Sumber: Foto PNGtree.
Opini Adikarto, — Karma sering diucapkan sebagai bentuk pembalasan. Dalam agama Buddha sendiri, karma (Pali: kamma) merujuk pada tindakan yang didorong oleh niat (cetanā), yang menghasilkan konsekuensi harapan di masa depan, baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang melalui reinkarnasi.
Sedangkan dalam Islam sendiri tidak ada konsep karma dalam arti luas yang dipahami dalam agama lain seperti Buddha. Islam memiliki konsep balasan atas perbuatan baik atau buruk.
Karma sejatinya adalah balasan, namun sebuah konsep karma yang out of the box pernah disampaikan oleh salah satu teman lama saya. Dia berkata bahwa mungkin sebenarnya Karma datang kepada mereka yang tidak sadar dengan kesalahannya, yang akhirnya membuat mereka tersadar.
Sebaliknya, karma tidak akan datang kepada yang sudah mengingat akan kesalahannya di masa lalu, menyadari dan mengakui. Hal itu yang pada akhirnya membuat saya berpikir dan menggugatnya ulang.
Benarkah Karma sebetulnya hanya datang sebagai pengingat saja? Dan benarkah Karma akan menghindar dari orang-orang yang sudah sadar akan kesalahannya?
Saya sempat memperdebatkan ini dengan dia. Saya merasa bahwa karma, baik atau buruk seperti sebuah koneksi dengan jantung semesta. Karma akan bekerja seperti hukum fisika Newton III tentang aksi dan reaksi.
Hukum Newton III menyatakan bahwa untuk setiap aksi (gaya yang diberikan pada suatu benda), selalu ada reaksi (gaya yang timbul sebgai respons) yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan. Intinya sama persis dengan hukum tabur tuai. Apa yang ditanam itulah yang akan dipetik.
Semesta sepertinya sudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk melakukan pembalasan atas tindakan salah satu penghuninya. Baik kepada hewan, tumbuhan, sesama manusia, bahkan alam sekalipun. Tentunya bagi kita yang percaya Tuhan, karma hanya akan terjadi atas izin Tuhan.
Teman saya meyakini bahwa karma datang hanya sebagai pengingat. Saya tidak membantah itu salah, toh kita tidak pernah benar-benar tau hukum Tuhan yang sebenarnya di balik kenyataan semesta ini. Bahkan bisa jadi, semesta ini sebenarnya sistem simulasi. Who knows?
Teman saya berpendapat jika suatu hari kita berbuat kesalahan dan kita tidak menyadari bahwa itu salah, maka karma akan datang sebagai pengingat namun waktunya lebih lama. Tidak pernah lebih parah dari azab karena Tuhan Maha Baik. Saya setuju tanpa ada keraguan di bagian Tuhan itu Maha Baik. Dia penuh dengan cinta tulus, dan kasih-Nya tidak akan pernah bisa diragukan.
Namun untuk pendapat dia mengenaii karma, saya belum terlalu sepakat atau lebih tepatnya belum tau juga bagaimana konsep karma berjalan. Menurutnya, karma adalah makhluk juga yang digerakkan oleh Tuhan sebagai pengingat. Sama seperti fungsi malaikat atau setan, misinya membawa sebuah hal untuk mengingatkan manusia.
Hal itu sedikit terdengar tidak logis jika saya menggunakan logika berpikir saya yang terbatas ini. Betapa Tuhan membiarkan hambanya tetap berjalan dengan indah di muka bumi ini setelah melakukan ketidakadilan, dia dia terhindar dari hukuman hanya karena dia sadar. Sungguh Maha Pengampun sekali.
Namun jika konsepnya berjalan seperti itu, maka gugurlah satu sifat Tuhan – menurut saya – yaitu Tuhan Maha Adil.
KeadilanNya akan sangat mudah dipertanyakan jika berdasarkan kesadaran, seseorang dapat lolos dari karma. Jika begitu, semestinya banyak orang yang harusnya diingatkan agar sadar dengan kesalahannya agar bisa terhindar dari karma. Jika manusia bersikap sosial dan saling membantu atau mengingatkan, maka akan sangat sedikit karma yang turun di bumi ini.
Karma, sejujurnya bagi saya adalah sebuah misteri. Tidak ada yang tahu betul apakah yang menimpa kita benar-benar karma dari masa lalu atau memang hanya sebagai ujian saja dari Tuhan. Namun, satu hal yang mungkin dapat kita ambil dari statement teman saya itu, bahwa ketika kita mempertanyakan hal yang menimpa kita sebagai karma atau bukan, setidaknya kita bisa sadar bahwa hal yang kita lakukan itu salah.
“apakah ini karma dari perbuatanku yang itu?”
Hal tersebut mendorong kita untuk setidaknya mengingat, atau bahkan meminta maaf kepada siapa saja yang kita sakiti saat itu. Atau bahkan mengucapkan terima kasih jika kita memang pernah dibantu dan lupa mengucapkan syukur itu.
Karma, baik atau buruk– bisa bermakna berbeda bagi setiap orang. Tergantung cara memaknainya. Bisa jadi Kama adalah bentuk hukuman, atau sekedar pengingat agar selalu berbuat baik agar kita mendapat kebaikan yang sama.
Karma bukan berarti nasib yang telah Tuhan tentukan, namun Karma lebih sebagai konsekuensi atas pilihan dan tindakan seseorang. Sebagai makhluk yang saling bersosialisasi, tidak ada salahnya untuk berbuat baik agar menuai segala perlakuan baik juga dari semesta.
Tidak peduli bagaimanapun karma bekerja, mungkin berlomba dalam kebaikan bisa mendatangkan ‘karma’ baik buat kita.
Once again, who knows –
Bagikan ke:

0 thoughts on “Benarkah Karma Hanya Akan Datang Kepada Mereka yang Belum Sadar?”