Profil Rektor UNIMA, Dr. Joseph Philip Kambey
Dr. Joseph Philip Kambey adalah sosok yang kini menjadi perhatian publik setelah kasus kematian mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA), Evia Maria Mangolo, menimbulkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan civitas akademika. Sebagai rektor UNIMA, ia langsung bertindak cepat dengan memberhentikan sementara dosen DM yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap korban.
Joseph Kambey lahir pada 6 Maret 1976 di Filipina. Ia menikah dengan Jeannet Kumaat dan dikaruniai tiga anak, yaitu Joanne, Jade, dan Jocelyn. Pendidikan akademiknya dimulai dari S1 di Universitas Samratulangi (Unsrat) Manado dengan jurusan Akuntansi. Setelah itu, ia melanjutkan studi S2 di Adventist International Institute of Advanced Studies dengan program Bisnis Administrasi. Joseph Kambey kemudian meraih gelar S3 di Universitas Negeri Jakarta dalam program studi Manajemen.
Karier akademiknya dimulai sebagai Sekretaris Program Studi S2 Pendidikan Ekonomi di UNIMA pada 2016. Ia kemudian menjabat sebagai Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Universitas Prisma pada 2018, anggota Board Member Unklab Airmadidi, serta Ketua Badan Kerja Sama Luar Negeri UNIMA pada periode 2020-2022.
Selama mengajar, Joseph Kambey telah menghasilkan 19 karya ilmiah dan 4 buku serta mengampu ratusan mata kuliah baik di jenjang Strata 1 maupun Strata 2. Dengan pangkat fungsional Lektor Kepala, ia memiliki keahlian di bidang Manajemen, Akuntansi, dan Manajemen Keuangan.
Sebelum terpilih sebagai rektor, Joseph Kambey menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIMA. Pada 23 Januari 2025, ia terpilih sebagai Rektor UNIMA dengan meraih 28 suara, mengungguli Recky Harold Elby Sendouw yang meraih 14 suara dan Dr. Ignatius Javier Couturier Tuerah yang memperoleh 6 suara.
Sebagai rektor terpilih, Joseph Kambey bertekad membawa UNIMA menjadi perguruan tinggi unggul, mandiri, dan kompetitif dengan fokus pada standarisasi dan internasionalisasi kurikulum, percepatan akreditasi unggul dan internasional, peningkatan kompetensi dan linieritas keilmuan dosen, serta pengembangan kreativitas dan prestasi mahasiswa sesuai kebutuhan nasional dan global.
Ia juga berkomitmen memperkuat kerja sama dalam dan luar negeri untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan di UNIMA, dengan tujuan mewujudkan pendidikan yang unggul dalam bidang akademik dan non-akademik demi terciptanya Indonesia Maju.
Kronologi Kematian Evia Maria Mangolo
Evia Maria Mangolo, mahasiswi UNIMA, ditemukan meninggal dunia di sebuah indekost di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, pada Selasa (30/12/2025). Peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita oleh pemilik kost berinisial YR. YR mendapat informasi dari salah satu penghuni kost bahwa ada seorang penghuni yang ditemukan meninggal. YR segera menuju lokasi dan melihat Evia berada di depan pintu masuk kost dalam kondisi sudah meninggal.
YR kemudian menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut. Personel Polsek Tomohon Tengah bersama tim identifikasi Polres Tomohon langsung mendatangi lokasi dan melakukan olah TKP. Kasat Reskrim Polres Tomohon, IPTU Royke Mantiri, menyatakan pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Jenazah Evia Maria Mangolo kemudian diotopsi di RS Kandou Manado, Sulawesi Utara, pada Rabu (31/12/2025).
Keputusan tersebut diambil setelah keluarga menemukan sejumlah luka membiru di tubuh almarhumah. Setelah kematian Evia, oknum dosen FIPP UNIMA berinisial DM menjadi sorotan publik terkait dugaan pelecehan seksual terhadap korban. Hal itu diduga membuat Evia Maria Mangolo depresi hingga akhirnya nekat mengakhiri hidup di kosnya.
Dugaan itu muncul setelah beredarnya tulisan tangan korban perihal pengaduan dugaan tindak pelecehan seksual. Surat itu ditujukan kepada Dekan FIPP UNIMA terkait adanya dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum dosen UNIMA inisial DM.
Bagikan ke:
