
Khasanah, — Merantau bukanlah sekadar berpindahnya tempat, tetapi juga perjalanan menuju kedewasaan, ilmu, dan kemuliaan. Imam Syafi’i salah satu imam madzhab dalam Islam, memberikan nasihat bijak tentang merantau melalui syair-syairnya. Berikut beberapa hikmah merantau menurut beliau:
1. Menuntut Ilmu dan Meningkatkan Adab
“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang”. – Imam Syafi’i, Diwan al-Imam asy-Syafi’i
Merantau membuka peluang untuk menuntut ilmu dan memperluas wawasan. Dengan keluar dari zona nyaman, seseorang dapat belajar dari berbagai pengalaman dan meningkatkan adab serta pengetahuan.
2. Mengganti Kerabat dan Teman
“Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”. – Imam Syafi’i, Diwan al-Imam asy-Syafi’i
Dalam perantauan, kita akan bertemu dengan orang-orang baru yang bisa menjadi sahabat dan keluarga baru. Hal ini memperkaya pengalaman sosial dan memperluas jaringan pertemanan.
3. Bermental Tangguh Seperti Singa dan Busur Panah
“Singa jika tak meninggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak meninggalkan busur, tak akan kena sasaran”. – Imam Syafi’i, Diwan al-Imam asy-Syafi’i
Singa adalah raja hutan yang harus keluar dari sarangnya untuk berburu. Begitu pula busur panah, tidak akan mengenai target jika tidak dilepaskan. Merantau berarti berani keluar dari zona nyaman untuk mencapai tujuan dan kesuksesan. Keberanian mengambil risiko adalah kunci untuk mencapai potensi terbaik.
4. Menghindari Kebosanan dan Kerusakan
“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan dan enggan memandang”. – Imam Syafi’i, Diwan al-Imam asy-Syafi’i
Diam di tempat yang sama dapat menyebabkan stagnasi dan kebosanan. Seperti air yang mengalir menjadi jernih, manusia pun perlu bergerak dan berubah untuk tetap segar dan berkembang. Bahkan matahari pun, jika tidak bergerak, akan kehilangan daya tariknya.
5. Menjadi Lebih Bernilai
“Biji emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang). Jika memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang bernilai tinggi”. – Imam Syafi’i, Diwan al-Imam asy-Syafi’i
Potensi seseorang mungkin tidak terlihat jika tetap di tempat asal. Namun, dengan merantau dan menghadapi tantangan baru, nilai diri akan semakin terlihat dan dihargai. Seperti kayu gaharu yang berharga tinggi ketika keluar dari hutan, demikian pula manusia yang berkembang ketika berani meninggalkan kenyamanan.
Nasihat Imam Syafi’i tentang merantau mengajarkan kita untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman. Dengan semangat singa yang berani meninggalkan sarangnya dan busur yang melesat menuju sasaran, kita bisa menemukan makna dan kesuksesan dalam perjalanan hidup. Merantaulah, karena disanalah potensi kita akan benar-benar diuji dan dihargai.
Sumber: Diwan Imam Syafii

Pemimpin Redaksi Adikarto.com. Mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan bertanggung jawab mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif dengan kedalaman perspektif.
