Program Makan Bergizi Gratis untuk Penyandang Disabilitas
Menteri Sosial Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus bagi penyandang disabilitas akan diberikan kepada kelompok yang paling membutuhkan. Hal ini dilakukan dengan fokus pada masyarakat yang berada di desil 1 hingga desil 4.
“Ya, tentu yang difokuskan ke desil 1, desil 2 sampai 4. Kita prioritaskan itu. Jadi memang diprioritaskan paling membutuhkan,” ujar Gus Ipul saat berada di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (25/1/2026).
Alokasi Kementerian Sosial untuk Penyandang Disabilitas
Saat ini, Kementerian Sosial hanya memiliki alokasi sekitar 35 ribu penyandang disabilitas yang akan menerima dukungan berupa makanan bergizi gratis. Penentuan penerima manfaat tersebut didasarkan pada ketersediaan anggaran yang dimiliki pemerintah.
“Kita kan baru memiliki alokasi sekitar 35.000 penyandang disabilitas yang memperoleh dukungan untuk mendapatkan makan bergizi gratis khusus penyandang,” katanya.
Akurasi Data sebagai Kunci Utama Program MBG
Gus Ipul menegaskan bahwa akurasi data menjadi hal penting agar intervensi pemerintah, termasuk program MBG, dapat tepat sasaran. Dalam satu tahun terakhir, sesuai arahan Presiden, pemerintah melakukan konsolidasi data penyandang disabilitas secara nasional.
“Data menyangkut penyandang disabilitas ini sangat penting, krusial, dan sekaligus menentukan jenis intervensi yang diberikan oleh pemerintah maupun pihak non-government,” katanya.

Jumlah Penyandang Disabilitas di Indonesia
Hasil konsolidasi sementara menunjukkan bahwa jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai lebih dari 15 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 4 juta di antaranya merupakan penyandang disabilitas sensorik netra.
Data ini masih terus diverifikasi dan divalidasi untuk memetakan kondisi ekonomi mereka berdasarkan desil kesejahteraan, dari desil 1 hingga desil 10. Gus Ipul mengatakan tidak semua penyandang disabilitas berada dalam kondisi rentan secara ekonomi.
“Dengan data yang makin akurat, insyaallah intervensi kita juga makin akurat,” ujarnya.

Permasalahan dalam Implementasi Program MBG
Selain itu, ada beberapa tantangan dalam pelaksanaan program MBG. Salah satunya adalah pemborosan buah dan sayuran yang disediakan. Menurut PERSAGI, konsumsi buah dan sayur MBG hanya mencapai 5 persen dari total yang disediakan.
Selain itu, selama Ramadan, program MBG juga diberikan kepada masyarakat tertentu, seperti anak hasil pernikahan dini dan putus sekolah. Makanan yang disiapkan bisa bertahan hingga 12 jam, cocok untuk kebutuhan buka puasa.
Program MBG ini dirancang untuk membantu masyarakat yang kurang mampu, terutama mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Dengan pendekatan yang tepat dan akurasi data yang baik, diharapkan program ini bisa memberikan dampak positif yang nyata.
Bagikan ke:
