendoakan orang lain diam-diam tanpa perlu diketahui siapa pun.
Wanginya menusuk-nusuk hidung, aroma yang hanya dimiliki oleh jiwa-jiwa seperti itu. Aroma yang tidak berasal dari parfum mahal, tetapi dari ketulusan. Dan orang-orang seperti itu sering tidak sadar kalau dirinya begitu berharga. Dia benar-benar tidak merasa kalau dia memiliki perangai yang menawan. Dia selalu merasa bukan orang baik. Dia merasa masih belum banyak berbuat kebaikan.
Mereka hanya mengira dirinya biasa saja, selayaknya manusia biasa pada umumnya. Padahal kehadiran mereka sering menjadi tempat pulang bagi banyak hati yang lelah. Jadi kalau hari ini kamu merasa kebaikanmu belum dihargai, jangan buru-buru berubah menjadi Joker. Dunia memang kadang tidak adil kepada orang yang tulus. Tetapi percayalah, hati yang baik tidak pernah benar-benar disia-siakan oleh Tuhan dan semesta.
Sebab pada akhirnya, pesona paling indah memang bukan tentang siapa yang paling menarik dilihat, melainkan siapa yang paling menenangkan dan memberi kesejukan ketika dirinya hadir.
Apakah kamu orangnya? Atau kita sedang berusaha menjadi orang yang demikian?
Siapa pun, semoga semua makhluk berbahagia di bumi ini.

Seorang guru Bahasa Inggris di sekolah swasta yang juga aktif sebagai Tentor literasi Bahasa Inggris. Suka membaca, diskusi, deep talk, menulis, menonton film kemudian menyelami narasinya, jalan-jalan, dan seorang yang antusias pada olahraga, sebab kombinasi antara intelektual dan latihan fisik konsisten adalah motor penggerak utama dalam berkarya.







