
Dialektika, — Banyak orang ingin menjadi penulis. Namun, hanya sedikit yang sanggup bertahan sebagai manusia yang menulis. Bukan karena mereka kehabisan kata-kata atau tidak memiliki ide hebat. Tapi karena menulis menuntut satu hal yang sering kali menyakitkan, yaitu kesanggupan untuk tetap duduk saat tak ada satu pun orang yang peduli.
Di kepala, menulis sering kali terlihat romantis. Bayangan tentang ide yang mengalir deras, buku yang terjual ribuan eksemplar, dan apresiasi yang datang bertubi-tubi. Namun, kenyataannya jauh lebih sunyi. Menulis dimulai dari sebuah layar putih yang kosong. Layar itu tidak ramah. Ia menatapmu balik, seolah sedang menghitung berapa lama waktu yang kau buang hanya untuk mencari satu kalimat pembuka. Di sana tidak ada tepuk tangan. Tak ada jaminan tulisanmu akan bermakna bagi orang lain. Kau hanya sendirian, bertarung dengan pikiranmu sendiri yang sering kali berisik namun tak berbentuk.
Ada satu kesalahpahaman besar: bahwa yang bertahan adalah mereka yang paling berbakat. Kenyataannya? Yang bertahan justru mereka yang paling keras kepala. Mereka yang tetap duduk meski punggungnya sudah menjerit. Mereka yang tetap mengetik meski tahu tulisannya mungkin hanya akan dibaca oleh dirinya sendiri. Mereka yang tetap mengirim naskah meski kotak masuknya penuh dengan penolakan. Menulis bukan lomba lari cepat demi pengakuan instan. Ia adalah maraton sunyi. Dan tidak semua orang tahan menempuh jarak sejauh itu tanpa sorak-sorai penonton di pinggir jalan.
Di era media sosial, menulis menjadi sangat berisik. Kita dipaksa memuja angka. Like. Share. View. Angka-angka itu diam-diam menjadi penentu nilai diri. Tulisan yang sepi dianggap gagal. Tulisan yang ramai dipuja sebagai keberhasilan. Inilah godaan terbesar yang mematikan banyak penulis: Keinginan untuk selalu diakui. Banyak orang mulai kehilangan arah. Mereka tidak lagi menulis karena ada sesuatu yang harus dikeluarkan dari batinnya. Mereka menulis karena ingin disukai. Mereka mengejar tren, menyembah algoritma, dan perlahan-lahan membunuh kejujuran mereka sendiri demi segelintir komentar manis. Padahal, tidak semua tulisan penting harus ramai. Dan percayalah, banyak tulisan yang ramai sebenarnya sama sekali tidak penting.
Ada fase di mana menulis bukan lagi soal pembaca atau algoritma. Menulis adalah cara kita berbicara dengan diri sendiri. Ia memaksa kita untuk jujur pada hal-hal yang biasanya kita sembunyikan. Menulis itu melelahkan. Bukan di jemari, tapi di batin. Ia adalah proses membedah diri sendiri tanpa bius. Tulisan yang benar-benar “hidup” jarang lahir dari niat untuk tampil hebat. Ia lahir dari kegelisahan yang tak punya nama dan dari kejujuran yang telanjang. Tulisan seperti itu mungkin tidak akan viral hari ini, tapi ia akan bertahan jauh lebih lama daripada tren mana pun.
Menulis memang sepi. Dan mungkin memang tidak ditakdirkan untuk semua orang. Dunia ini terlalu bising, dan menulis adalah cara kita agar tidak ikut gila di dalamnya. Kalau kamu masih menulis sampai hari ini meski jemarimu sering ragu, meski tulisanmu sering diabaikan—lanjutkanlah. Jika kau berhenti menulis hanya karena dunia tidak peduli, maka sejak awal kau memang tidak pernah mencintai kata-kata. Tapi jika kau terus menulis meskipun dunia pura-pura tidak melihat, maka selamat: kau adalah penulis yang sesungguhnya. Menulis bukan sekadar aktivitas. Bagi kita, menulis adalah cara untuk tetap bernapas.

Pendidik multi-disiplin teknologi informasi digital, konseling tasawuf, dan kepanduan. Saya mengabdikan diri untuk berupaya menumbuhkan, dan menyeimbangkan kecerdasan siswa dari literasi digital, kedalaman rasa, serta bimbingan untuk menghadapi tantangan zaman. Mendidik adalah menata sistem, menenangkan hati, dan melatih aksi.
