
Sutradara: Yuda Kurniawan
Pemeran: A. Rani Someng sebagai Made, Fadli sebagai Dhiptha, Ni Nyoman Trikanti sebagai Nengah, Bunaeri sebagai Tuwarno, Siti Aisiyah sebagai Minah, Fatra Harla sebagai Panggoba, Idil Kurniawan sebagai parman.
Rilis: 31 Juli 2025
Harmoni dan Panggoba: Ketika Kearifan Lokal Membaca Alam
Review, — Film bertema lingkungan kerap hadir dengan pendekatan yang berat atau terlalu dramatik. Namun, Harmoni menawarkan sesuatu yang berbeda. Film ini memilih berjalan dengan tempo yang lambat dan tenang, tanpa ledakan konflik berlebihan, tanpa adegan sensasional, tetapi mampu menyampaikan persoalan manusia dan alam secara lebih dekat dan membumi.
Aku menonton film ini pada Agustus tahun 2025 yang lalu. Kesan yang tertinggal bukan hanya tentang konflik ekonomi masyarakat kecil, melainkan juga tentang bagaimana manusia perlahan kehilangan hubungan dengan alam dan tradisi yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Secara umum, Harmoni dapat disebut sebagai film semi-dokumenter. Alurnya sederhana, tetapi sarat pesan sosial dan ekologis. Penonton diajak menyaksikan dua wilayah berbeda yang sesungguhnya memiliki persoalan serupa: Gorontalo dan Bali.
Di Gorontalo, film menampilkan kehidupan petani jagung transmigran Jawa yang menghadapi kekeringan, keterbatasan modal, hingga tekanan ekonomi keluarga. Dalam situasi sulit itu, sebagian masyarakat masih mempercayai peran Panggoba, sosok yang memahami penanggalan musim berdasarkan pergerakan bintang dan tanda-tanda alam.
Sementara di Bali, konflik berpusat pada keluarga petani rumput laut. Made, sang ayah, bersikeras mempertahankan lahannya di tengah derasnya investasi pariwisata. Di sisi lain, Dhipta, anaknya, mulai tergoda menyewakan lahan kepada investor asing demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dan mewujudkan rencana masa depannya.
Dua cerita tersebut bergerak bergantian dan memperlihatkan benturan antara tradisi, kebutuhan ekonomi, dan modernitas yang semakin sulit dihindari masyarakat kecil.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada kesederhanaannya. Harmoni tidak mengandalkan aktor ternama maupun konflik yang dibuat berlebihan. Namun, justru di situlah letak daya tariknya. Akting pemeran Panggoba tampil sangat kuat dan mampu menghidupkan suasana film yang cenderung tenang menjadi lebih berisi dan emosional.
Tokoh Panggoba sendiri menjadi bagian yang paling menarik perhatianku. Dalam film, keberadaannya kerap dipandang negatif dan bahkan dibenturkan dengan persoalan keyakinan. Padahal, setelah membaca beberapa referensi, aku menemukan bahwa Panggoba bukanlah dukun sebagaimana stigma yang sering dilekatkan.
Dalam tradisi masyarakat Gorontalo, Panggoba dikenal sebagai orang yang memahami ilmu perbintangan dan tanda-tanda alam secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut digunakan untuk menentukan waktu tanam, musim panen, hingga kondisi laut bagi nelayan.
Panggoba mengamati empat bintang utama yang dikenal sebagai poliyama wopata: Totokiya, Tadata, Otoluwa, dan Malu’o. Bintang-bintang ini menjadi penanda perubahan musim dan aktivitas pertanian masyarakat.
Totokiya, misalnya, dianggap sebagai “bintang utama” yang menandai awal musim tanam. Sementara Otoluwa dikenal sebagai penanda stabilnya musim hujan yang cocok untuk tanaman pangan. Pengamatan dilakukan secara rutin pada pagi dan sore hari, sebagai bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Melalui tradisi itu, masyarakat sebenarnya sedang membangun hubungan yang selaras dengan alam. Pengetahuan lokal semacam ini lahir dari pengalaman panjang dan pengamatan terus-menerus terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah perkembangan teknologi modern, kehadiran Panggoba menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia memiliki warisan pengetahuan ekologis yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tradisi semacam ini mungkin tidak hadir dalam bentuk perangkat digital atau data satelit, tetapi selama bertahun-tahun terbukti membantu masyarakat bertahan hidup.
Harmoni pada akhirnya tak hanya menceritakan film tentang petani jagung atau petani rumput laut. Film ini berbicara tentang manusia yang sedang berusaha mempertahankan keseimbangan: antara tradisi dan modernitas, antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian alam, juga antara keyakinan dan pemahaman budaya.
Di saat banyak orang semakin jauh dari alam, film ini mengajak penonton untuk kembali mendengarkan pesan-pesan yang selama ini hadir di sekitar kehidupan sehari-hari. Kadang, manusia hanya perlu sedikit mendongak ke langit untuk memahami bahwa alam selalu memiliki caranya sendiri dalam berbicara.
Referensi:

Seorang guru Bahasa Inggris di sekolah swasta yang juga aktif sebagai Tentor literasi Bahasa Inggris. Suka membaca, diskusi, deep talk, menulis, menonton film kemudian menyelami narasinya, jalan-jalan, dan seorang yang antusias pada olahraga, sebab kombinasi antara intelektual dan latihan fisik konsisten adalah motor penggerak utama dalam berkarya.







