
Pengantar Filsafat Perempuan
Dialektika, — Sorotan lampu sering mencari sudut yang tepat, menyoroti tempat berdirinya tokoh utama di panggung sejarah. Jalan cerita rentetan sejarah pun tidak akan pernah menarik tanpa cahaya. Pupil mata kita turut membesar begitu bertemu kegelapan, mencari sumber cahaya untuk melihat lebih jelas. Di situlah kita akan temukan siluet-siluet yang mengatur jalannya cerita dari balik layar.
Begitulah kesimpulan dari tulisan sebelumnya, tentang peran dan kerja-kerja perempuan. Tentang arti kesetaraan sebagaimana diinginkan. Bagian pertama mengajak kita menggeser fokus paparazi. Menyelami arti posisi dan porsi dari perempuan. Sosok perempuan yang mengisi dan menopang seluruh sendi-sendi kehidupan.
Saya selalu tertarik dengan sosok perempuan yang tidak haus sorotan. Figur yang sampai hari ini belum saya temukan, penata alur, pengingat, sekaligus partner yang bisa merapikan kusut dan berantakannya rambut saya.
Kehadiran yang tidak kunjung hadir, yang tidak menuntut tepuk tangan. Yang tahu bahwa kekuatan sejati tidaklah terletak pada validasi eksternal. Yang memahami bahwa pondasi jauh lebih penting, daripada kemegahan yang mencakar-cakar langit.
Itulah mutiara-mutiara yang tersembunyi dan tertutup dari banjir bandang data dan informasi. Yang tidak berharap namanya dibaca di kredit akhir, tentu saja! Sudah selayaknya kita pandang perempuan bukan saja sebagai pemeran figuran.
Saya percaya, perempuan yang demikian adalah perempuan yang selalu menjaga kemurnian nilai dirinya. Seperti sumur di padang pasir, mungkin saja tertutup pasir, hilang ditelan fatamorgana, tapi — siapa pun yang menemukan airnya akan hidup.
Kita akan bawa pola baca dan pola pikir itu masuk ke dalam ruang filsafat Islam. Agar diskursus ini tidak berhenti pada romantisme-appeal (daya tarik hidup) atau slogan-slogan yang mudah dijual. Dan untuk itu, kita perlu duduk bersama Murtadha Muthahhari.
Murtadha Muthahhari adalah seorang pemikir yang menolak label “feminis”, tanpa sekaligus menjerumuskan perempuan ke dalam lubang maskulinisme atau budaya patriarki. Saya akan mencoba melacak jejak-jejak pemikiran filsafat perempuan pada sosok intelektual besar.
Dalam paradigma Muthahhari, perempuan tidak dinilai sebagai sebuah ornamen, apalagi disebut sebagai bagian dari replika laki-laki! Tentu saja setelah menimbang, saya sepakat se-iya se-kata bahwa perempuan tidak perlu menunggu perintah-perintah untuk mengambil perannya.
Bagaimana tidak? Racikannya selalu menyuguhkan sesuatu, yang dunia luar pun sering tak mengerti. Di sinilah muncul istilah yang saya gunakan “dapur peradaban”. Pusat komando, barak tempat melatih dan belajar tentera-tentera, sekaligus benteng peradaban.
Satu sektor wilayah yang mampu mengatasi bahan mentah, menumbuhkan potensi, merancang kekacauan dinamis, lalu menyajikannya dalam kemasan menu moral, nalar, dan arah sejarah, ya! Dalam satu waktu yang bersamaan! Seorang koki yang piawai dengan berbagai resep, sekaligus maestro dari resep itu sendiri.
Melalui kacamata Muthahhari, kita akan lihat kenapa posisi perempuan bisa melampaui batas “peran domestik”. Seperti yang bisa kita bayangkan, kalau saja pondasinya runtuh, seluruh bangunan pun akan roboh.
Untuk itu, saya ingin mengajak membongkar seisi dapur. Mencium aromanya, melihat rahasianya, dan memahami logika yang menghidupkan peradaban dari balik pintu tertutupnya. Memahami bagaimana peran perempuan, yang sering luput dari perhatian, justru menjadi kunci bagi kelangsungan peradaban Islam.
Saya melihat bahwa pemahaman Muthahhari tentang keadilan dan perbedaan tidaklah sederhana. Sebuah epistemologi Islam yang menawarkan alternatif diskursus kesetaraan gender, yang tentunya sangat layak kita selami tanpa terperangkap dalam dualisme dangkal.
Telaah terhadap Hak Perempuan

Mula-mula Murtadha Muthahhari membenturkan satu hal yang sering kita telan mentah-mentah, bahwa “persamaan hak” tidak lantas otomatis sama dengan “keadilan”. Muthahhari mencincang argumen feminisme Barat seperti memotong daging, bukan salah dagingnya, tapi cara mengirisnya.
Saya pun menolak konsep persamaan hak absolut yang sering diusung oleh feminisme Barat. Menuntut kesamaan hak secara total antara perempuan dan laki-laki, adalah pemahaman yang dangkal.
Saya menemukan satu gap pandangan Muthahhari, bahwa “standar hak” yang dibawa Barat itu menjadikan laki-laki sebagai patokan ukuran. Hasilnya perempuan seolah diminta meniru. Seakan suatu hak dianggap sah, kalau bentuknya sama persis dengan hak laki-laki.
Kenapa musti beranggapan bahwa laki-laki adalah “model ideal”, alhasil perempuan hanya dipaksa untuk meniru hak-hak tersebut. Muthahhari juga berpendapat bahwa hak-hak perempuan harus didasarkan pada kodratnya yang unik, bukan hanya karena laki-laki memilikinya.
Kalau begitu caranya, berarti kita bukan bicara kesetaraan, tapi duplikasi. Konsep hak yang seperti itu adalah konsep yang mengabaikan bentuk aslinya, yang ujung hilirnya menghilangkan identitas dari perempuan.
Menyamakan hak dalam segala aspek justru mengabaikan keadilan sejati, yang harusnya mengakomodasi perbedaan. Hak yang sesuai dengan fitrah perempuan jauh lebih berharga, daripada hak yang sama persis namun tidak relevan.
Dalam paradigma Muthahhari, hak yang lahir dari fitrah perempuan lebih bernilai ketimbang hak hasil fotokopi dari model laki-laki. Menyamakan hak dalam segala hal sama saja dengan memberikan semua orang sepatu ukuran 42 lalu menyebutnya “adil”. Ada yang kebesaran, ada yang kesakitan, tapi semua dipaksa lalu mengatakan, “Ini ideal.”
Pandangan itu adalah kritik tajam terhadap pandangan Barat, yang seringnya hanya mentransposisi hak-hak laki-laki kepada perempuan. Akibatnya perempuan kehilangan jati diri, dan terjebak dalam tuntutan yang tidak sesuai dengan kodratnya.
Tidak sampai di situ, Muthahhari membedah hal yang sering dicampuradukkan, perbedaan tidak sama dengan ketidaksetaraan. Fitrah laki-laki dan perempuan memang berbeda, tapi beda itu seperti dua jalur sungai yang menuju laut yang sama, bukan tanda satu lebih mulia dari yang lain.
Muthahhari dengan tegas membedakan antara perbedaan (differences) dan ketidaksetaraan (inequality). Perbedaan fitrah antara laki-laki dan perempuan tidak lantas menjadikan salah satunya inferior (bermutu rendah).
Belum lagi menyangkut definisi keadilan versi Muthahhari, yang mengguncang tafsir populer. Keadilan tidak berarti “semua dapat bagian yang sama”. Keadilan lebih pas diartikan bahwa, “Semua dapat bagian yang tepat.” Aturannya sederhana, “Tempatkan sesuatu di tempatnya, maka ia akan bekerja sebagaimana mestinya.”
Keadilan sejati menuntut agar setiap pihak mendapatkan perlakuan yang proporsional dan relevan dengan kodrat serta kebutuhannya. Sedangkan laki-laki dan perempuan diciptakan dengan keunikan masing-masing untuk menciptakan harmoni, selaras pada keseimbangan kehidupan.
Contohnya hukum Islam, laki-laki diwajibkan menafkahi, perempuan berhak menerima mahar dan bebas dari kewajiban serupa. Dua peran berbeda, tapi nilainya setara dalam konstruksi peradaban. Konsep keadilan berbeda yang tidak diskriminatif.
Seakan Muthahhari sedang mengatakan, “Keseragaman bukanlah tujuannya! Justru yang menjaga harmoni itu adalah pembagian peran yang masuk akal, yang tidak memaksa semua orang memakai seragam ukuran sama.”
Begitulah manifesto keadilan yang memberikan hak dan kewajiban sesuai porsinya, menunjukkan bahwa perbedaan peran tidak sama dengan ketidaksetaraan nilai.
Dapur Peradaban dan Perempuan

Dapur peradaban adalah istilah sederhana yang menggambarkan konsep kesetaraan gender. Alih-alih berfungsi untuk menyamarkan dominasi patriarki. Dengan kesadaran penuh, istilah yang saya tawarkan adalah cara untuk menunjuk jantung dari bangunan sosial yang diungkapkan Muthahhari.
Muthahhari menempatkan porsi “rumah tangga” sebagai hulu dan/ titik awal peradaban itu sendiri. Sekali lagi, di dalamnya ada peran penting perempuan. Penentu rasa dan arah dari segala sesuatu yang akan lahir darinya.
Tapi terlalu sederhana juga, kalau yang kita bayangkan dari dapur hanya tungku, wajan, cucian piring atau perabotannya. Dapur peradaban adalah ruang konseptual, tempat terdidiknya generasi baru diolah menjadi pribadi yang berkarakter.
Entah kenapa, saya teramat benci dengan representasi sosok ibu, yang digambarkan hanya sebagai pengasuh seperti yang berkali-kali direproduksi brosur kesehatan keluarga.
Ibu adalah figur central yang membentuk lanskap batin anak-anaknya, menanamkan nilai dan keyakinan dengan cara yang tidak mungkin direplikasi oleh institusi manapun.
Muthahhari juga menegaskan bahwa kualitas moral sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas moral rumah tangganya. Betul! Rumah tangga bergantung pada perempuan yang memegang kendali pendidikan pertama, yang juga dikepalai oleh Ayah, “al ummu madrasatul ula, wal abu mudiiruha.”
Muthahhari sangat menekankan, bahwa kebaikan tata masyarakat secara keseluruhan bermula dari kebaikan yang tercipta di dalam rumah tangga. Rumah tangga yang sehat, secara moral dan spiritual, akan melahirkan individu-individu yang juga sehat dan bernilai (value) bagi etika sosial.
Menyebut peran domestik sebagai sesuatu yang kecil atau “tidak produktif” sama saja dengan menutup mata terhadap proses paling fundamental dalam sejarah peradaban. Justru di ranah yang jarang sekali disorot inilah, api-api kecil dinyalakan, dijaga, dan diwariskan.
Api yang tetap terjaga nyalanya, tanpa membakar sekelilingnya. Sebuah pekerjaan yang tidak dapat disederhanakan menjadi statistik. Apalagi dibatasi dalam laporan kerja dan/ kinerja.
Perempuan dalam perspektif Muthahhari memegang peran filosofis dan transformatif yang agung luar biasa, ia menyebutnya Ummul Kitab peradaban, kitab induk yang dari padanya segala lembar sejarah manusia mendapatkan bentuk awalnya.
Peradaban yang gemilang membutuhkan tonggak yang kokoh sebagai pondasinya. Perempuan bertanggung jawab untuk menciptakan iklim etis, moral, dan spiritual dalam keluarga.
Dikotomi Perempuan Publik dan Domestik

Murtadha Muthahhari tidak pernah menghendaki area perempuan yang terisolir dari kehidupan, perempuan yang hidup terkurung di dapur, di kamar atau di halaman belakang rumah. Tapi, Muthahhari juga tidak memuja gagasan bahwa satu-satunya jalan pembebasan perempuan adalah dengan memindahkannya ke panggung depan.
Dikotomi “publik versus domestik” adalah jebakan intelektual yang miskin imajinasi. Sebuah cara pandang yang memaksa perempuan memilih salah satu sayapnya, lalu memotong yang lain.
Muthahhari membawa kerangka Falsafah Perempuan dalam Islam, lalu menunjukkan pintu ke ruang publik yang tidak pernah digembok rapat. Perempuan bisa menjadi penuntut ilmu, mengajar, bahkan ikut serta dalam politik, selama langkahnya tetap berpijak pada prinsip-prinsip Islam dan harmoni keluarga tidak dikorbankan di altar ambisi.
Tidak serta-merta mengartikan keluarga sebagai penjara, mari kembali lagi pada satu alasan prinsipil, bahwa perempuan adalah pondasi yang menyangga seluruh bangunan sosial. Yang terpenting, setiap peran publik harus selaras dengan fitrah perempuan, kesatuan tonggak dan kekuatan transformatif di ruang publik.
Pengaruh yang lahir dari “dapur peradaban” bukanlah pengaruh yang berhenti di ambang pintu rumah. Figurnya perlu merembes keluar, masuk ke ruang-ruang publik, membentuk cara masyarakat berpikir, berdebat, dan mengambil keputusan.
Perempuan yang kukuh secara moral dan matang secara spiritual akan melahirkan generasi yang tangguh dari rumah, di jalanan, di kelas-kelas universitas, dan di meja-meja perundingan politik.
Muthahhari turut menolak untuk mengukur kekuatan perempuan dari seberapa sering namanya muncul di baliho atau media. Kita akan melihat dari kemampuannya membangun pondasi moral yang mempengaruhi arah peradaban — baik dengan duduk di kursi parlemen, mengajar di ruang kelas, maupun menyeduh teh sambil membicarakan masa depan anak-anaknya.
Kemampuan mengendalikan naskah adalah pangkal kekuatan yang tidak dibentuk dari bidang tubuh. Lain lagi dengan sikap kuda-kuda yang dilatih oleh figur laki-laki, yang mungkin akan saya bahas pada kesempatan pertemuan yang lain.
Perempuan boleh menjadi seorang diplomat yang mahir, yang disayangkan hanya ketika nilai yang ia tanamkan pada generasi penerusnya rapuh, maka apa jadinya peradaban selanjutnya? Tidak lebih daripada dekorasi sementara.
Begitu juga sebaliknya, seorang perempuan yang jarang muncul di ruang publik, tapi menanamkan visi dan etika pada anak-anaknya, adalah pemegang kendali atas naskah besar sejarah. Dan di titik inilah, “belakang layar” posisi strategis yang menentukan, dan bukan lagi wilayah yang tidak penting sama sekali.
Perempuan sebagai Penulis Resep Kehidupan

Seluruh lajur argumen yang kita lalui bermuara pada satu hulu dan hilir yang sama. Murtadha Muthahhari mengajak kita menanggalkan kacamata buram yang hanya melihat perempuan lewat ukuran “persamaan”. Karena Islam menawarkan keadilan yang sesuai dengan fitrah unik perempuan.
Falsafah perempuan di dalam Islam tidak pernah menawarkan imitasi hak-hak laki-laki, begitulah kira-kira Muthahhari, mengedepankan keadilan yang tahu cara menghargai perbedaan.
Keadilan yang sama sekali tidak memaksa keseragaman, keadilan yang menempatkan hak pada takarannya yang pas — seperti bumbu micin, “Harus pas.” Nggak enak kalau kurang, eneg kalau kebanyakan.
Jangan salah sangka! Dapur peradaban dalam kerangka yang saya tawarkan sama sekali tidak bermaksud mengasingkan perempuan dari sejarah. Justru di dalam dapur itulah, poros dan titik kendali berada, tempat mengasah moral-spiritual generasi ditentukan, kunci mencipta jejak abadi sejarah, posisi strategis yang memiliki daya dobrak fundamental.
Dan benar saja! Tidak semua kekuatan membutuhkan panggung dengan kerlip lampu. Tentang suatu peran lokomotif yang memutar roda sejarah dari balik layar. Maka, jika menilai perempuan hanya sebagai objek penerima validasi, sama artinya dengan bentuk kesesatan yang nyata.
Dan ingatlah, perempuan tidak diperuntukkan hanya untuk menerima keputusan. Perlulah bagi laki-laki juga untuk mengikut sertakan peranannya. Perempuan adalah subjek yang juga menyusun notasi kehidupan, lalu menyerahkannya untuk dimainkan.
Perempuan dengan segala kemutiaraannya, dengan kemampuannya menulis resep kehidupan, mengukur, mencampur, dan meracik nilai yang akan menetap di lidah-lidah sejarah. Kita perlu menengok lagi komposisinya, melihat seberapa besar suhu dan nyala api itu harus tetap terjaga, lalu mencipta abadi peradaban yang berkala.
Tulisan ini dibuat bukan untuk meninggikan derajat perempuan. Frasa “meninggikan” sama artinya dengan meng-aamiin-ni posisi kerendahan perempuan hari ini. Tulisan ini juga tidak disusun kata per katanya untuk mendorong sosok perempuan agar lebih jumawa dihadapan laki-laki.
Sumber: Filsafat Perempuan dalam Islam – Hak Perempuan dan Relevansi Etika Sosial oleh Murtadha Muthahhari.

Pemimpin Redaksi Adikarto.com. Mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan bertanggung jawab mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif dengan kedalaman perspektif.
