Peran Rusia sebagai Mediator dalam Ketegangan di Iran
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengadakan percakapan telepon terpisah dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Jumat (16/1/2026). Dalam percakapan tersebut, Putin menyatakan bahwa Moskow bersedia berperan sebagai mediator untuk membantu meredakan ketegangan di kawasan tersebut. Ia menekankan pentingnya dialog konstruktif antara negara-negara yang terlibat.
Dalam percakapan dengan Netanyahu, Putin menyampaikan kesediaannya untuk melanjutkan upaya mediasi dan mendorong dialog dengan melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan. Di sisi lain, ia juga mendapat pengarahan dari Pezeshkian mengenai upaya Teheran untuk menormalkan situasi di Iran. Kremlin menyatakan bahwa Rusia dan Iran secara bulat dan konsisten mendukung upaya penurunan eskalasi ketegangan—baik yang terkait dengan Iran maupun di kawasan secara keseluruhan—sesegera mungkin, serta penyelesaian setiap persoalan melalui cara-cara politik dan diplomatik semata.
Rusia terus mempererat hubungan dengan Iran sejak dimulainya perang di Ukraina. Tahun lalu, Putin menandatangani perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Pezeshkian. Moskow juga telah lama menjalin hubungan kerja sama dengan Israel.
Ancaman Serangan AS dan Potensi Konflik Regional
Gelombang protes melanda Iran sejak 28 Desember, dipicu oleh melonjaknya inflasi sebelum berkembang menjadi seruan untuk mengakhiri pemerintahan ulama. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS), melaporkan sedikitnya 3.090 orang, termasuk 2.885 pengunjuk rasa, tewas dalam kerusuhan di Iran.
Presiden AS, Donald Trump, telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer untuk mendukung para pengunjuk rasa di Iran, sebuah langkah yang dikecam Moskow. Namun, pekan ini, sikap Trump mulai melunak setelah diberitahu bahwa pembunuhan terhadap pengunjuk rasa di Iran mulai mereda dan tidak ada rencana untuk mengeksekusi para tahanan.
The New York Times juga melaporkan bahwa Netanyahu meminta Trump untuk menunda kemungkinan tindakan militer terhadap Iran. Sejumlah pejabat tinggi dari Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir juga mendesak Washington untuk menahan diri, dengan memperingatkan bahwa serangan semacam itu dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
Tahun lalu, Israel dan AS mengebom situs nuklir Iran. Iran juga terlibat perang selama 12 hari dengan Israel.
Penolakan SCO terhadap Campur Tangan Pihak Luar
Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) menyatakan penolakan terhadap campur tangan pihak luar di Iran. Mereka menyalahkan sanksi Barat sebagai penyebab terjadinya krisis di Iran. Pernyataan SCO menyebutkan bahwa penerapan sanksi sepihak telah berdampak negatif secara signifikan terhadap stabilitas ekonomi negara, menyebabkan memburuknya kondisi kehidupan masyarakat, serta secara objektif membatasi kemampuan Pemerintah Republik Islam Iran dalam melaksanakan langkah-langkah guna memastikan pembangunan sosial dan ekonomi negara.
Negara-negara Barat, termasuk AS dan Uni Eropa (UE), telah menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi terhadap Iran, dengan menuduh negara tersebut mempunyai agenda rahasia untuk mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan ini berulang kali dibantah oleh Teheran. Sementara itu, Rusia menyatakan dukungannya terhadap hak Iran untuk mengembangkan energi nuklir demi tujuan damai.
Ancaman Kehilangan Sekutu bagi Rusia
Setiap ancaman terhadap kelangsungan kepemimpinan Iran akan menimbulkan kekhawatiran serius bagi Moskow. Sebelumnya, negara itu kehilangan sekutu penting lainnya di Timur Tengah menyusul tumbangnya Presiden Suriah, Bashar al-Assad pada Desember 2024. Awal bulan ini, sekutu Rusia lainnya, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ditangkap oleh AS dan dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba.
“Rusia telah memberikan bantuan tidak hanya kepada Iran, tetapi juga kepada seluruh kawasan, dan demi terciptanya stabilitas dan perdamaian regional. Hal ini sebagian berkat upaya presiden untuk membantu meredakan ketegangan,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, saat ditanya mengenai dukungan apa yang bisa diberikan Rusia kepada Iran.
Bagikan ke:
