Keluarga Deden Maulana Mengalami Duka Mendalam
Keluarga Deden Maulana, salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport (IAT) yang hilang kontak di Sulawesi Selatan, kini sedang berada dalam masa duka yang sangat berat. Di kediamannya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, suasana terasa sangat menyedihkan, terutama bagi istri dari korban yang masih mengalami syok berat.
Kondisi psikis yang belum stabil membuat sang istri tidak bisa ikut serta dalam proses identifikasi di Makassar. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh ayah kandung Deden, Mukhsin, yang menyebut bahwa menantunya tersebut masih sangat terpukul atas musibah yang menimpa suaminya.
Untuk mempercepat proses identifikasi, tim medis membutuhkan data dari keluarga sedarah. Adik perempuan Deden akhirnya diutus untuk terbang menuju Makassar. “Adiknya Deden yang perempuan berangkat sama suaminya. Katanya harus yang sedarah,” ujar Mukhsin, Senin (19/1).
Kondisi Istri Deden yang Masih Terpukul
Terkait kondisi menantunya, Mukhsin mengungkapkan bahwa istri Deden masih dalam keadaan terguncang. Ia memilih untuk tetap tinggal di rumah demi menenangkan diri. “Kalau istrinya Deden ada di rumah, dia masih shock,” katanya.
Meski tidak menunjukkan reaksi yang meledak-ledak, kesedihan mendalam terlihat jelas dari raut wajah ibu dari anak-anak Deden tersebut. “Biasa-biasa aja gitu. Tapi kelihatannya emang itu, kayak berduka gitu,” tambah Mukhsin.
Tim Identifikasi Meminta Foto Deden Saat Tersenyum
Saat ini, keluarga diminta untuk melengkapi berbagai data penting guna keperluan proses identifikasi fisik dan DNA. Data tersebut mencakup dokumen resmi hingga ciri fisik yang sangat spesifik untuk dicocokkan oleh tim medis.
“Barusan itu menelepon, minta dikirim data-datanya Deden Maulana,” ungkap Mukhsin. Selain dokumen kependudukan seperti ijazah dan Kartu Keluarga (KK), tim medis juga meminta foto terakhir Deden yang memperlihatkan struktur giginya secara jelas.
“Termasuk foto yang lagi tersenyum, yang kelihatan gigi,” tutur Mukhsin dengan nada lirih.
Menanti Titik Terang di Pegunungan Bulusaraung
Hingga hari ketiga pasca-hilangnya kontak pesawat di wilayah pegunungan Bulusaraung, Maros-Pangkep, pihak keluarga mengaku belum mendapatkan informasi pasti mengenai kondisi Deden. Mukhsin mengenang bahwa tidak ada firasat apa pun sebelum putra tercintanya berangkat tugas.
“Enggak ada apa-apa, enggak ada tanda-tanda,” ucapnya mengenang momen keberangkatan Deden.
Keluarga besar kini hanya bisa berdoa dan memantau perkembangan tim SAR di lapangan, berharap ada keajaiban meskipun kecil. “Sampai sekarang belum ada beritanya. Kami masih menunggu kabar yang benar. Harapan kami semoga cepat ditemukan dan ada kabar yang menggembirakan,” pungkasnya.
Sebagai informasi, pesawat ATR 42-500 tersebut mengangkut 10 orang, terdiri dari 7 kru dan 3 penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Bagikan ke:
