Tantangan dan Strategi Industri Perbankan Digital di Tahun 2026
Industri perbankan digital di Indonesia menghadapi berbagai tantangan pada tahun 2026 ini, terutama akibat ketidakpastian ekonomi dan permintaan kredit yang masih lemah. Hal ini memaksa bank-bank digital untuk lebih hati-hati dalam menjalankan operasionalnya agar kinerja tetap terjaga.
Salah satu contohnya adalah PT Allo Bank Indonesia Tbk. Perusahaan ini memilih untuk menahan laju ekspansi kredit guna menjaga kualitas aset. Hingga Oktober 2025, kredit Allo Bank tercatat sebesar Rp8,36 triliun atau tumbuh sebesar 5,28% secara tahunan dari Rp7,94 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini jauh lebih moderat dibandingkan agresivitas saat awal bisnis digital berkembang.
Head of Digital Strategy Allo Bank, Destya D. Pradityo, menjelaskan bahwa pengetatan ekspansi bukan disebabkan oleh permintaan yang lemah, melainkan strategi mitigasi risiko. Ia menegaskan bahwa setiap ekspansi pembiayaan harus memiliki profil risiko yang terukur dan berbasis data transaksi nasabah.
Ke depan, Allo Bank akan fokus pada pembiayaan konsumsi ritel berbasis ekosistem seperti paylater serta kredit digital berperputaran cepat. Segmen mass affluent dan emerging middle class menjadi target utama.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk, Anton Hermawan, optimistis prospek perbankan akan membaik pada 2026. Hal ini didukung oleh stabilitas kebijakan fiskal dan moneter serta peningkatan aktivitas ekonomi. Krom Bank menargetkan pertumbuhan kredit dan laba dua digit tahun depan dengan strategi channeling bersama mitra.
Fokus penyaluran kredit diarahkan ke UMKM, konsumsi produktif, dan pembiayaan ritel melalui produk Krom Kredit. Selain pembiayaan, bank digital juga bersaing lewat penawaran bunga deposito tinggi demi menarik dana masyarakat.
Destya mengakui bahwa strategi ini membuat biaya dana meningkat, tetapi tetap diperlukan untuk menjaga likuiditas. Allo Bank kini mulai menurunkan suku bunga deposito maksimal menjadi 5,5% dari sebelumnya 7,5%. Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas bunga penjaminan LPS sebesar 3,5%.
Per Oktober 2025, beban bunga Allo Bank mencapai Rp341,73 miliar dengan cost of fund sekitar 3,5%. Di sisi lain, Krom Bank masih bertahan dengan bunga deposito tinggi pada kisaran 7% hingga 8,5% demi memperluas basis dana. Strategi ini dinilai terukur dan tetap menguntungkan.
Hingga November 2025, laba sebelum pajak Krom Bank tercatat sebesar Rp179 miliar, tumbuh 8% secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, industri perbankan digital tetap mampu menunjukkan pertumbuhan yang stabil.

Pengamat dinamika ekonomi politik atas fenomena dan realitas sosial. Menekuni ruang bedah regulasi untuk melihat bagaimana kebijakan politik membentuk wajah ekonomi kerakyatan, menaruh atensi pada penerjemahan kompleksitas dunia finansial global-domestik, dan arah kebijakan serta dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat.







