Ukuran yang Tidak Terlihat: Fakta Menarik tentang Greenland
Ketertarikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Greenland kembali menyorot satu fakta yang sering kali luput dari perhatian publik. Meskipun menjadi pulau terbesar di dunia, ukuran Greenland sering kali tidak tergambar secara akurat dalam peta. Dalam berbagai peta dunia konvensional, Greenland kerap tampak lebih kecil atau justru seolah sebesar Afrika. Padahal, secara nyata, luas wilayah Greenland jauh berbeda dari kesan visual tersebut.
Seberapa besar sebenarnya Greenland? Menurut data pariwisata resmi, pulau ini merupakan wilayah otonom milik Kerajaan Denmark dengan luas sekitar 2.166.086 km persegi atau lebih dari 836.000 mil persegi. Dengan angka itu, Greenland memiliki perbandingan luas wilayah sebagai berikut:
- Sekitar 20 kali lebih besar dari Denmark
- Hanya 14 kali lebih kecil dari Afrika
- Lebih besar dari gabungan Perancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris
- Lebih besar dari Alaska, tetapi masih lebih kecil dari wilayah daratan utama Amerika Serikat
- Sekitar 80 persen wilayah Greenland tertutup lapisan es permanen, dengan ketebalan mencapai 4 km di beberapa bagian
Kesalahan persepsi ukuran Greenland banyak disebabkan oleh penggunaan proyeksi Mercator, sistem peta yang membuat wilayah dekat kutub tampak jauh lebih besar dibandingkan daerah khatulistiwa. Akibatnya, Greenland sering terlihat hampir setara dengan Afrika, padahal Afrika sekitar 14 kali lebih luas.
Siapa yang Tinggal di Greenland?
Greenland dihuni sekitar 56.000–57.000 jiwa, menjadikannya salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk terendah di dunia. Untuk komposisi penduduknya, Greenland mencatatkan data ini:
- 88 persen Inuit atau campuran Inuit-Denmark
- 12 persen keturunan Eropa, terutama Denmark
Bahasa utama yang digunakan adalah Greenlandic (Kalaallisut) dan Bahasa Denmark, dengan Bahasa Inggris juga dipahami secara luas. Sekitar 1/4 penduduk tinggal di Nuuk, ibu kota Greenland, yang menjadi pusat pemerintahan, budaya, dan ekonomi.
Transportasi di Pulau Raksasa Tanpa Jalan Antarkota
Meski sangat luas, Greenland tidak memiliki jaringan jalan atau kereta api antarkota. Setiap kota memiliki jalan sendiri, tetapi berhenti di batas permukiman. Transportasi utama meliputi:
- Kapal laut
- Pesawat dan helikopter
- Snowmobile
- dan kereta anjing (dogsled)
Status Politik dan Kepemimpinan Greenland
Greenland adalah wilayah otonom dengan pemerintahan sendiri dan parlemen lokal, meskipun urusan luar negeri dan pertahanan masih berada di bawah Denmark. Kepala Negaranya adalah Raja Frederik X, sedangkan Perdana Menteri Greenland bernama Mute Bourup Egede. Egede menjabat sejak April 2021 setelah partainya, Inuit Ataqatigiit, memenangkan pemilu dengan agenda lingkungan. Pada Januari 2025, Egede menyatakan keinginan untuk menuju kemerdekaan dari Denmark, menyusul kembali mencuatnya pernyataan Trump soal membeli Greenland.
Mengapa Greenland Penting Secara Strategis?
Amerika Serikat tercatat sudah sejak lama memandang Greenland sebagai wilayah strategis. Ada sejumlah alasan mengapa Greenland dianggap penting secara strategis oleh AS, termasuk:
- AS membangun Pangkalan Udara Thule saat Perang Dingin
- Mencairnya es akibat perubahan iklim membuka potensi jalur pelayaran Arktik baru
- Greenland menyimpan potensi mineral tanah jarang, minyak, dan gas
Perubahan iklim memang mencairkan es, tetapi sekaligus meningkatkan akses ke sumber daya alam. Untuk mengenal lebih dalam, berikut adalah beberapa tanggal penting terkait sejarah Greenland:
- 982 – Greenland ditemukan oleh penjelajah Norwegia, Erik the Red, yang menamai wilayah tersebut “Greenland” agar terdengar lebih menarik. Pada 986, ia kembali bersama para pemukim.
- Abad ke-14–15 – Permukiman bangsa Nordik menghilang, kemungkinan akibat awal Zaman Es Kecil (Little Ice Age) ketika suhu turun drastis.
- 1721 – Ekspedisi yang dipimpin misionaris Denmark–Norwegia, Hans Egede, menandai dimulainya kolonisasi Denmark. Permukiman baru didirikan di dekat lokasi ibu kota saat ini, Nuuk.
- 1940 – Denmark diduduki Jerman selama Perang Dunia II.
- 1941–1945 – Amerika Serikat menduduki Greenland untuk mempertahankannya dari kemungkinan invasi Jerman.
- 1950 – Denmark menyetujui penggunaan kembali Pangkalan Udara Thule oleh AS, yang kemudian diperluas secara besar-besaran pada 1951–1953 sebagai bagian dari strategi pertahanan Perang Dingin NATO.
- 1953 – Greenland menjadi bagian integral dari Kerajaan Denmark.
- 1968 – Sebuah pesawat pembom B-52 Angkatan Udara AS yang membawa senjata nuklir jatuh di dekat Thule. Puluhan tahun kemudian, laporan menyebutkan bahwa dari empat bom hidrogen, hanya tiga yang berhasil ditemukan.
- 1979 – Greenland memperoleh pemerintahan sendiri (home rule) setelah referendum.
- 1985 – Greenland keluar dari Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC) akibat perselisihan soal aturan perikanan dan larangan produk kulit anjing laut.
- 1999 – Pengadilan Tinggi Denmark memutuskan bahwa masyarakat Inuit dipindahkan secara ilegal dari wilayah mereka di Greenland utara pada 1953 untuk perluasan pangkalan udara Thule, namun menolak hak mereka untuk kembali.
- 2008 – Warga Greenland menyetujui referendum untuk otonomi yang lebih luas, kontrol lebih besar atas sumber daya energi, serta menetapkan bahasa Kalaallisut (Greenland Barat) sebagai bahasa resmi menggantikan bahasa Denmark.
- 2010 – Studi dalam jurnal ilmiah Science mengonfirmasi bahwa lapisan es Greenland menyusut lebih cepat dan berkontribusi lebih besar terhadap kenaikan permukaan laut.
- 2013 – Greenland mengakhiri larangan penambangan bahan radioaktif seperti uranium yang telah berlaku selama 25 tahun, memicu peningkatan ekspor sumber daya mineral.
- 2021 – Greenland melarang seluruh eksplorasi minyak dan gas baru. Pemerintah menyatakan bahwa “harga lingkungan dari ekstraksi minyak terlalu tinggi”. Pada tahun yang sama, hujan tercatat turun di puncak lapisan es Greenland untuk pertama kalinya dalam sejarah, yang oleh para ilmuwan dikaitkan dengan perubahan iklim.
- 2024 – Presiden terpilih AS, Donald Trump, kembali menyatakan keinginannya membeli Greenland. Denmark mengumumkan peningkatan besar belanja pertahanan untuk Greenland, sementara Raja Frederik X mengubah lambang kerajaan agar menampilkan Greenland dan Kepulauan Faroe secara lebih menonjol.
Dengan ukuran raksasa, sumber daya strategis, dan posisi geopolitik krusial, Greenland terus menjadi pusat perhatian dunia, meski ukurannya sering disalahpahami hanya karena cara peta menggambarkannya.
Bagikan ke:
