
DELUSI
cinta tanpa perbuatan
maaf tanpa perubahan
Puisi itu hanya terdiri dari dua baris kalimat, yang aku tuliskan sekitar setahun yang lalu. Tapi percayalah, dua baris itu lahir dari tumpukan rasa yang lama mengendap.
Bukan soal siapa-siapa, tapi soal hal-hal yang bikin aku diam lama dan merenung, tentang sebuah kepedulian yang katanya tulus, tapi kok rasanya makin luka. Tentang kata “maaf” yang sering diucap, tapi tanpa upaya untuk benar-benar berubah.
A. Cinta Tanpa Perbuatan
Aku pernah, mungkin kamu juga, mendengar atau menerima kata cinta yang manis. “Aku sayang kamu,” “aku nggak bisa hidup tanpa kamu,” “aku cinta kamu selamanya.” Tapi setelah itu? Nggak ada apa-apa.
Habis bilang cinta, eh malah amnesia, kembali menyakiti, kembali menduakan, kembali berselingkuh. Habis janji manis, tapi benar-benar zonk di perbuatan.
Atau, dalam hubungan yang kita sebut “persahabatan,” ada ucapan yang terdengar hangat:
“Aku peduli sama kamu.”
“Aku nggak mungkin menikam kamu dari belakang.”
Tapi seiring waktu berjalan, kata-kata itu mulai kehilangan maknanya. Ucapan yang dulu terasa tulus, kini terasa seperti topeng. Di balik kepedulian yang katanya tulus, ternyata ada gerakan diam-diam yang menjatuhkan. Di balik sikap manis yang mengaku jujur, justru ada luka yang ditancapkan perlahan… terus-menerus… berkali-kali.
Dan saat luka mulai terasa nyata, saat kepercayaan mulai retak, ia berdalih,
“Aku hanya jujur, aku teman yang mau ngingetin kamu.”
Tapi jujur seperti apa yang menjatuhkan, bukan menguatkan? Yang kamu rasakan valid, jangan abaikan intuisimu, segera sadari, dan tentukan sikap!
Lebih menyakitkan lagi, semua itu dilakukan berulang-ulang. Setelah permintaan maaf, datang pengulangan.
Setelah air mata, datang lagi tuduhan.
Setelah katanya “tidak akan mengulang,” justru makin lihai menyakiti.
Dan saat kamu akhirnya bersuara, menyampaikan betapa kamu lelah, ia justru berkata,
“Memangnya kamu cuma lihat kesalahanku? Semua kebaikan yang sudah aku lakuin ke kamu, kamu lupa ya?” Dan ending-nya kamu yang dituduh, malah kamu yang dicap “buruk” olehnya, kabarnya ia mengeluhkan tentangmu, kepada orang diluar sana bahwa ia mengaku sebagai tertuduh: “aku yang selalu disalah-salahkan.” Ia Men-Twisting kejadian sebenarnya.
Hey… sadar nggak sih, bahwa kalimat itu cuma pembenaran ego semata?
Sadar nggak, bahwa kamu sedang memaksa orang lain menoleransi pola yang sama—yang menyakiti, tapi tetap kamu anggap benar?
Sahabat sejati itu bukan yang menjatuhkan lalu menyuruhmu mengingat kebaikannya.
Bukan yang menuduhmu pelupa ketika kamu menunjukkan luka.
Tapi sahabat sejati adalah yang menyadari kesalahan, berusaha berubah, dan tidak mengulang pola yang sama, dia yang menunjukkan kesalahanmu dan memberikan perbaikkan, sebelum diganyang oleh publik!
Sahabat sejati ialah yang terluka ketika melihatmu dijatuhkan! Bukan malah menyeringai dibelakang!
Sahabat sejati akan meluruskan orang yang menjelekkanmu ketika kamu tidak ada, bukannya malah nimbrung kasih bumbu biar makin sedap kejelekannya! Sahabat sejati adalah dia yang berjalan beriring bersamamu dan tidak akan membuatmu tergelincir, tidak akan membiarkanmu tersesat.
Hanya kamu yang bisa menjawabnya, apakah yang menurutmu sahabat mendatangkan Kekuatan atau justru memupuk rasa bersalah yang berulang-ulang pada hatimu?
Dan kamu…
Kamu perlu tahu, bahwa luka yang diabaikan hanya akan tumbuh menjadi jarak.
Dan suatu hari nanti, mungkin kamu akan sadar, bahwa yang kamu sebut “kejujuran” sebenarnya hanyalah senjata untuk merasa benar sendiri.
Waktu itu aku bertanya, apa cinta cukup diucapkan aja?
Ternyata jawabannya: nggak sama sekali!
Cinta itu bukan cuma kata-kata, tapi tindakan. Cinta itu bukan cuma janji, tapi bukti. Kalau bilang cinta tapi nggak pernah hadir di saat dibutuhkan, apa itu
Aku pernah baca kata-kata indah dari Maya Angelou, katanya begini:
“Love is an action, never simply a feeling.”
Cinta adalah tindakan, bukan sekadar perasaan.
Jleb banget rasanya. Karena ya itu dia, cinta yang nggak diwujudkan dalam perbuatan, hanyalah delusi. Imajinasi yang manis tapi menipu.
B. Maaf Tanpa Perubahan
Lalu, bagian kedua dari puisiku: maaf tanpa perubahan.
Berapa kali kamu pernah dikecewakan oleh orang yang sama, tapi tetap dimaafkan karena katanya “aku janji nggak akan ngulangin lagi”? Tapi kenyataannya, dia mengulangi lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Kalau kamu pernah ada di posisi itu, peluk dari aku ya. Aku pernah juga. Sakitnya bukan cuma karena disakiti, tapi karena berharap dan dikecewakan ulang.
Maaf yang sejati itu bukan di mulut, tapi di hati dan perbuatan. Kalau memang merasa bersalah, mestinya ada usaha buat berubah. Kalau nggak, ya maaf itu cuma jadi kata penenang sementara.
Seperti Lysa TerKeurst bilang:
“Apology without change is just manipulation.”
Permintaan maaf tanpa perubahan hanyalah manipulasi.
Dan saat aku sadar akan hal itu, aku mulai belajar: memaafkan boleh, tapi jangan butakan diri sendiri. Jangan sampai jadi korban terus karena alasan “dia udah minta maaf kok.”
Kenapa judulnya aku memilih diksi “DELUSI”
Karena aku rasa banyak dari kita, termasuk aku, pernah atau sedang hidup dalam harapan palsu. Mengira dicintai, padahal cuma dikasih kata-kata. Mengira dimaafkan berarti semua akan lebih baik, padahal tidak ada yang benar-benar berubah.
Delusional itu ketika kita percaya sama sesuatu yang sebetulnya nggak nyata. Dan puisi ini lahir dari kesadaran: bahwa aku harus bangun dari mimpi itu. Aku nggak mau lagi dibutakan oleh cinta tanpa perbuatan dan maaf tanpa perubahan.
Tapi, bukan berarti aku jadi keras hati. Aku tetap percaya pada cinta. Aku tetap membuka pintu untuk maaf. Tapi sekarang, aku belajar memberi batas. Aku belajar untuk membedakan mana cinta yang nyata, mana delusi. Mana maaf yang sungguh, mana cuma manipulasi.
Aku percaya, seperti kata Brené Brown:
“Clear is kind. Unclear is unkind.”
Jelas itu baik. Nggak jelas itu jahat.
Maka sekarang aku berani berkata, “kalau kamu cinta, tunjukkan. Kalau kamu menyesal, buktikan.” Kalau tidak, maka cukup. Aku berhak bahagia, aku berhak tenang. Dan kamu juga, bestie.
Pesan kecil dari aku untukmu:
Kalau kamu sedang berjuang dalam hubungan yang terasa delusional, entah dengan pasangan, sahabat, bahkan keluarga, tolong ingat: kamu pantas dicintai dengan nyata!
Kamu pantas mendapatkan maaf yang jujur dan diiringi perubahan. Jangan terus bertahan hanya karena takut kehilangan. Kadang yang kita pertahankan itu justru yang membuat kita perlahan hancur.
Beranilah berkata: “cukup.”
Karena kadang, dengan berkata cukup… kita sedang membuka ruang untuk cinta yang sebenarnya, untuk hidup yang lebih damai.
CUKUP!
CUKUP!
CUKUP!!!!!
Pergi dan angkat kakimu, lalu lihatlah masa depan, fokuslah pada orang-orang yang menghargaimu.
Aku cukupkan puisiku hanya dua baris. Tapi aku yakin, artinya bisa jadi dua lembar atau bahkan dua ribu tahun penyembuhan bagi yang pernah terluka karenanya. Jika kamu kebingungan, lihat dan baca tulisan ini kembali, lalu tersenyumlah.

Seorang guru Bahasa Inggris di sekolah swasta yang juga aktif sebagai Tentor literasi Bahasa Inggris. Suka membaca, diskusi, deep talk, menulis, menonton film kemudian menyelami narasinya, jalan-jalan, dan seorang yang antusias pada olahraga, sebab kombinasi antara intelektual dan latihan fisik konsisten adalah motor penggerak utama dalam berkarya.
