
Dialektika, — Segalanya memang sudah teramat jauh berbeda. Kesenjangan sosial menjamur, geopolitik global yang tidak menentu, juga kondisi negara yang tidak ideal penuh drama. Dan mungkin saja, beberapa yang masih berdiri di antara keluarga yang tidak mendukung.
Rasa-rasanya dunia seperti dibayang-bayangi ombak raksasa, banjir bah datang berduyun-duyun menghantam seisi kepala. Planet bumi makin hari semakin sesak penuh kebohongan dan ketidakpastian. Ekonomi yang murat-marit tidak kunjung berpihak pada mustadh’afin (proletar), huru-hara mengepung dari segala penjuru arah, lalu persoalan personal yang ikut menambah beban, mengejar seperti kutukan.
Arus gelombangnya terlalu dan terlanjur dahsyat menghempaskan. Lihat saja wacana perang asia pasifik yang tak berujung, inflasi yang terjadi tak disadari sudah sejak lama, tekanan lahir dan batin tanpa permisi, dan keresahan yang terpampang pada mata orang-orang pinggiran. Semua persoalan bersekutu, membumbung tinggi menjadi satu dan sulit terelakkan.
Saya agak tertegun keheranan dengan beberapa yang masih saja bersantai, menikmati kudapan sembari melihat layar gadget-nya hahahehe. Sementara realitas akan terus menggiring dan menggiling Gen Z hari ini, ngilu rasanya membaca kenyataan.
Lulus sekolah dan kuliah tidak akan menjamin apa-apa kecuali beban moral di pundak. Seolah kerja keras pun tidak lantas cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara ekspektasi sosial berjalan tanpa belas kasihan.
Tekanan itu nyata, dan terasa berlebihan, pihak-pihak yang licik dari industri hiburan mengambil peluang arah navigasi, para influencer turut serta memanfaatkan momentum temporalnya.
Di tengah kekacuan itu, rasanya kita perlu belajar dan berguru dari tokoh legendaris. Jack Kahuna Laguna, yang bukan mentri ekonom, bukan politisi pragmatis, ia adalah ikan berambut pirang, berbadan coklat mengkilat dan juga berotot, seorang peselancar fiktif yang “yaampun ada-ada aja”.
Atas dasar hal-hal yang saya paparkan sebelumnya. Saya pikir, kita butuh role model, sosok figur central yang memberikan opsi-opsi alternatif, melewati gelombang menembus badai menuju cakrawala. Adalah Jack Kahuna Laguna, seorang masterpiece, legenda peselancar dengan papan selancar yang terlalu panjang.
Jack Kahuna Laguna adalah tokoh fiktif yang hidup di sebuah pulau terpencil, salah satu tokoh dari kartun keluarga “SpongeBob SquarePants”. Rasanya pun berlebihan, kalau saya menyebut Jack adalah representasi dari sosok Ratu Adil yang pandai membaca ombak.
Jack Kahuna Laguna, yang dikenal dengan sebutan JKL. Ia adalah sosok yang bijak menakar, tepat mengukur dan menimbang. Sosok yang sudah lama akrab dengan rentetan gelombang besar, JKL tahu betul kulit dan isi dari sejarah yang terus saja berulang.
JKL memang tidak banyak bicara, karena diamnya adalah kedalaman pemahaman akan kondisi realitas kanan dan kirinya. Seperti pepatah tong kosong nyaring bunyinya, air beriak tanda tak dalam. JKL adalah antitesa dari kata-kata mutiara itu.
Demikian pula dengan Gen Z yang berselancar di tengah ombak kehidupan; pekerjaan yang tak menentu, kompetisi yang menggerus kompetensi, dan tekanan hidup yang tak ada habisnya. Dari sinilah, Gen Z tak terkecuali saya, harus berguru pada Jack Kahuna Laguna.
Seperti SpongeBob, Patrick, dan Squidward yang belajar dari JKL, untuk tidak melawan ombak, tapi menyelami ritmenya, mengikuti arah arus menaiki gelombang yang membawanya pulang.
Pelajaran dari Jack Kahuna Laguna

Jack Kahuna Laguna (JKL) adalah sosok legendaris surfing yang pernah hidup di pulau terpencil. JKL adalah guru spiritual sekaligus surfing dari SpongeBob, Patrick, dan Squidward. Sungguh jauh berbeda, JKL memiliki ketenangan dan metode mengajar yang implisit, dan aneh.
Yang jelas, JKL tidak pernah mendidik dengan ceramah panjang, ia mengajarkan cara mengamati dan mengalami, dengan observing dan tindakan aktual. Contohnya, JKL pernah mengajari SpongeBob, Patrick, dan Squidward untuk menatap api unggun sebagai bagian dari pembelajaran, mana pada nurut pula, sepertinya cuma Squidward yang waras.
Dari episode “SpongeBob SquarePants vs. The Big One”, sekurang-kurangnya saya merilis lima pelajaran dari Jack Kahuna Laguna (JKL) untuk Gen Z menghadapi realitas yang keras hari ini.
1. Kecilkan Ekspektasi dan Teruslah Belajar Ideal
Yang dibutuhin SpongeBob, Patrick, Squidward kan bisa pulang dengan berselancar naik The Big One. Si JKL ini tidak langsung memberi instruksi rinci, “Tarik napas, geser kaki, banting papan!” Tidak!
JKL memulainya dengan menunjukkan, membiarkan SpongeBob dan yang lainnya memperhatikan lalu mencoba. Betapa banyak kita bisa menemukan contoh, tapi tidak banyak yang memberi contoh. Kemampuan observatif dan pengalaman empiris adalah poin krusial dalam pembelajaran.
2. Ketahanan Menghadapi Ketidakpastian
Ketika kabar ombak besar “The Big One” akan datang dan harus dihadapi, JKL memberi tahu bahwa perjalanan pulang mengharuskan mereka menghadapi risiko, “pengorbanan” (tumbal). Salah satu dari SpongeBob, Patrick, atau Squidward mungkin tidak kembali.
Hal semacam ini menunjukkan, bahwa dalam situasi besar, kita harus sadar bahwa tidak semua akan berjalan mulus, akan senantiasa ada risiko, yang diperlukan adalah enam huruf, tiga suku kata, “Ha-da-pi.”
3. Ketenangan adalah Kekuatan
Patrick dan Squidward mengamati JKL lebih jauh, yang mereka amati JKL berselancar selama 2,5 jam. Ia kemudian menyalakan api unggun dan meminta SpongeBob, Patrick, dan Squidward untuk menatap api tanpa berkedip.
JKL mengungkapkan karena hal itu akan menunjukkan rahasia berselancar, tetapi Squidward menolak, dengan alasan itu konyol.
Saat menghadapi gelombang, JKL menunjukkan kepercayaan diri dan ketenangan dalam menghadapi situasi serba sulit, tentu saja lebih efektif daripada panik atau bereaksi berlebihan.
SpongeBob, Patrick, apalagi Squidward yang panik dan ragu mulai belajar, bahwa kemampuan akan datang dari diam yang direnungkan, laku untuk menyimak, dan respons dengan ketelitian.
4. Melihat Sesuatu dari Perspektif Baru
Jack Kahuna Laguna sempat meminta SpongeBob, Patrick, dan Squidward untuk memperhatikan api sepanjang malam. “Look into the fire” sebagai bagian dari pelajaran surfing. “Hmm, masuk akal,” gumam saya.
JKL mengajarkan bahwa kadang kala, solusi tidak akan datang dari aksi-aksi langsung. Boleh jadi alternatif itu berdatangan dari upaya-upaya untuk mengheningkan cipta, fokus mengamati, menunggu, dan membaca sekitar.
5. Pengorbanan Demi Kebaikan yang Lebih Besar
JKL rela mengambil risiko besar untuk menyelamatkan Mr. Krabs dan Cashy (mesin kasir), ketika The Big One mengamuk setiap 1000 setahun sekali saat seluruh planet berjajar lurus. Meskipun JKL mengorbankan diri, akhirnya dia selamat juga.
Dalam beberapa situasi yang ekstrem, bertindak untuk orang lain, tentu saja dengan tulus dan berani akan selalu memerlukan pengorbanan.
Antar Generasi

Ada satu kebiasaan yang tanpa sadar memenjarakan kita (Gen Z), entah membandingkan diri dengan generasi sebelum atau setelahnya. Kita yang mendengar cerita, membaca kisah usia 20-an orang tua dulu sudah membeli tanah, membangun rumah, dengan aset yang luarbiasa.
Sementara kita Gen Z di usia yang sama, di rentang 25-30 misalnya, masih harus hidup di kamar kontrakan, mencari kos dengan keyword “murah” tapi full fasilitas. Kita menghabiskan waktu menjajal cara A, opsi B, dan semua langkah taktis yang nyatanya gagal, gagal, dan gagal.
Dulu seorang ibu bisa membesarkan tiga anak tanpa gelar sarjana, dengan bekal pengalaman hidup dan keteguhan hati, gaji Ayah seharian sudah jauh lebih dari cukup. Sekarang? Gelar sarjana seolah-olah tidak cukup untuk menutup biaya hidup sehari-hari. Title seakan-akan menjadi penghambat untuk tumbuh.
Kerja sudah sambilan, mencari peluang sana-sini, dan masih saja merasa jatah gagalnya masih banyak. Saya bingung, standar hidup gagal dan berhasil itu dasarnya apa?
Sayang sekali kalau perbedaan antara kehidupan Gen Z dan sebelumnya itu disalahartikan, sebagai bentuk kurangnya kerja keras generasi sekarang yang banyak leha-leha, atau malas. Padahal usahanya sama saja.
Bedanya adalah zaman yang terus bergerak berubah. Ekonomi tidak lagi bergerak dengan cara yang sama, harga rumah melambung tak terjangkau, biaya pendidikan dan kesehatan terus meningkat, sementara kesempatan semakin padat.
Suka tidak suka, permainan dan budaya kehidupan kompetitif sudah tidak lagi masuk akal. Wong zaman generasi sebelumnya bermain di level dasar, sedangkan Gen Z langsung masuk ke arena hard mode. Aturan mainnya pun jauh berbeda, garis startnya tidak sama, dan tantangannya semakin kompleks.
Permainan yang Berubah

Hidup dulu dan sekarang benar-benar berbeda level permainannya. Kalau orang tua kita dulu masih bisa masuk ke arena dengan aturan sederhana, kerja, menabung, lalu membeli rumah. Gen Z seperti kita terlempar jauh ke mode expert sedari awal.
Musuh yang kita hadapi adalah tentang jalan untuk membuat sendiri kesempatan. Inflasi akan terus menggerogoti daya beli, krisis global akan datang silih berganti, ekonomi digital terus menuntut kita untuk selalu “online”, dan tekanan sosial dari dunia yang tak pernah tidur.
Sudah barang tentu, yang terjadi selanjutnya adalah amat mudahnya memunculkan perasaan gagal dan tidak berguna. Perasaan tertinggal, merasa tidak cukup, lebih buruk lagi menyalahkan diri sendiri. Padahal kenyataannya berbeda, kita tidak pernah gagal! Yang berubah adalah zamannya. Yang bergeser adalah S&K-nya.
Bertahanlah sedikit lebih lama! Level permainan ini akan membentuk kekuatan kita. Teruskan saja untuk tetap melangkah, mencoba, dan tetap mencari cara untuk tetap hidup. Kita tidak selemah asumsi orang-orang! Kita belajar tangguh sedari awal.
Menolak Perasaan Bersalah

Dari platform A ke platform B, saya mengantongi satu benang merahnya, “Rasa bersalah.” Seolah-olah kita gagal karena belum memiliki apa yang orang tua miliki di usia muda mereka. Seolah kita terlambat, hanya karena standar asumtif tidak berhasil kita capai.
Membandingkan diri sendiri dengan generasi sebelumnya hanya akan memperburuk keadaan. Lintasannya sungguh berbeda, kita berlari di jalan yang penuh tanjakan, di tengah dunia yang bergerak lebih cepat, lebih mahal, dan lebih menekan.
Sudah saatnya kita berhenti merasa malu! Berhenti menganggap diri kurang! Berhenti menilai diri dengan kacamata orang lain! Kita tidak rusak, kita tidak gagal! Kita hebat masih bisa bertahan, bekerja, berkarya, dan bermimpi di kondisi yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Ketangguhan itu perlu terlatih, lelahlah sehancur-hancurnya dan teruslah berharap!
Pesan Jack Kahuna Laguna

“Apapun yang terjadi, tetaplah bernapas!” Jack Kahuna Laguna.
Alih-alih meminta SpongeBob, Patrick, atau Squidward untuk menjadi yang tercepat, terkuat, apalagi yang paling hebat. Jack Kahuna Laguna mengingatkan kita untuk menjaga napas, menjaga ritme, agar tidak tenggelam oleh ombak yang datang silih berganti.
Mereka bertiga (kita) belajar hal berbeda. SpongeBob belajar sabar, Patrick belajar tetap tenang dengan ketidak mengertiannya, dan Squidward yang sinis akhirnya menyadari bahwa diam bernapas lebih penting daripada mengeluh.
Bernapas adalah metafora dari semantik-semantik pesan tentang perlawanan dan keteguhan untuk tetap berjalan, melanjutkan hidup, dan melangkah. Bertahan adalah bagian dari kemenangan. Dunia memang berbeda, tapi kita pun berbeda! Tetaplah bernapas!

Pemimpin Redaksi Adikarto.com. Mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan bertanggung jawab mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif dengan kedalaman perspektif.
