Kisah Ngasirah, Ibu RA Kartini yang Jadi Selir Aturan Kolonial

Editorial Summary

  • Ngasirah, yang dikenal sebagai ibu dari Raden Ajeng Kartini, memiliki kisah hidup yang penuh dengan tantangan.
  • Pada tahun 1872, Ngasirah menikah dengan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang saat itu menjabat sebagai Wedana Mayong.
  • Sosok Ngasirah pun menjadi bagian penting, meski sering terlupakan, dalam lahirnya pemikiran besar tentang emansipasi wanita di Indonesia.
emansipasi kehidupan peran perempuan perempuan rumah tangga sosial masyarakat Raden Ajeng Kartini Nyai Haji Siti Aminah

Latar Belakang Keluarga Ngasirah Manuskrip, — Ngasirah, yang dikenal sebagai ibu dari Raden Ajeng Kartini, memiliki kisah hidup yang penuh dengan…

Latar Belakang Keluarga Ngasirah

Manuskrip, — Ngasirah, yang dikenal sebagai ibu dari Raden Ajeng Kartini, memiliki kisah hidup yang penuh dengan tantangan. Meskipun ia tidak berasal dari kalangan bangsawan, ia tumbuh dalam lingkungan yang religius dan berpandangan baik. Ia adalah putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Sejak kecil, Ngasirah mendapat pendidikan agama dan tata krama langsung dari orang tuanya. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal seperti yang dilakukan oleh kaum priyayi pada masa itu, ia tetap memperoleh nilai-nilai penting yang menjadi dasar bagi kehidupannya nanti.

Pernikahan dengan Sosroningrat

Pada tahun 1872, Ngasirah menikah dengan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang saat itu menjabat sebagai Wedana Mayong. Awalnya, rumah tangga mereka berjalan harmonis. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai delapan anak, termasuk Kartini yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara.

Kelahiran Kartini disambut dengan tradisi kenduri bubur merah dan putih sebagai simbol doa dan harapan. Namun, kehidupan Ngasirah berubah drastis ketika suaminya diangkat menjadi Bupati Jepara.

Perubahan Status Akibat Aturan Kolonial

Pada masa itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan aturan bahwa seorang bupati harus memiliki istri dari kalangan bangsawan. Karena Ngasirah bukan keturunan ningrat, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat kemudian menikah lagi dengan Raden Adjeng Woejan yang memiliki garis keturunan bangsawan Madura.

Akibatnya, meskipun ia merupakan istri pertama dan ibu dari anak-anaknya, status Ngasirah diturunkan menjadi selir. Hal ini menyebabkan perubahan besar dalam hidupnya.

Kehidupan dalam Tekanan Tradisi Feodal

Sebagai selir, Ngasirah harus menerima berbagai aturan yang sangat menyakitkan. Ia tidak diizinkan tinggal di rumah utama kabupaten dan hanya menempati area belakang pendapa. Lebih memilukan lagi, ia diwajibkan memanggil anak-anaknya sendiri dengan sebutan “ndoro”, sementara anak-anaknya harus memanggilnya “Yu”, sebutan bagi abdi dalem perempuan.

Kondisi ini mencerminkan kuatnya sistem feodal yang berlaku saat itu, di mana status sosial menentukan perlakuan dalam keluarga. Ini menjadi contoh nyata bagaimana perempuan sering kali menjadi korban dari aturan-aturan yang tidak adil.

Hubungan dengan Kartini dan Sikap Penolakan

Meskipun menghadapi banyak tantangan, hubungan Ngasirah dengan Kartini tetap erat. Kartini justru lebih sering tinggal bersama ibunya dan menolak mengikuti aturan yang merendahkan posisi Ngasirah. Ia juga dikenal memberikan syarat sebelum menikah, yakni agar ibunya diperbolehkan masuk ke pendopo sebagai bentuk penghormatan.

Pengalaman melihat langsung penderitaan ibunya turut membentuk pemikiran kritis Kartini terhadap praktik poligami dan ketidakadilan terhadap perempuan. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan penolakannya terhadap poligami dan menggambarkan penderitaan perempuan yang harus menerima kehadiran istri lain dalam rumah tangga.

Potret Ketidakadilan Perempuan di Era Kolonial

Kisah Ngasirah bukan sekadar cerita keluarga, melainkan potret nyata kondisi perempuan pada masa kolonial. Statusnya yang berubah dari istri menjadi selir menunjukkan bagaimana aturan sosial dapat mengabaikan perasaan dan hak perempuan. Dari kisah inilah, semangat perjuangan Kartini terhadap kesetaraan perempuan semakin kuat.

Sosok Ngasirah pun menjadi bagian penting, meski sering terlupakan, dalam lahirnya pemikiran besar tentang emansipasi wanita di Indonesia.

Sumber: Wikipedia

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *