
Pengantar Prosa
Dia suka melihatmu maju dan produktif
Dia suka melihatmu senang dan kreatif
Dia ingin kamu berkembang ke yang lebih baik
Dia suka memberikan solusi di antara masalah yang sedang dihadapi
Dia tidak terus menerus menyalahkan kamu dalam setiap keadaan
Dia akan menyampaikan secara langsung dalam empat mata, mengenai unek-uneknya kepadamu.
Dia suka memberikan masukan dengan tujuan kamu lebih baik dari sebelumnya ( cara menyampaikan dengan private dan dengan nada dan bahasa yang baik), sehingga membuatmu tidak merasa berkecil hati /merasa bersalah.
Dia tidak mencelamu dan tidak menghakimimu, dia berusaha memahamimu dan meresapi apa yang sedang kau rasakan, dia meyakinkanmu jika kau tak pernah benar-benar terjatuh sendirian, dia peduli padamu karena dia yakin kau memiliki sisi indah yang berharga, yang dia tahu hanyalah ingin melihatmu utuh dan berharga, tidak ada yang dia minta, selain melihatmu melanjutkan kehidupan dengan hati yang merdeka.
Dia yang membelamu baik di depan maupun di belakang. Dia sangat paham dan tau letak atau posisi duduk perkara, siapa yang layak dibela atau tidak. Dia tidak bisa memihak kesana-kemari, terhadap apa atau siapa yang tidak cocok dengan hati sekaligus instingnya. Dia punya posisi yang jelas dan tidak membuatmu bingung. Dan dia sama sekali tidak membenci oposisi yang tidak dipihaknya, yang dia benci adalah isi kepalanya sendiri, karena dia tidak sanggup mendamaikan siapapun, tidak mampu mem-fix- kan siapapun, itulah yang selalu berputar-putar di kepalanya, hingga membuatnya overthinking.
Dia juga tidak akan merendahkanmu secara verbal. Namun, dia bisa brutal secara verbal pada orang yang menurutnya senewen.
Ya…dia yang kita maksud pasti ada di hidup kita. Datangnya tidak selalu menetap di hidupmu. Bisa jadi ia menetap, bisa jadi ia menghilang. Tapi, kau akan benar-benar merasakan ketulusannya saat ia sudah tidak hadir lagi dihidupmu.
Kenapa aku berkata demikian? Sebab aku merasakan sendiri, dipertemukan Satu atau Dua orang yang begitu baik, saat beliau hidup, aku tidak menyadari kehadirannya, namun ketika beliau dipanggil Tuhan selamanya, hatiku berteriak memutlakkan ketulusannya. Rindu berharap beliau kembali.
Oleh karena itu, jika kamu bertemu dengan kriteria orang- orang yang sudah kusebutkan di atas. Jangan buru-buru dianggap ada maunya, palsu atau serentetan label tidak layak, hanya karena kamu trauma bertemu dengan orang-orang yang tak beradab sebelumnya. Karena barangkali, yang ia lakukan adalah sebagaimana adanya dengan apa yang di dalam hatinya. Atau bisa jadi, dia mengurai luka dengan jalan menebar bahagia, agar orang-orang jangan sampai merasakan apa yang sudah ia lalui.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini
Semua punya cacatnya masing-masing, termasuk yang menulis rangkaian kata ini. Tak dipungkiri, bahkan mengakui memiliki cacat yang hanya bisa dilihat dalam pandangan orang lain. Benar adanya semut diseberang lautan terlihat jelas di mata, namun gajah di depan hidung benar-benar tak bisa dilihat sama sekali. Oleh karena itu, sebagaimana yang diperintahkan Sang Pencipta, manusia memang harus saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebaikan.
Kita selalu mendambakan untuk mendapatkan kriteria pasangan/sahabat/kawan/komunitas seperti di atas …
Satu hal yang perlu disadari adalah kita terlebih dahulu yang harus menjadi seperti yang di atas.

The Gift Imperfections: Tentang Menemukan Orang yang Menumbuhkan di Hidup Kita
Catatan Pribadi: Efek setelah membaca buku tentang Imperfect adalah rasa melow, pengen nangis sendiri rasanya, mau galau nggak pantes, soalnya wajah ini terlalu huru-hara cerianya.
Di dalam hidup, kita akan bertemu banyak orang dengan berbagai karakter, cara berpikir, dan cara memperlakukan sesama. Tentunya ada yang hadir hanya untuk singgah sebentar, ada yang datang membawa pelajaran, ada pula yang diam-diam meninggalkan luka tanpa kita sadari.
Namun di antara begitu banyak pertemuan itu, selalu ada seseorang yang kehadirannya terasa berbeda. Sosok yang tidak membuat kita takut menjadi diri sendiri. Sosok yang tidak sibuk menjatuhkan ketika kita sedang berusaha bangkit. Sosok yang justru membantu kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tenang, dan lebih percaya pada diri sendiri.
Cara mengenalinya sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Orang yang tulus tidak merasa terganggu melihatmu berkembang. Ia tidak gelisah ketika melihatmu mulai menemukan potensi diri. Ketika kamu memiliki semangat baru, mencoba hal-hal baru, atau mulai memperbaiki hidupmu sedikit demi sedikit, ia justru ikut merasa senang. Bukan karena ia mendapatkan keuntungan, melainkan karena kebahagiaanmu juga menjadi kebahagiaannya.
Tidak semua orang mampu melakukan itu. Sebab di dunia ini, ada orang yang hanya nyaman ketika melihat orang lain tetap berada di bawahnya. Ada yang diam-diam merasa tidak suka ketika melihat orang lain mulai percaya diri. Ada pula yang gemar mengecilkan pencapaian orang lain agar dirinya tetap terlihat paling unggul. Karena itulah, seseorang yang benar-benar mendukung pertumbuhanmu adalah anugerah yang tidak bisa dianggap biasa.
Orang yang baik tidak akan membuatmu merasa bersalah karena memiliki mimpi. Ia tidak mematahkan semangatmu dengan kalimat yang merendahkan. Ketika kamu ingin belajar sesuatu, mencoba usaha baru, memperbaiki diri, atau menata hidup dengan lebih baik, ia hadir memberi dukungan, bukan mengejek kegagalan yang mungkin terjadi. Bahkan saat kamu belum berhasil, ia tidak menjadikan kegagalanmu sebagai bahan hinaan. Ia memahami bahwa setiap manusia sedang berproses. Hai orang baik…Kamu ya orangnya yang lagi baca tulisan ini? Iya…kamu semuanya.
Sikap seperti itu lahir dari hati yang matang. Karena seseorang yang dewasa secara emosional tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain. Ia mengerti bahwa hidup bukan perlombaan untuk saling menjatuhkan. Tidak perlu membuat orang lain kecil agar dirinya terlihat besar. Tidak perlu merusak kepercayaan diri orang lain demi mendapatkan pengakuan. Ia bukan tidak suka perlombaan, ia suka kompetisi, namun kompetisi yang sehat.
Kehadiran orang-orang seperti ini biasanya membuat hidup terasa lebih ringan. Bukan karena masalah tiba-tiba hilang, melainkan karena kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Saat sedang lelah, mereka tidak datang membawa penghakiman. Saat hati sedang rapuh, mereka tidak menambah luka dengan ucapan yang menyakitkan. Mereka mendengarkan tanpa tergesa-gesa menyalahkan. Mereka mencoba memahami sebelum berbicara.
Di zaman sekarang, banyak orang mudah memberikan komentar, tetapi sedikit yang benar-benar mau memahami keadaan orang lain. Tidak semua orang yang terlihat diam berarti lemah. Tidak semua yang tersenyum berarti baik-baik saja. Ada orang yang setiap hari sedang berjuang melawan pikirannya sendiri, menyembunyikan kecewa, memendam lelah, bahkan tetap tersenyum di tengah masalah yang tidak diketahui siapa pun.
Karena itu, cara kita memperlakukan orang lain sebenarnya sangat penting.
Seseorang yang tulus menyayangimu tidak akan menikmati melihatmu hancur secara perlahan. Ia tidak terus menerus mengungkit kesalahan lama hanya untuk membuatmu merasa buruk tentang diri sendiri.
Ia tidak menjadikan kekuranganmu sebagai bahan sindiran di depan banyak orang. Sebab ia tahu bahwa luka dari ucapan sering kali bertahan jauh lebih lama dibanding luka fisik.
Banyak orang terlihat baik di depan, tetapi berbeda ketika berada di belakang. Terkadang beberapa orang memang ada yang memuji saat berhadapan langsung, tetapi diam-diam ikut menjatuhkan ketika berkumpul dengan orang lain. Ada pula yang seolah peduli, padahal sebenarnya senang melihatmu berada dalam kesulitan. Karena itu, salah satu tanda ketulusan bisa terlihat dari bagaimana seseorang menjaga namamu ketika kamu tidak ada di tempat.
Nasihat memang penting, tetapi cara menyampaikan juga menentukan apakah seseorang akan bertumbuh atau justru terluka. Orang yang bijak memahami bahwa setiap manusia memiliki harga diri. Ia tidak sengaja mempermalukan orang lain demi terlihat paling benar. Ia memilih berbicara dengan baik, menjaga nada suara, dan memikirkan perasaan lawan bicara. Bahkan ketika sedang kecewa, ia tetap berusaha menjaga sikap.
Berbeda dengan orang yang gemar merendahkan secara verbal. Mereka sering menganggap ucapan menyakitkan sebagai candaan biasa. Padahal tidak semua luka terlihat jelas. Ada orang yang kehilangan rasa percaya diri karena terlalu sering diremehkan. Ada yang menjadi takut berbicara karena terbiasa dibungkam. Ada yang perlahan merasa dirinya tidak berharga karena terlalu lama hidup di sekitar kata-kata yang menjatuhkan.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik. Tidak ada manusia yang selalu sepemikiran. Akan ada perbedaan, kesalahpahaman, bahkan pertengkaran. Namun yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat adalah bagaimana masalah diselesaikan. Apakah saling mencari solusi, atau justru saling melukai. Apakah berusaha memahami, atau hanya ingin menang sendiri.
Seseorang yang obyektif tidak sibuk menghitung siapa paling benar. Sebaliknya, ia membantu dirimu menemukan kembali nilai yang mungkin sempat hilang karena terlalu sering diremehkan oleh keadaan.
Kita mendambakan sosok sempurna, padahal hubungan yang baik selalu dimulai dari diri sendiri. Jika ingin diperlakukan dengan baik, maka belajarlah memperlakukan orang lain dengan baik. Jika ingin dihargai, maka mulailah menghargai orang lain. Jika ingin dimengerti, maka biasakan memahami sebelum menghakimi. Dunia memang tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi setidaknya kita bisa memilih menjadi manusia yang tidak menambah luka bagi sesama.
Menjadi orang baik bukan berarti harus selalu sempurna. Semua manusia pasti pernah salah, pernah emosi, pernah kecewa, dan pernah melukai tanpa sengaja. Namun ada perbedaan besar antara orang yang mau belajar memperbaiki diri dengan orang yang terus merasa benar meski berkali-kali menyakiti orang lain. Kedewasaan terlihat dari kemampuan mengakui kesalahan, memperbaiki sikap, konsistensi perubahan tindakan dengan apa yang sudah disesalinya dan belajar menjaga hati sesama.
Kadang seseorang tidak membutuhkan bantuan besar. Ia hanya membutuhkan didengar tanpa dihakimi. Ia hanya ingin dipahami tanpa terus disalah sangkakan atau disalah-salahkan terus menerus. Ia hanya ingin memiliki tempat pulang yang membuatnya merasa diterima. Hal-hal sederhana seperti itu sering kali jauh lebih berharga dibanding hadiah mahal, uang jutaan, kue mahal, barang branded atau kata-kata manis semanis gula aren.
Dalam hidup, kita mungkin tidak bisa memilih semua orang yang hadir di sekitar kita. Namun kita bisa memilih siapa yang pantas tinggal lebih dekat dengan hati. Pilihlah orang-orang yang membawa ketenangan, bukan yang membuatmu terus mempertanyakan nilai dirimu sendiri. Dekatlah dengan mereka yang mendukung pertumbuhanmu, bukan yang diam-diam menikmati keterpurukanmu.
Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang siapa paling hebat atau paling sempurna. Hubungan yang sehat adalah tentang sesama manusia yang sama-sama belajar menjaga, menghargai, dan menumbuhkan satu sama lain.
Tentang hadir tanpa menjatuhkan.
Tentang menguatkan tanpa merendahkan.
Dan bila hari ini kamu masih bertemu dengan orang-orang yang sering membuatmu merasa kecil, jangan buru-buru membenci diri sendiri. Bisa jadi kamu hanya berada di lingkungan yang belum tahu cara menghargai ketulusanmu. Kamu juga tidak perlu meyakinkan apapun kepada mereka jika perbuatanmu tidak otentik. Cukup hanya kau dan Tuhan yang tahu isi di dalam hatimu, cukup hanya Tuhan yang memandang niatmu. Dan biarlah waktu yang menjawabnya.
Tetaplah bertumbuh. Tetap menjadi pribadi yang baik tanpa kehilangan batas untuk menjaga diri.
Sebab dunia mungkin tidak selalu ramah, tetapi hati yang baik akan selalu menemukan jalannya untuk dipertemukan dengan hati baik lainnya. Dan sebelum berharap dipertemukan dengan orang-orang yang menenangkan, jangan lupa belajar menjadi seseorang yang juga mampu memberikan keteduhan bagi orang lain.
Dicatat oleh seseorang yang masih perlu belajar dan suka pembelajaran.

Seorang guru Bahasa Inggris di sekolah swasta yang juga aktif sebagai Tentor literasi Bahasa Inggris. Suka membaca, diskusi, deep talk, menulis, menonton film kemudian menyelami narasinya, jalan-jalan, dan seorang yang antusias pada olahraga, sebab kombinasi antara intelektual dan latihan fisik konsisten adalah motor penggerak utama dalam berkarya.








Aku bangga padamu.
Aku percaya tujuan tulusmu saat menulis.