BOGOR – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan peringatan keras terkait kondisi geopolitik dunia yang kian tidak menentu di awal Februari 2026. Dalam pernyataan resminya, tokoh yang dikenal sebagai juru damai internasional ini menilai bahwa ruang diplomasi untuk mencegah perang global atau Perang Dunia III kini berada pada titik paling kritis dan semakin menyempit.
Diplomasi yang Terancam Lumpuh
SBY menyoroti bahwa mekanisme pencegahan konflik di tingkat global, terutama peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tampak kian tidak berdaya menghadapi ego kekuatan besar dunia. Ia mencermati eskalasi di Timur Tengah, persaingan di Selat Taiwan, dan konflik berkepanjangan di Eropa Timur sebagai kombinasi maut yang bisa meledak kapan saja.
“Dunia saat ini seolah sedang berjalan dalam tidur (sleepwalking) menuju prahara besar. Ruang untuk melakukan pencegahan, mediasi, dan diplomasi preventif semakin sempit karena kepercayaan antarnegara berada di titik nadir,” ujar SBY dalam keterangannya di Cikeas, Minggu (1/2/2026).
Tiga Ancaman Utama Menurut SBY
Dalam analisisnya, SBY menjabarkan tiga faktor utama yang membuat situasi 2026 jauh lebih berbahaya dibanding era Perang Dingin:
- Kesalahan Kalkulasi Militer: Penggunaan AI dan drone otonom meningkatkan risiko perang yang dipicu oleh insiden teknis yang tidak disengaja.
- Ketidakpatuhan Hukum Internasional: Semakin banyak negara besar yang mengabaikan piagam PBB demi ambisi teritorial dan hegemoni.
- Krisis Multidimensi: Perang saat ini melibatkan senjata ekonomi, energi, dan pangan yang dampaknya langsung dirasakan oleh rakyat kecil di seluruh dunia.
Pesan untuk Indonesia: “Siapkan Payung Sebelum Hujan”
Khusus untuk Pemerintah Indonesia, SBY mengingatkan agar tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika ini. Ia menekankan bahwa posisi “Politik Bebas Aktif” Indonesia harus dijalankan dengan lebih lincah dan berani.
“Indonesia harus waspada. Ketidakstabilan di Selat Hormuz akan langsung memukul ketahanan energi kita. Kita harus memiliki contingency plan (rencana cadangan) yang matang, baik dari sisi keamanan, ekonomi, maupun perlindungan warga negara di luar negeri,” tegasnya.
SBY juga mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil peran lebih aktif dalam kepemimpinan internasional guna merajut kembali komunikasi yang putus antara kekuatan-kekuatan besar (AS, China, dan Rusia).
Menanti Politik Bebas Aktif yang Nyata
Pernyataan SBY ini muncul di tengah perdebatan domestik mengenai keanggotaan Indonesia di berbagai forum perdamaian internasional. Analis menilai, peringatan dari tokoh sekaliber SBY merupakan sinyal bahwa ancaman keamanan nasional akibat dampak global bukan lagi sekadar teori, melainkan risiko nyata yang harus segera diantisipasi oleh jajaran kabinet.
Poin Penting Analisis SBY (Februari 2026):
- Status Global: Dunia menuju titik jenuh konflik (flashpoint).
- Saran untuk RI: Memperkuat ketahanan domestik (pangan & energi) dan diplomasi proaktif.
- Peringatan Utama: Risiko perang besar akibat hilangnya rasa saling percaya (trust deficit) antarnegara superpower.
Bagikan ke:
