
Khasanah, — Pernahkah kamu berada di situasi seperti ingin mengutuk sikap seseorang namun di sisi lain merasa mengasihani kehidupannya? Ini mengenai perasaan asing yang kadang-kadang membuat kita merasa aneh.
Tidak jarang, kita sendiri terjebak antara perasaan asing itu. Disebut asing karena perasaan tersebut bukan tipe perasaan yang biasa kita jumpai. Rasa sedih, marah, senang, kecewa, bangga dan sejenisnya merupakan sebuah perasaan yang berdiri sendiri dan tentunya dapat secara jelas kita analisis. Namun kombinasi perasaan-perasaan yang aneh menimbulkan semacam ambivalensi emosi yang kadang membuat kita merasa bingung.
Perasaan paling membingungkan adalah jika kita harus merasakan kesal sekaligus kasihan terhadap seseorang. Satu sisi kita merasa kesal mengingat semua sikap tidak baik yang dibuat oleh seseorang, namun ketika kita mengetahui ada hal menyedihkan dari orang itu bahkan membuat kita sendiri tidak dapat menentukan sikap. Bingung, antara ingin mengutuk atau memberi simpati.
Secara psikologis, kondisi di mana kita membenci perilaku seseorang namun merasa kasihan pada situasinya adalah bentuk kebingungan, dan itu adalah yang sangat wajar. Hal ini terjadi karena otak manusia mampu memproses dua jalur penilaian yang berbeda secara bersamaan.
Dalam psikologi, emosi manusia seringkali melibatkan dua sistem pemrosesan, yang kurang lebihnya mungkin dapat dijabarkan dalam sistem kognitif dan afektif. Kebencian terhadap perilaku mungkin saja didasarkan pada penilaian terhadap sebuah sikap, dan ini adalah rasionalisasi secara kognitif. Hal ini berasal dari sistem berpikir yang menilai tindakan orang tersebut berdasarkan nilai-nilai, keadilan, atau kerugian yang ditimbulkan. Kita membenci perilakunya karena secara rasional tindakan itu dianggap salah, jahat, atau merugikan.
Sementara itu, rasa kasihan terhadap situasi seseorang muncul akibat respon empati atau afektif. Ini adalah respons emosional yang muncul saat kita melihat penderitaan atau ketidakberdayaan orang tersebut. Meskipun perilakunya buruk, otak emosional kita tetap mengenali bahwa ia berada dalam situasi sulit, yang memicu rasa iba secara otomatis.
Ketika kedua perasaan ini muncul, kita mungkin mengalami hal yang sangat amat tidak menyenangkan. Ini disebut sebagai disonansi kognitif, yaitu ketidaknyamanan mental akibat memegang dua keyakinan yang bertentangan. – Jelas tidak mudah memprosesnya!
Pada akhirnya, kita akan merasakan pengalaman tidak seharusnya kasihan pada orang yang kita benci. Atau seharusnya kita tidak merasa benci kepada orang tersebut karena kisah hidupnya penuh dengan iba. Bahkan kita mungkin mencoba merasionalisasi perasaan tersebut dengan mencari alasan mengapa ia berperilaku buruk (misalnya: “dia jahat karena masa lalunya yang kelam”).
Sebenarnya, kita sedang melakukan pemisahan identitas dengan menganggap bahwa perilaku dipandang sebagai sesuatu yang eksternal dan layak dihujat. Sedangkan individu tersebut beserta dengan situasinya dipandang sebagai subjek yang menderita, sehingga memicu rasa kemanusiaan.
Rasa kasihan seringkali bersifat compassion yang merupakan rasa kasihan karena merasakan keadaan yang setara. Kondisi ini adalah transisi emosional yang sangat manusiawi. Fenomena ini semacam sebagai pergeseran dari penghakiman menuju pemahaman.
Secara psikologis, kebencian sering muncul karena kita melakukan atribusi disposisional, yaitu menganggap perilaku buruk seseorang adalah murni karena sifat aslinya yang jahat. Namun, saat mengetahui kisah hidupnya, terjadi pergeseran pemikiran. Melalui pemahaman yang diasah secara tuntas, pikiran kita mulai menghubungkan perilaku buruknya dengan trauma, pengasuhan, atau lingkungan masa lalu. Kita mulai melihat perilakunya bukan sebagai kepribadian, melainkan sebagai mekanisme pertahanan diri atau mekanisme koping yang seringkali salah arah.
Informasi yang akhirnya kita dapat tentang penderitaan seseorang mengaktifkan bagian otak yang memungkinkan kita membayangkan berada di posisi mereka. Ini meruntuhkan tembok kebencian karena orang tersebut tidak lagi terlihat sebagai monster yang satu dimensi, melainkan manusia yang kompleks, rapuh dan mungkin rusak.
Rasa iba muncul untuk mendamaikan fakta bahwa ada penderitaan di balik kejahatan. Psikologi menyebut ini sebagai pengenalan terhadap siklus trauma (hurt people hurt people).
Dari pandangan filosofis, saya menemukan sebuah ungkapan bahwa sesungguhnya pengetahuan adalah penawar. Ada pepatah terkenal:“Tout comprendre c’est tout pardonner” (Memahami segalanya berarti memaafkan segalanya).
Filsuf seperti Spinoza berpendapat bahwa manusia tidak sepenuhnya bebas. Setiap tindakan adalah hasil dari rantai sebab-akibat yang sangat panjang. Bisa jadi berakar dari trauma, kemiskinan, kurang pendidikan. Saat kita mengetahui kisah hidupnya, kuta melihat rantai tersebut. Kebencian memudar karena kita menyadari bahwa dalam kondisi yang sama, siapapun mungkin akan hancur dengan cara yang sama.
Sedangkan Socrates percaya bahwa “tidak ada orang yang berbuat jahat secara sengaja; mereka melakukannya karena ketidaktahuan akan apa yang baik.” Dari sudut pandang ini, perilaku buruk orang tersebut dilihat sebagai bentuk kesakitan batin atau kekeliruan berpikir akibat luka masa lalu. Hal ini yang seringkali memicu rasa iba dari kita daripada kemarahan.
Perasaan aneh memang kadang mengganggu. Singkatnya, perasaan ini menunjukkan bahwa empati kita sebenarnya masih bekerja, namun nilai-nilai moral kita tetap menolak tindakan buruknya. Ini adalah tanda bahwa kita memandang orang tersebut sebagai manusia yang kompleks, bukan sekadar “penjahat” satu dimensi.
Di sinilah pentingnya kontrol diri. Antara perasaan kasihan yang kadang membabi buta, namun jangan sampai meruntuhkan logika di mana ada hal-hal jahat pernah dilakukan secara sengaja. –

Penulis dan illustrator yang senang membahas psikologi, filsafat dan estetika kesenian. Hidup menjadi philomath dan mempelajari berbagai bidang disiplin ilmu. Siap membuka mata, telinga dan juga ruang diskusi yang bebas tanpa penghakiman.
