
Adikarto, — Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) memicu sorotan tajam setelah mengonfirmasi bahwa 1.720 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sedang ditutup sementara tetap menerima kucuran dana insentif sebesar Rp 6 juta per hari. Jika diakumulasi, negara harus merogoh kocek hingga Rp 10,3 miliar setiap harinya untuk membiayai dapur-dapur yang tidak beroperasi tersebut.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa langkah ini diambil bukan tanpa perhitungan. Menurutnya, meskipun distribusi makanan dihentikan akibat evaluasi teknis dan standar kualitas, biaya operasional tetap harus dikucurkan demi menjaga keberlangsungan infrastruktur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Skandal atau Solusi? Alasan di Balik Dana Rp 6 Juta
Penutupan 1.720 unit SPPG ini bermula dari temuan audit di lapangan yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian standar keamanan pangan. Namun, keputusan untuk tetap membayar insentif meski dapur tidak mengepul menjadi polemik di masyarakat.
Dadan berdalih, dana tersebut dialokasikan untuk mencegah kerugian massal di pihak mitra dan pekerja. “Aktivitas di dalam SPPG tidak sepenuhnya berhenti. Karyawan tetap masuk untuk mengikuti pelatihan ulang dan perbaikan sistem. Kalau insentif diputus, mereka akan kehilangan pendapatan secara mendadak,” ujar Dadan dalam keterangannya kepada media.
Berikut adalah rincian penggunaan dana Rp 6 juta per hari saat unit dalam status suspend:
- Proteksi Gaji Karyawan: Menjamin ribuan tenaga kerja lokal tidak terkena PHK selama masa evaluasi.
- Biaya Maintenance Alat: Mesin dan peralatan masak berstandar tinggi membutuhkan perawatan listrik dan sterilisasi rutin.
- Sewa Lokasi dan Operasional: Menutup beban tetap (fixed cost) agar mitra tidak gulung tikar.
Audit Total: Higienitas Menjadi Harga Mati
Penghentian sementara operasional ribuan dapur ini dipicu oleh instruksi Presiden untuk tidak menoleransi sedikit pun kesalahan dalam keamanan pangan. BGN mencatat beberapa poin krusial yang menyebabkan 1.720 SPPG tersebut di- suspend:
- Belum Memiliki SLHS: Banyak dapur belum lulus uji Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dari Dinas Kesehatan.
- Kasus Keracunan: Evaluasi ketat dilakukan menyusul adanya laporan gangguan kesehatan pada siswa di beberapa titik uji coba.
- Fasilitas IPAL: Unit yang tidak memiliki pengolahan limbah memadai dilarang beroperasi hingga renovasi selesai.
“Kami lebih baik menghentikan distribusi sementara daripada mengambil risiko kesehatan anak-anak. Tapi di sisi lain, ekosistem dapur ini harus tetap hidup, itulah fungsi dana Rp 6 juta tersebut,” tegas salah satu pejabat BGN.
Jika dikalkulasi secara detail, pemberian insentif kepada 1.720 unit yang tutup ini memberikan beban fiskal yang tidak sedikit. Berdasarkan Juknis BGN, setiap SPPG memiliki jatah biaya fasilitas Rp 2.000 per porsi. Dengan kapasitas rata-rata 3.000 porsi per unit, maka muncul angka Rp 6.000.000.
Angka Rp 10.320.000.000 per hari yang keluar dari kas negara tanpa adanya output makanan ini memancing kritik mengenai efisiensi anggaran. Pengamat kebijakan publik menilai BGN harus segera menetapkan deadline ketat. Jika dalam 30 hari dapur tetap tidak sanggup memenuhi standar, pemberian insentif harus dihentikan total dan izin kemitraan dicabut.
Target Ambisius 35.270 Unit di Akhir 2026
Meski dibayangi kendala operasional pada ribuan unit awal, pemerintah tetap tancap gas. BGN menargetkan pembangunan hingga 35.270 unit SPPG pada akhir tahun 2026. Target ini bertujuan untuk meng-cover seluruh siswa di Indonesia dalam program Makan Bergizi Gratis.
Kejadian suspend pada 1.720 unit ini disebut sebagai “masa pembersihan” untuk memastikan unit-unit baru yang akan dibangun nanti tidak mengulangi kesalahan yang sama. BGN kini mewajibkan setiap SPPG memiliki tenaga ahli gizi khusus dan akuntan untuk mengelola dana operasional agar lebih transparan.
Keputusan tetap membayar dapur yang tutup adalah pertaruhan besar bagi kredibilitas BGN. Di satu sisi, ini adalah langkah penyelamatan ekonomi mikro bagi pekerja dapur, namun di sisi lain, ini menjadi ujian berat bagi transparansi penggunaan pajak rakyat.
Publik kini menunggu hasil audit terhadap 1.720 dapur tersebut. Apakah mereka akan kembali beroperasi dalam waktu dekat, atau anggaran miliaran rupiah tersebut akan terus mengalir tanpa kepastian distribusi makanan kepada siswa yang membutuhkan?

Pemimpin Redaksi Adikarto.com. Mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan bertanggung jawab mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif dengan kedalaman perspektif.
