
Dialektika, — Sebenarnya, ketika menonton film Negeri 5 Menara saya menemukan sebuah anomali. Dalam adegan saat Alif baru masuk pondok Madani, ditunjukkan bahwa Alif membaca sebuah tulisan besar yang cukup eye catching – Ke Madani, apa yang kau cari?
Jadi, ke manapun kamu pergi, sebenarnya apa yang kamu cari?
Kalimat itu sebenarnya menanyakan tujuan hidup dan pencarian hakiki di tengah kesibukan dunia. Mungkin, jika dijabarkan, maka jawabannya banyak dan beragam. Namun, sebenarnya seperti sebuah lingkaran warna mejikuhibiniu, tujuan utamanya adalah putih. Begitupun hidup, tujuannya adalah – tenang.
Sebenarnya itu saja satu kata yang rasanya mahal sekali untuk didapatkan. Ketenangan sifatnya mahal karena kadang-kadang harus dibayar dengan hal nonmaterial. Saya sulit menceritakan suatu pandangan jika pemikiran itu tidak pernah saya coba diskusikan dulu. Sehingga pada suatu malam, saya mengajak seorang teman saya untuk berdiskusi mengenai ketenangan. Dan kami sepakat, ketenangan itu adalah barang mahal. Dari dua kepala yang sepakat dengan harga fantastis dari ketenangan, apakah kalian juga setuju?
Kata teman saya, ketenangan baginya bukan hanya sekedar hal mahal yang tidak setara dengan uang, tapi tenang juga merupakan tujuan akhir.
Apa yang kamu cari di bumi?
Pertanyaan itu selalu berputar di kepala setiap kali kita sibuk mengejar dunia. Rasanya seperti lelah yang tidak tertuju. Atau habis tanpa benar-benar memiliki ujung. Di jalan, kerap kali saya melihat mobil mewah berbagai merk. Saya sampai hafal beberapa. Saya pernah menentukan mobil mana yang saya mau beli ketika punya uang nanti. Sebelum itu, saya berharap ingin sekali memiliki sebuah ponsel dengan merk dan teknologi terbaru. Sudah berkelakar ingin menggunakan ponsel itu untuk membuat konten, atau hal-hal lain yang dapat digunakan sebagai pencetak uang. Mundur lagi, saya sudah memiliki beberapa gadget yang sebelumnya saya impikan. Tapi ternyata impian tidak pernah berhenti begitu saja.
Ketika kita sudah mendapatkan hal yang kita ingin, kita cenderung berpikir ‘apalagi yang harus kita capai’ untuk memuaskan hasrat duniawi kita? Kadang bukan melulu soal uang. Melainkan pencapaian, jabatan, karya, bahkan legacy – keinginan ingin menjadi besar, memiliki nama dan meninggalkan sesuatu bagi dunia.
Kepala berkecamuk, dada bergetar, namun ketenangan belum tentu dapat kita capai. Sebenarnya ketenangan itu apa? Dan bagaimana caranya meraih ketenangan itu?
Dalam kacamata filsafat, ketenangan bukan sekadar absennya keributan, melainkan sebuah posisi aktif seorang manusia terhadap realitas. Ketenangan bekerja melalui sinkronisasi antara rasio, persepsi, dan penerimaan. Mencapai ketenangan adalah kombinasi antara mengatur pikiran dan membatasi lingkungan. Ketenangan sering hilang karena kita melawan kenyataan yang tidak bisa diubah. Menerima bahwa kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain, takdir, dan perubahan lingkungan dapat menimbulkan ketenangan itu, tetapi kita sendiri punya kontrol penuh atas reaksi diri sendiri.
Otak yang lelah butuh jeda dari kebisingan informasi. Sederhananya mungkin dapat kita raih dengan membatasi sumber informasi itu sendiri. Banyaknya sumber informasi yang kita terima membuat otak memproses informasi lebih banyak juga. Informasi yang jumlahnya banyak memungkinkan kita untuk meningkatkan energi karena mengolah sesuatu yang banyak tentunya cukup berat. Hal itu menyulitkan kita menemukan ketenangan yang diinginkan.
Lantas apa yang kamu cari ?
Secara filosofis, hidup di dunia adalah pencarian akan makna, kebahagiaan sejati, dan penyempurnaan diri (pertumbuhan) yang melampaui sekadar pemenuhan materi. Ini mencakup aktualisasi diri sebagai manusia yang beradab, beribadah untuk menemukan ketenangan batin, serta meninggalkan warisan kebaikan (legacy) yang berdampak bagi sesama.
Filosofi hidup seringkali berpusat pada pencarian kebahagiaan sejati atau yang kita sebut dengan eudaimonia. Aristoteles mengemukakan konsep eudaimonia sebagai kebahagiaan tertinggi, hal tersebut bersumber dari hati yang bersih, ikhlas, dan perasaan dekat dengan Sang Pencipta.
Apa guna mencari ketenangan yang mahal ini? Simpel sebenarnya, kita ingin membumi.
Kadang, otak dan pikiran memaksa kita untuk terus mencari pemaknaan sampai benar-benar terpuaskan. Mencari jawaban atas pertanyaan eksistensial mengenai alasan keberadaan diri seringkali bermuara pada pengabdian atau ibadah dan perwujudan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Hidup manusia dipandang sebagai proses belajar, berkembang, dan berjuang terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan diri, baik secara individu maupun kelompok.
Ketenangan pada akhirnya akan menjadikan masing-masing dari kita menemukan makna melalui hubungan antarmanusia. Belajar dari manusia lain baik yang kita cintai atau yang kita lihat perjalanan hidupnya. Ketenangan kadang-kadang bisa kita dapatkan dengan cara menjadi manusia yang berguna, berperan sebagai manusia utuh yang membangun dan mengelola potensi alam, serta berbuat kebaikan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sungguh, ketenangan itu adalah barang yang sangat-sangat mahal yang tidak semua orang bisa dapatkan dalam kehidupannya.
Kita, kadang-kadang tidak pernah merasa puas atas apa apa yang sudah didapat. Sifat khas manusia – jadi wajar saja sepertinya memang. Namun, hal-hal yang merupakan bentuk kehausan duniawi itu tujuan akhirnya ke mana, sih? Pernah terpikirkan atau tidak?
Tenang itu tujuan. Dan tujuan itu harus diusahakan. Berbagai orang dari berbagai belahan dunia juga sedang berlomba mengusahakan itu semua dengan cara mereka masing-masing tentunya. Tenang itu tujuan. Sudah semestinya ketenangan mengandung perjuangan.

Melalui tulisan dan ilustrasi, saya menjelajahi labirin psikologi, kedalaman filsafat, dan estetika seni. Memeluk identitas sebagai philomath adalah cara saya berdaulat atas diri—sebuah manifesto bahwa ruang belajar terbesar adalah dunia, dan waktunya adalah selamanya







