Sumber: Foto by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash.
Opini Adikarto, — Kemampuan diam dan menghindar seorang dengan kepribadian yang avoidant memang sungguh luar biasa. Mereka bisa bertahan dalam diam tanpa informasi apapun dalam hitungan hari bahkan bulanan. Mereka terlihat sangat mampu terdiam tanpa bergeming sedikitpun untuk hal-hal yang tidak ingin mereka bicarakan secara luas. Menghindari apapun yang tidak ingin mereka bahas.
Berdasarkan pendapat Bartholomew dan Horowitz (1991) avoidant masuk ke dalam salah satu gaya keterikatan (attachment) selain dari secure attachment, pre-occupied attachment, dismissing attachment.
Dikutip dari laman halodoc seseorang yang tumbuh dengan karakter avoidant attachment style belajar untuk memiliki rasa kemandirian yang kuat. Hal ini berujung pada ketidakinginan bergantung pada orang lain untuk mendapatkan perawatan atau dukungan.
Beberapa tandanya meliputi:
- Terus-menerus menghindari keterikatan emosional atau fisik.
- Merasakan rasa kemandirian yang kuat.
- Merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan perasaan.
- Meremehkan orang lain.
- Sulit mempercayai orang.
- Merasa terancam oleh siapa pun yang mencoba mendekat.
- Menghabiskan lebih banyak waktu sendirian dari pada berinteraksi dengan orang lain.
- Mempercayai bahwa tidak membutuhkan orang lain dalam hidup.
Seorang avoidant secara kognitif akan memiliki kepercayaan disfungsional bahwa mereka tidak berharga atau justru sangat berharga, sehingga akan cenderung menghindari sesuatu yang membuat mereka yakin bahwa jawaban atau kenyataan yang berjalan pasti toxic tidak akan sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.
Seorang avoidant sebenarnya sangat lekat dengan insecurity atau perasaan tidak aman. Mereka menghindar untuk interaksi yang tidak mereka inginkan.
Meskipun begitu, tipe kepribadian avoidant masih bisa diubah meskipun mungkin sulit. Karena tidak dipungkiri bahwa memang gaya kemelekatan muncul di masing-masing orang sebagai produk dari pelajaran hidup dan kebiasaan sepanjang umur.
Avoidant masih bisa diperbaiki dengan cara meningkatkan kepercayaan diri, memperbanyak hubungan positif dengan manusia yang lain, meningkatkan kepekaan dan kesadaran bahwa diri kita berharga. Seorang avoidant masih bisa berubah menjadi seseorang yang lebih percaya bahwa dirinya memiliki nilai, hanya saja memang dibutuhkan kemauan yang kuat.
Pemilik avoidant attachment sering terjebak dalam pola berulang. Ketidakmampuan dalam mengubah cara pandang bisa menjadi hal yang menjebak mereka.
Dengan kepribadian yang menghindar dan kurang berani menghadapi kenyataan, seringkali seorang Avoidant melemparkan tanggung jawab ataupun menyalahkan pihak lain karena ketakutannya mengakui risiko yang harus dia ambil.
Saya memiliki beberapa teman yang cara mengambil sikapnya kurang lebih mendekati ciri-ciri avoidant attachment. Mereka cenderung memilih untuk mengikuti keinginan hati dengan sikap ‘menghindar’. Dari beberapa dialog dengan mereka, yang saya ketahui bahwa sikap yang sering diambil adalah produk dari pilihan.
Mereka sebenarnya bisa memilih untuk tidak menghindar, namun dengan tidak menghindar membuat mereka mengalami energy draining dan pengalaman capek yang luar biasa. Salah satu teman saya bahkan mengatakan bahwa sebenarnya attachment bisa dilatih. Karena terlalu menjadi avoidant juga akan menjadi pengalaman tidak menyenangkan bagi orang sekitarnya.
Sekali lagi, menurut saya dengan pemahaman terhadap diri yang kuat dan kepekaan yang tinggi, sikap avoidant tetap bisa diubah atau disesuaikan dengan kondisi. Sebagai seseorang yang memiliki beberapa teman dengan kepribadian avoidant, saya bahkan berharap jika masih ada pilihan untuk menyesuaikan sikap. Karena saya rasa, saya dulu-pun memiliki kecenderungan itu, namun perlahan dapat diubah dan disesuaikan dengan kondisi.
Perubahan tipe kepribadian itu juga bisa terjadi tergantung dengan siapa kita berinteraksi ~
Bagikan ke:

0 thoughts on “Avoidant, Kepribadian yang Dianggap Menjengkelkan”