
Dialektika, — Tahun 2004 saat saya masih duduk di bangku kelas 4 SD, saya membaca salah satu buku paket kesenian dan tidak sengaja menemukan satu lukisan karya Affandi berjudul ‘Perahu Jukung’. Saya masih ingat betul, waktu itu saya sedang sering-seringnya mengikuti kompetisi menggambar.
Saya sangat suka dengan seni, namun saya merasa bahwa seni yang diajarkan guru saya di sekolah cukup membuat saya tidak merasa bebas. Garis dan bentuk lain diatur sehingga kita tidak bisa membuat karya seni yang idealis. — Setelah besar, saya menyadari bahwa guru hanya mengarahkan dan murid tetap dibebaskan untuk memilih gaya seninya sendiri.
Lukisan Affandi sedikit banyak menggelitik saya karena lukisannya tidak seperti lukisan yang saya biasa lihat di buku ataupun di galeri seni sekolah saya. Dari dekat, saya tidak bisa melihat bahwa itu adalah sebuah bentuk lukisan, hanya coretan berulang yang tidak jelas. Namun saat meliatnya dari jauh , terlihat jelas itu adalah bentuk sebuah perahu nelayan.
Lukisan tersebut terpatri sangat dalam di benak saya. Affandi, adalah salah satu seniman yang saya simpan di kepala bertahun-tahun di samping Van Gogh, Salvador Dali dan juga Claude Monet. Lukisan Affandi entah bagaimana terbawa sampai sekarang. Saya melihat kebebasan dalam karyanya. Tidak terbatas oleh bentuk. Murni hanya imajinasi dengan pola coretan berulang yang membantuk sebuah objek. Benar-benar bebas.
Tahun 2011 saat teknologi sudah mulai bebas diakses, saya mulai mencari karya Affandi yang lain dari website dan YouTube. Perlahan, gaya menggambar saya juga sedikit mengikuti pola coretan beliau. Seperti garis-garis tidak beraturan yang benar-benar tidak memiliki pola, yang pada akhirnya saya sebut dengan Scribble. Karya Affandi yang lainnya begitu mengagumkan, dan benar-benar berpikir bahwa jiwa Affandi seperti karyanya yang tulus.
Gaya yang Bebas


Ekspressionisme, gaya yang dikenalkan Affandi melalui lukisannya. Pada akhirnya saya tahu kenapa karya itu terlihat sangat bebas, karena gaya lukisannya adalah ekspressionisme. Aliran ini menekankan pada ekspresi perasaan dan emosi subjektif dari seniman pembuatnya. Bukan hanya representasi dari ojeknya saja.
Walaupun begiitu, bukan berarti Affandi tidak bisa bertindak ‘rapi’ dalam melukis. Salah satu karya yang paling fenomenal sampai sekarang adalah lukisan bergaya realisme berjudul ‘Ibu’. Lukisan tersebut dibuat untuk menunjukkan rasa cinta Affandi kepada sang Ibu. Lukisan Ibu dibuat saat Affandi masih menganut gaya lukis realisme di awal karirnya.
Tahun 2022 saya berkesempatan pertama kali mengunjungi museum Affandi di Yogyakarta. Awal masuk sudah mengagumkan. Saya bisa melihat dari dekat siluet wajah Affandi yang dibuat patung. Selain itu, salah satu karyanya ‘Kebijaksanaan dari Timur’ juga dibuatkan versi 3 dimensinya yang dipasang di pintu masuk.
Menakjubkan. Pada akhirnya saya bisa melihat secara dekat karya Affandi bahkan satu per satu – kecuali beberapa karyanya yang saat itu sedang diikutkan pameran ke Swiss.
Luar biasa, saya bisa melihat dari dekat betapa syaraf-syaraf tangan Affandi begitu lihai membuat goresan. Bahkan dengan jari secara langsung, beliau bisa menciptakan lukisan ‘Adu Ayam’. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa lukisan Affandi tidak bisa dinikmati dari dekat. Perlu jarak tertentu untuk bisa benar–benar memvisualisasikan makna dan maksud dari karyanya.
Salah satu karya yang menggelitik saya adalah lukisan yang saya lupa judulnya, namun di lukisan itu ada wajah Affandi dan istrinya, Maryati Affandi. Lukisan tersebut sempat membuat Maryati merajuk kepada Affandi karena Maryati merasa wajahnya jelek di lukisan itu.
Dari kisah yang pernah saya baca dari berbagai sumber, Affandi sangat mencintai Maryati. Bahkan ketika Maryati memaksa Affandi mengambil istri kedua untuk suatu alasan, Affandi menolak mentah-mentah dan tidak ingin menyakiti hati istrinya.
Sejujurnya, saya mencintai karya Affandi sama seperti Affandi mencintai istrinya. Seluruh karya Affandi terlihat begitu tulus dengan penuh ekspresi.
Saya berkesempatan menyaksikan putrinya, Kartika Affandi sedang melukis di salah satu sudut di museum tersebut. Sangat cantik di masa tuanya. Dari gesture yang ditunjukkan, terlihat jelas semangat dan gairah keseniannya sangat persis dengan sang Ayah. Saya berharap berkesempatan berdialog dengan Ibu Kartika suatu hari nanti.
Pada akhir perjalanan saya di museum tersebut, saya berdoa di atas makam Affandi dan Maryati. Bersebelahan, seperti dua orang yang memang dipersatukan oleh takdir. Affandi juga menciptakan seluruh hidupya seperti seorang seniman sejati. Mengukir cinta, menjadikan segala aspek di hidupnya sebagai sebuah karya.

Penulis dan illustrator yang senang membahas psikologi, filsafat dan estetika kesenian. Hidup menjadi philomath dan mempelajari berbagai bidang disiplin ilmu. Siap membuka mata, telinga dan juga ruang diskusi yang bebas tanpa penghakiman.
