Surabaya, Kota yang Tumbuh dari Perjumpaan
Surabaya tidak pernah menjadi kota milik satu suku, satu darah, atau satu asal-usul. Sejak awal, kota ini adalah hasil dari pertemuan para pendatang dari berbagai daerah di Nusantara. Mulai dari Madura hingga Sumatera, dari Sulawesi hingga Nusa Tenggara, serta dari Jawa, Ambon, Tionghoa, dan Arab. Semua latar belakang ini bersatu dalam membentuk identitas kota yang unik.
Cak Kusnan, salah satu budayawan di Surabaya, menyebut bahwa Surabaya adalah kota pertemuan. Oleh karena itu, kota ini tidak bisa diklaim oleh satu kelompok tertentu. Keberadaannya bukan didasarkan pada siapa yang paling dulu datang, tetapi pada keinginan untuk menjaga kebersamaan antar warga.
“Sejarah Surabaya tidak ditulis oleh identitas yang saling meniadakan, melainkan oleh semangat kolektif arek-arek yang melampaui asal-usul. Inilah ruh yang dahulu dihidupi oleh Pemuda Yamin: lahir dari ormas kesukuan, namun berani menghancurkan sekat kesukuan itu sendiri demi satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa,” ujarnya.
Kini, Surabaya Diuji
Menurut Cak Kusnan, Surabaya saat ini sedang diuji. Beberapa ormas kedaerahan justru membalikkan warisan Pemuda Yamin. Identitas yang seharusnya menjadi ruang solidaritas, kini berubah menjadi alat tekanan. Kesukuan yang seharusnya dirawat sebagai kekayaan budaya, kini dipelintir menjadi legitimasi penguasaan ruang sosial dan ekonomi.
Dari sini, kegelisahan warga lahir. Namun, kegelisahan tersebut bukan berasal dari keberagaman, melainkan dari cara keberagaman disalahgunakan. “Dalam konteks inilah narasi Yasin harus dihadirkan. Bukan untuk dimaklumi, apalagi dibenarkan, tetapi sebagai peringatan keras. Yasin adalah cermin retak tentang bagaimana pemuda bisa berubah menjadi pemecah belah ketika virus primordialisme dibiarkan hidup.”
Yasin, Korban dari Kondisi yang Tidak Jelas
Cak Kusnan menilai bahwa Yasin adalah korban dari keadaan yang tidak jelas. Ia tumbuh dari pembiaran panjang: ketika hukum ragu ditegakkan, ketika kekerasan dinegosiasikan atas nama stabilitas, dan ketika identitas dijadikan alat tawar.
“Inilah yang harus dilawan bersama-tanpa ragu dan tanpa kompromi. Melawan Yasin bukan berarti memusuhi suku tertentu atau menolak ormas sebagai entitas,” tambahnya.
Surabaya, Kota yang Tidak Anti Ormas atau Pendatang
Surabaya tidak anti ormas dan tidak anti pendatang. Sejarah kota ini justru dibangun oleh mereka yang datang dan berkontribusi. Yang ditolak Surabaya adalah cara berpikir kolonial dalam wajah lokal: tinggal di sini, mencari hidup di sini, tetapi tidak mau merawat kebersamaan kota ini.
“Jika Pemuda Yamin menggunakan ormas kesukuan untuk menyatukan Indonesia, maka Yasin menggunakan ormas kesukuan untuk menciptakan sekat baru,” ujarnya.
Perbedaan yang Harus Ditegaskan
Perbedaan ini harus ditegaskan. Yamin melahirkan persatuan, sedangkan Yasin menumbuhkan ketakutan. Yamin membangun negara, sedangkan Yasin menggerogoki sendi sosialnya.
Karena itu, sikap pemuda dan masyarakat Surabaya harus jelas. Yasin bukan panutan, melainkan peringatan. Ia bukan simbol perlawanan, melainkan tanda bahaya. Setiap tindakan premanisme, dari siapapun pelakunya, apapun organisasinya, dan dari suku manapun asalnya, adalah urusan hukum dan harus ditindak tegas oleh negara.
Surabaya Membutuhkan Pemuda-Pemuda Yamin Baru
Surabaya membutuhkan pemuda-pemuda Yamin baru—para perantau dan anak kota yang mencintai Surabaya, bukan sebagai tempat singgah, tetapi sebagai rumah.
Pemuda Yamin menjadikan ormas sebagai ruang pengabdian, bukan alat dominasi. Pemuda yang berani berdiri di sisi persatuan, meski harus berhadapan dengan mereka yang menjual identitas demi kuasa sesaat.
“Surabaya Rumah Kita, hanya bisa dijaga jika kita berani melawan Yasin-Yasin dalam bentuk apapun, dan secara sadar memilih jalan Yamin: jalan persatuan, keadilan, dan tanggung jawab bersama. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat dengan getir bahwa Kota Pahlawan bukan runtuh oleh perbedaan, tetapi oleh pembiaran terhadap mereka yang memecah belah atas nama identitas,” pungkas Cak Kusnan.
Bagikan ke:
