
Dialektika, — Pernah terjadi bulan syawal tahun kelima Hijriah dahulu, Madinah berada di tengah kepungan dan kepunahan eksistensial. Sepuluh ribu pasukan gabungan lintas kabilah yang dikenal sebagai Al-Ahzab bergerak mengepung untuk melumat habis pusat peradaban baru yang baru saja tumbuh.
Bayangkan saja situasi dan kondisi yang menyesakkan, amat begitu mencekam, dan kelaparan hebat. Atas usul Salman al-Farisi, Nabi Muhammad SAW memutuskan sebuah manuver kognitif yang tidak terduga, menggali parit raksasa di sekitar Madinah.
Strategi yang cukup taktis dan teknis; dengan menggali tanah, sekaligus proyeksi kedaulatan batin untuk menciptakan jarak aman yang tidak bisa terjangkau oleh musuh. Khandaq (parit) itulah batas fisik dan psikis yang memisahkan antara kegaduhan kaum penyerbu dengan ketenangan para pembela kedaulatan.
Bilamana kita visualisasikan, pengepungan biasanya bisa digambarkan dengan tapal kuda, debu padang pasir, atau kilatan pedang di ufuk sekeliling kota. Seperti yang terjadi juga pada hari ini, adalah kumpulan mutasi pengepungan kontemporer terhadap pola baca dan pola pikir kita.
Kita berada dalam sebuah era yang dinding-dinding pertahanannya tidak lagi akan diruntuhkan oleh meriam-meriam. Kedaulatan batin dan pikiran kita diserang oleh gelombang informasi yang meledak-ledak dari layar-layar di genggaman tangan. Dan sampailah kita di penghujung zaman, suatu kondisi kebenaran dan kepalsuan berkelindan begitu rapat, sehingga sulit ditemukan celah untuk memilah kejernihannya.
Belum lagi kita saksikan disrupsi narasi yang masif, abrasi batin nurani yang semrawut, dan erosi nilai-nilai budaya yang tercerabut. Lalu terjadilah pergeseran nilai yang kaku, dangkal, dan banal. Efek dominonya adalah perasaan terasing individu di tengah keramaian (The Lonely Crowd), bingung menentukan arah di tengah kebisingan, dan kehilangan kedaulatan di tengah berisiknya pikiran sendiri.
Bilamana kita tarik satu benang merah historis, posisi manusia kontemporer sebenarnya tidak jauh berbeda dengan posisi umat muslim di Madinah saat menghadapi pasukan Ahzab dahulu. Bedanya dulu pasukan sekutu (Ahzab) mengepung secara fisik untuk menghancurkan raga, sedangkan hari ini suatu kelompok yang cukup hegemonik mengepung secara psikis, ekonomikal, dan juga kultural untuk menjinakkan pikiran dan batin. Lalu terkepunglah kita oleh suguhan algoritma, standar hidup materialistik, dan opini publik seragam, yang memaksa untuk tunduk atau tersingkir.
Dari sejarah peristiwa Khandaq kita belajar bahwa untuk menghadapi kepungan sedahsyat itu, tidak bisa dilakukan dengan cara yang reaktif-emosional, apalagi mengandalkan amarah yang meledak-ledak. Sebab reaktivitas merupakan tanda bahwa kita telah kalah sebelum berperang.
Menggali parit adalah upaya untuk membangun jarak antara diri kita dengan hiruk-pikuk dunia, agar di dalam parit itu, kita bisa menemukan kembali kejernihan untuk melihat siapa sesungguhnya diri kita dan ke mana langkah harus dituju.
Tesis utamanya adalah ajakan untuk kembali menggunakan usulan Salman al-Farisi dengan menggali parit, menggali kedalaman dan keluasan pola baca dan pola pikir, serta menciptakan jarak dan lingkar pandang. Satu kesatuan dari renja (rencana kerja) sekaligus renstra (rencana strategis) yang tidak diartikan sebagai bentuk pelarian atau isolasi diri yang pasif!
Membuat khandaq berarti menciptakan sela-sela antara dua posisi yang fundamental, seperti sosok Salman al-Farisi yakni kaum cendekia, kreatif yang juga cerdik-taktis yang berdiri di samping Nabi. Demikianlah sehingga kita perlu mengasah kemampuan untuk membangun batas otonom di atas kemelut dunia.
Otonomi Akal dan Hati

Menggali parit tidak pernah terbatas pada arti atas upaya-upaya untuk membangun tembok yang super isolatif. Adapun esensi filosofisnya adalah menciptakan sebuah distansi atau interval dari keterhubungan gaduh, reaktif, dan tuntutan untuk terus tampil. Parit itu sendiri bisa kita nyatakan sebagai sebuah pernyataan otonomi, batas yang kita ciptakan agar dunia tidak masuk ke dalam diri kita dengan semena-mena.
Setidaknya ada tiga hal yang sangat mendasari, agar mulai membangun khandaq-khandaq sendiri di sekeliling tempat kita berdiri, di bawah langit dan di atas bumi.
1. Dialektika Jarak
Peristiwa khandaq telah membuktikan bahwa untuk memenangkan pertempuran, kita tidak melulu memerlukan benturan fisik, meskipun itu pun bisa juga terjadi. Dan sebagaimana peristiwa Ahzab, nyatanya kekuatan besar itu akan muncul dari kemampuan kita untuk tidak mencari-cari ukuran menang atau kalahnya.
Demikianlah sehingga kita perlu menciptakan jarak (distansi) untuk melihat medan tempur dengan perspektif yang lebih luas dengan lingkar pandang. Bilamana kita perhatikan serbuan opini global yang berbaris rapat dari Barat, parit inilah yang akan menjadi interlude (penghubung antar bait dengan kesegaran), sehingga manusia bisa mengambil kembali haknya untuk tidak langsung bereaksi terhadap setiap provokasi.
2. Interioritas dan Eksterioritas
Interioritas (ruang terdalam) atau dalam hal ini adalah batin di zaman kontemporer juga memaksa manusia untuk hidup sepenuhnya di permukaan (eksterioritas). Seakan-akan segala dan seluruh sesuatu yang dipendam harus dikomunikasikan, dipamerkan, dan divalidasi oleh pihak luar.
Demikianlah Khandaq adalah upaya merebut kembali interioritas atau ruang di dalam kita. Di dalam parit batin inilah, manusia kembali menjadi subjek yang berdaulat atas pikirannya sendiri. Kita kembali ke aksen dasar yang tidak konservatif buta, tapi kembali ke titik nol kesadaran yang ada pada diri kita, ketenangan batin, dan pertolongan Allah itu sendiri.
3. Inovasi atas Keterdesakan
Mungkin kita ini tidak sepenuhnya mengerti, bahwa ternyata ide menggali parit di Madinah adalah sebuah lompatan logika yang sangat maju di masanya, atau sebuah disruptive thinking. Maka ber-Khandaq dihadapan para pejabat, petinggi, pemerintah dan seluruh macam kata gantinya, berarti juga menjadi manusia yang paling adaptif sekaligus paling teguh. Kita tetap menggunakan perangkat zaman, teknologi Artificial Intelligence (AI), media, ekonomi dan lan sebagainya, namun kita perlu menyadari bahwa perangkat tersebut harus berhenti di pinggir parit, itu semua hanyalah alat yang kita gunakan, bukan tuan yang mengatur detak jantung dan arah pikir kita.
Anasir Peristiwa Ahzab

Struktur pertahanan yang kita bangun bukanlah galian tanah fisik belaka, ini adalah benteng berlapis yang mengintegrasikan aspek kognitif, material, dan spiritual secara simultan. Melihat mutasi fitnah yang mencemari udara yang kita hirup, kedaulatan berpikir adalah barang mewah yang terus-menerus dicari dari berbagai penjuru Nusantara.
Pengepungan ini teramat nyata, bilamana kita lihat dari pintu masuknya dapur proyek-proyek strategis makan bergizi gratis ke wilayah akademik seperti kampus UNHAS di Makassar, yang menyerbu selayaknya amuk kaum Yakjuj Makjuj, delusi teknologi dalam wujud AI-World Tour yang mencoba menyeret kesadaran kita kembali ke zaman para Nabi dengan cara-cara yang manipulatif, sebuah sihir Dajal modern yang mengaburkan batas antara mukjizat dan simulasi.
Fenomena ini semakin diperkeruh oleh kebodohan massal yang dengan sukarela mengekor pada tokoh-tokoh yang mewarisi watak Abu Jahal di era kontemporer; mereka yang memuja kekuasaan dan materialisme sambil menanggalkan akal sehatnya. Kita sedang berada dalam kepungan Ahzab digital dan kultural yang memaksa kita untuk tunduk pada standar hidup yang menggelikan. Oleh karena itu, parit kedaulatan ini tidak bisa lagi ditunda, kita harus segera gali dan memperdalam, atau memperluasnya pada tiga teritori lapisan utamanya.
1. Lapisan Intelektual
Bahan pertama yang diperlukan di tengah rimba informasi, dengan kebenarannya yang sering sekali dikubur hidup-hidup oleh volume berisik pidato penguasa, kita perlu membubuhkan dan mengaktifkan intuisi transenden, sebuah ketajaman mata batin (bashirah) yang mampu menembus selapis demi selapis manipulasi narasi digital.
Selain parit intelektual ini akan berfungsi sebagai filter epistemologis dinamis yang tidak menutup diri dari informasi (kafir), tapi juga memberikan jarak kritis yang cukup sehingga kesadaran kita tidak mudah terkooptasi oleh skenario yang diproduksi oleh kepentingan luar.
Dengan mengandalkan kecerdasan nurani, tentu saja kita mampu mendeteksi bau dari sebuah opini, apakah membawa kemaslahatan nyata atau hanya jebakan ego yang dirancang secara sistemik untuk memecah belah. Menjadi manusia yang merdeka berarti memiliki keberanian eksistensial untuk berkata tidak pada arus utama yang telah kehilangan substansi dan kejujuran akademisnya.
2. Lapisan Ekonomi dan Komunitas Lokal
Kedaulatan berpikir akan selalu berakhir menjadi ilusi yang rapuh jika urusan perut dan keberlangsungan hidup kita masih digenggam sepenuhnya oleh sistem yang menindas. Lalu ketangguhan nalar tidak bisa berdiri tegak di atas ketergantungan yang absolut. Maka bentuk pertahanan yang paling dibutuhkan dan fungsional adalah kemandirian kolektifnya.
Sebagaimana di dalam peta hidup di bawah kapitalisme modern, berarti juga membangun ekosistem ekonomi yang mandiri secara radikal dari hulu hingga hilir, yang tidak mudah didikte oleh fluktuasi pasar global spekulatif dan predatoris. Kita harus mampu menciptakan sirkulasi nilai di lingkungan sendiri agar tidak selamanya menjadi objek pasar.
Kemandirian ekonomi yang dimaksud bukanlah ukuran sempit seberapa banyak uangnya, berdikari secara ekonomi berarti juga kemampuan untuk membentuk perlawanan pasif namun amat sangat mematikan terhadap hegemoni global. Ketika sebuah lingkaran sosial mampu mencukupi kebutuhannya secara organik dan saling menguatkan kebutuhan materialnya, maka tekanan dari luar pastilah kehilangan daya tawarnya. Inilah kedaulatan sejati dengan harga diri dan martabat yang tidak lagi bisa dibeli “berapa”, karena kita telah memiliki basis kesejahteraan yang otonom dan berakar kuat.
3. Lapisan Mentalitas
Pilar pamungkas yang mengintegrasikan seluruh dimensi pertahanan ini adalah ketangguhan mental yang berakar pada ketenangan dari nilai profetik. Kita belajar dari sejarah bahwa saat pengepungan besar terjadi di Madinah dan kegaduhan pecah di luar garis batas, kekuatan luhurnya malah lahir dari koordinasi, refleksi yang dalam, dan kejernihan rencana. Pilar mental ini adalah antitesis dari mentalitas ajalah, atau sikap terburu-buru yang akan menjerumuskan kita ke dalam jebakan lawan.
Hal yang perlu digaris bawahi adalah pemaknaan mengenai ketenangan itu sendiri, yang tidak sama sekali diartikan sebagai sebuah kepasifan. Ketenangan adalah senjata sakti mandraguna yang memberikan kita kemewahan waktu untuk mengolah tumpukan data menjadi informasi yang valid, dan menyaring informasi tersebut menjadi hikmah yang aplikatif, tanpa terbawa arus peradaban digital yang memaksa manusia untuk menjadi serba cepat, impulsif, dan reaktif.
Kemampuan untuk diam di tengah hiruk-pikuk bukan berarti tidak berbuat apa-apa juga, upayanya adalah menjaga kedaulatan penuh atas emosi dan logika sendiri. Sehingga kita tidak lagi menjadi pion yang mudah digerakkan oleh provokasi atau ketakutan yang diciptakan sistem. Inilah kedaulatan yang adi luhung, yang mampu menentukan langkah berdasarkan instruksi hati nurani, dan yang tidak berdasarkan suara genderang perang yang ditabuh oleh pengepung.
Reorientasi Daulat Baca dan Nalar

Setelah parit digali secara eksternal, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita mengelola kesadaran di dalamnya. Tanpa perubahan pola baca dan pola pikir, parit hanyalah lubang yang biasa-biasa saja. Menjadi berdaulat berarti melakukan reorientasi atas tiga instrumen utama eksistensi manusia melalui kecerdikan, ketenangan, dan kemandirian.
Meskipun teknologi katanya bergerak maju, kenyataannya berlagaklah juga sebagaimana AI atau algoritma yang bertindak sebagai majikan yang menyetir suguhan dan asupan isi kepala kita. Kecerdikan kita akan diuji sepenuhnya darii sini, mampukah kita membalik posisi hierarkis yang timpang itu? Kita harus berhenti menjadi komoditas yang diperah datanya oleh algoritma, dan mulai memposisikan teknologi sebagai kacung untuk memperluas jangkauan benteng pertahanan kita.
Ini semua menyangkut soal literasi media yang punya nyali; kita gunakan platform digital untuk menggalang gagasan, tapi tangan kita tetap memegang kendali penuh untuk mencabutnya kapan saja atau menarik diri dari pusarannya. Kita sikat alat-alat zaman ini untuk mempertebal barisan, tanpa membiarkan alat itu merampok privasi apalagi mengacak-acak kemurnian nalar kita.
Membangun jarak antara dua atau lebih kubu dan kelompok yang saling berseteru itu sangat sulit, karena kita perlu melakukan tirakat, khalwat atau kontemplasi panjang. Terlepas dunia sekarang yang memaksa kita menjadi makhluk reaktif, nyahut tiap ada komentar, ngekor tiap ada tren, dan mendidih tiap ada provokasi. Sehingga kita akan sangat perlu melakukan sabotase dengan ketenangan.
Begitulah esensi khalwat di tengah keriuhan. Kita mengambil jeda untuk menyaring setiap arus informasi sebelum ia mengkristal menjadi sebuah keyakinan. Bersama ketenangan, manusia tidak lagi menjadi bola pimpong yang dihantam-hantmkan oleh opini publik. Ketenangan adalah satu-satunya mesin pengolah yang mampu mengubah kebisingan menjadi keheningan, lalu memeras keheningan tersebut menjadi kebijaksanaan.
Puncak dari pola pikir ini adalah kesadaran penuh mengenai “Kedirian”. Globalisasi yang melumat seperti mesin giling selalu saja mendorong kita menjadi barang jadi, sasaran pasar, target cuci otak, atau cuma deretan angka statistik yang tidak ada harganya. Kemandirian dalam manifesto ini adalah gerakan radikal untuk merebut kembali hak kita sebagai subjek sejarahnya.
Mandiri itu artinya punya standar nilai yang otonom, nggak butuh validasi luar apalagi nunggu izin dari tren global yang seragam. Kita tentukan nasib lewat keputusan yang lahir dari kepala sendiri yang jernih, bukan karena ditodong tekanan luar. Lewat kemandirian ini, kita berhenti jadi rongsokan zaman dan mulai bertindak sebagai pemahat sejarah di dalam garis kedaulatan kita masing-masing.
Inkubator Kemenangan

Segala upaya untuk menciptakan distansi atau parit-parit ini adalah instrumen transisi untuk kemanusiaan kita. Tindakan menarik diri jangan sampai disalahartikan sebagai eskapisme atau pelarian pengecut dari kenyataan yang bising. Karena kita perlu ruang yang diisi oleh kita yang aku, tanpa meninggikan ke-aku-an, dan tetap bersama pengharapan Allah.
Parit sebagaimana peristiwa Khandaq juga bukanlah bunker persembunyian bagi mereka yang ketakutan; inilah ruang konsolidasi kekuatan yang teramat solid, tempat menyusun kembali serpihan martabat yang sempat terserak, memperkuat nalar yang koyak oleh disrupsi, dan merajut kembali struktur kolektif yang mandiri. Parit adalah tempat di mana kualitas dikumpulkan untuk nantinya bertransformasi menjadi kekuatan yang mampu mengubah arah sejarah. Kita tidak sedang meninggalkan dunia; kita sedang mempersiapkan diri untuk hadir kembali di dunia dengan kedaulatan yang penuh.
Setiap individu yang hidup di era ini memikul tanggung jawab eksistensial untuk memulai menetapkan batas kedaulatannya masing-masing. Batas itu mewujud dalam disiplin pikiran untuk memverifikasi setiap narasi yang masuk, serta kerja nyata dalam membangun ketahanan ekonomi dan sosial di tingkat akar rumput. Jangan biarkan diri hanyut menjadi residu dari badai fitnah akhir zaman yang serba dangkal. Kita harus mampu mematok titik agar tidak didikte oleh dunia, lalu dimulailah kedaulatan diri dimulai.
Sejarah pernah mencatat kisah ma’unah (kejadian spiritual luar biasa di luar akal manusia) yang indah, dengan kemenangan besar diraih tidak melalui benturan fisik membabi buta di medan terbuka, cukup jarak! Itu saja! musuh-musuh itu mundur karena kelelahan mental menghadapi ketabahan garis pertahanan dan intervensi semesta yang tidak terduga.
Demikianlah kemenangan diraih tidak melalui suara keras teriakan, apalagi reaktifnya. Kemenangan itu tersimpan dalam ketangguhan untuk tetap tenang, kecerdikan untuk tetap mandiri, dan kerendahan hati untuk mengetuk pintu harapan dari yang meninggikan langit tanpa tiang, menggantung bumi tanpa tali. Sejarah mencatat keselamatan yang selamat, adalah mereka yang memiliki ruang otonom di dalam jiwanya, ruangan kedap yang tidak mampu ditembus oleh fitnah dan/ serangan seberat dan model apa pun.

Pemimpin Redaksi Adikarto.com. Mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan bertanggung jawab mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif dengan kedalaman perspektif.
