Ilustrasi sampul cerpen oleh Digna Viee Anggie
Pengalaman Jurnalis di Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi
Aku duduk di bangku kayu panjang ruang sidang Mahkamah Konstitusi negara, Rabu itu, 14 Januari 2026, dengan buku catatan yang kertasnya sudah mulai kusut oleh keringat dan kecemasan. Ruangan terasa dingin, tapi pikiranku penuh bunyi—detak jam, dengus napas pengunjung, dan suara-suara dari masa lalu yang tak pernah benar-benar diam. Aku jurnalis, perempuan muda, ibu dari tiga anak. Idealismeku sering dipuji di kampus dulu, tapi hari ini ia terasa seperti beban yang kupanggul sendirian.
Sidang uji materiil Undang-Undang TNI itu dibuka dengan agenda keterangan saksi. Namanya Eva Meliani Pasaribu. Ketika ia berdiri, tubuhnya tampak rapuh, tapi suaranya tidak. Aku menatapnya dari kejauhan, dan entah mengapa bayangan anak-anakku muncul satu per satu: rambut mereka yang masih bau matahari sore, seragam sekolah yang sering terlupa kusetrika, dan pertanyaan polos yang selalu mereka ajukan—“Ibu pulang jam berapa?”
Kehidupan Seorang Jurnalis
Eva seorang perempuan bercerita tentang ayahnya, Riko Sempurna Pasaribu, wartawan. Kata “wartawan” itu menghantam dadaku lebih keras daripada detail pembakaran yang ia sebutkan dengan nada datar, seolah luka itu sudah lama membeku. Ayahnya menulis tentang bisnis judi yang diduga dibekingi oknum TNI. Ia menulis, seperti aku menulis: dengan keyakinan bahwa kebenaran harus dicatat, meski tangan gemetar.
Aku mencatat cepat, tapi tanganku bergetar. Ingatanku melompat ke masa lalu—malam ketika aku menolak menurunkan berita tentang penggusuran paksa. Redaktur memanggilku idealis, suamiku waktu itu memintaku realistis. “Kita punya anak,” katanya. Kami bertengkar. Kami berpisah. Aku memilih tetap menulis, dan sejak itu setiap keputusan terasa seperti perjudian dengan masa depan tiga anakku.
Kesaksian yang Menggugah
Eva melanjutkan kesaksiannya. Sebelum peristiwa pembakaran, ayahnya didatangi seorang prajurit TNI, Koptu Herman Bukit. Permintaan sederhana tapi mengancam: turunkan berita itu. Aku menelan ludah. Aku pernah menerima telepon serupa, meski tanpa seragam. Suara di ujung sana ramah, terlalu ramah. Sejak itu aku selalu memeriksa kaca spion lebih sering, untuk pembelajaran.
Eva menyoroti perbedaan perlakuan hukum. Pelaku sipil diproses terbuka. Militer? Tertutup, minim informasi, tanpa pengawasan publik. Kata-kata itu bergaung di kepalaku seperti judul berita yang tak pernah dimuat. Aku menulisnya dengan tinta tebal, seolah ketebalan huruf bisa memberi keadilan.
Perjalanan Waktu dan Pertanyaan yang Tak Pernah Berakhir
Waktu terasa melipat. Aku kembali ke pagi hari sebelum berangkat sidang: menyiapkan bekal, mencium kening anak-anak, dan menahan rasa bersalah. Bagaimana jika suatu hari aku tak pulang? Bagaimana jika idealisme ini menelan mereka? Pertanyaan itu menghantui, tapi kini bercampur dengan wajah Eva—yang kehilangan ayah, ibu, adik, dan anaknya dalam satu malam. Ia berdiri tegak. Aku yang masih punya segalanya, mengapa gemetar?
Kesaksian berakhir. Di luar ruang sidang, linimasa media sosial riuh. Dukungan mengalir, doa dipanjatkan, kemarahan diluapkan. Aku membaca komentar-komentar itu sambil menunggu konferensi pers. Ada yang menulis bahwa energinya luar biasa, bahwa ia sendirian di atas bumi tapi tetap lantang. Aku menutup ponsel. Kata-kata mudah ditulis; keberanian sulit dijalani.
Menulis dengan Keyakinan
Aku menulis laporanku malam itu, setelah anak-anak tidur. Alur pikiranku maju-mundur—antara fakta persidangan dan denyut psikologis yang tak bisa kusembunyikan. Aku menulis tentang harapan Eva agar Mahkamah Konstitusi mempertimbangkan uji materiil UU TNI, agar tak ada lagi perbedaan perlakuan hukum, agar kebebasan pers dilindungi. Aku juga menulis tentang diriku, meski tak kucantumkan namaku: jurnalis yang takut, tapi tetap datang.
Ketika naskah terkirim, aku mematikan laptop dan menatap wajah anak-anakku yang terlelap. Idealismeku belum selesai; ia hanya belajar bernapas lebih pelan. Jika suatu hari mereka bertanya mengapa ibunya memilih jalan ini, aku ingin bisa menjawab: karena ada Eva yang berdiri tegak, dan karena kebenaran—meski berisiko—masih layak diperjuangkan, untuk kita semua.
Bagikan ke:
