Menemukan Makarya di Gramedia Matraman, Oase Literasi dan Secercah Harapan untuk Indramayu

Editorial Summary

  • Bulan maret 2025 lalu, aku mendapat kesempatan yang menyenangkan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman, Jakarta Timur.
  • Selama bertahun-tahun, masyarakat Indramayu baru saja memiliki toko buku Gramedia, tepatnya bulan Juni 2025 lalu.
  • Bagi siapa pun yang suatu saat berkunjung ke Jakarta Timur, aku sangat merekomendasikan untuk mampir ke Gramedia Matraman dan menyempatkan diri mengunjungi Makarya.
Buku esai Gramedia Literasi nasional Gramedia Matraman Jakarta Timur Kota Cirebon

Bulan maret 2025 lalu, aku mendapat kesempatan yang menyenangkan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman, Jakarta Timur.

– Menemukan Makarya di Gramedia Matraman, Oase Literasi dan Secercah Harapan untuk Indramayu https://adikarto.com/menemukan-makarya-di-gramedia-matraman-oase-literasi-dan-secercah-harapan-untuk-indramayu/ ESAI, β€” Bulan maret 2025 lalu, aku mendapat kesempatan yang menyenangkan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Tujuan kedatanganku bukan sekadar berbelanja buku, melainkan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan oleh komunitas bincang buku nonfiksi Gramedia. Bagi seseorang yang suka dunia literasi, kesempatan seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Dewinta Ayuning Zulfa Dialektika
Makarya adalah perpustakaan yang berada di dalam area Gramedia Matraman. Konsep ini terasa unik karena memadukan fungsi toko buku dan ruang baca dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Foto: Dok. Istimewa Dewinta. A. Zulfa.

ESAI, β€” Bulan maret 2025 lalu, aku mendapat kesempatan yang menyenangkan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Tujuan kedatanganku bukan sekadar berbelanja buku, melainkan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan oleh komunitas bincang buku nonfiksi Gramedia. Bagi seseorang yang suka dunia literasi, kesempatan seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Rasanya sangat bahagia ketika berada di tengah orang-orang yang sama-sama memiliki hobi membaca buku. Pada acara bedah buku, gagasan-gagasan baru bertemu, sudut pandang yang berbeda saling berdialog, dan pengetahuan berkembang melalui percakapan seru.

Kunjungan ini juga menjadi pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di Gramedia Matraman. Selama ini aku hanya mendengar cerita tentang besarnya toko buku tersebut dari teman-teman yang tinggal di Jakarta.

Sebagai warga daerah, aku memang tidak memiliki akses yang mudah terhadap toko buku besar dengan koleksi lengkap.

Biasanya jika ingin berburu buku, aku harus pergi ke Kota Cirebon terlebih dahulu. Pastinya perjalanan itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan setiap saat.

Karena itulah, setiap kali memasuki toko buku besar, aku selalu merasa seperti anak kecil yang baru memasuki taman bermain. Mataku sibuk menyapu rak demi rak, membaca judul-judul yang menarik perhatian, dan membayangkan petualangan yang tersimpan di balik setiap halaman.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Indramayu baru saja memiliki toko buku Gramedia, tepatnya bulan Juni 2025 lalu.

Pilihan tempat membeli buku relatif terbatas. Kehadiran toko buku besar sering kali menjadi impian bagi banyak pencinta literasi di daerah. Sebab, toko buku bukan hanya tempat bertransaksi, melainkan juga ruang bertemunya ide, pengetahuan, dan inspirasi.

Karena itu, kami merasa sangat antusias Gramedia telah hadir di Indramayu. Lokasinya berada di Mall Indramayu yang baru dibangun. Kabar tersebut tentu menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya para pelajar, mahasiswa, guru, dan pecinta buku.

Mungkin bagi sebagian orang yang tinggal di kota besar, kehadiran sebuah mal atau toko buku hanyalah hal biasa. Namun bagi daerah yang selama ini memiliki keterbatasan fasilitas publik, kehadiran ruang-ruang baru seperti ini memiliki makna yang lebih besar.

Bahkan bisa jadi menjadi simbol perubahan, perkembangan, sekaligus harapan akan tumbuhnya budaya belajar yang lebih baik.

Namun, ada satu hal yang paling membekas dalam kunjunganku ke Gramedia Matraman. Bukan hanya acara peluncuran bukunya, bukan pula koleksi bukunya yang melimpah. Hal yang paling menarik perhatianku tertuju pada sebuah ruang baca, pojok baca itu bernama Makarya.

Sudut Pandang Baru Membaca Buku

– Menemukan Makarya di Gramedia Matraman, Oase Literasi dan Secercah Harapan untuk Indramayu https://adikarto.com/menemukan-makarya-di-gramedia-matraman-oase-literasi-dan-secercah-harapan-untuk-indramayu/ ESAI, β€” Bulan maret 2025 lalu, aku mendapat kesempatan yang menyenangkan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Tujuan kedatanganku bukan sekadar berbelanja buku, melainkan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan oleh komunitas bincang buku nonfiksi Gramedia. Bagi seseorang yang suka dunia literasi, kesempatan seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Dewinta Ayuning Zulfa Dialektika
Ruang depan Makarya. Sumber: Dok. Istimewa Dewinta. A. Zulfa

Makarya adalah perpustakaan yang berada di dalam area Gramedia Matraman. Konsep ini terasa unik karena memadukan fungsi toko buku dan ruang baca dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Ketika pertama kali mendengar namanya, aku langsung penasaran dan ingin melihat seperti apa suasana di dalamnya.

Untuk menuju Makarya, pengunjung harus naik ke lantai satu menggunakan eskalator. Lantai paling bawah merupakan area dasar yang dipenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan sehari-hari. Di sana tersedia aneka aksesori, peralatan olahraga, mainan anak, tas, dompet, alat tulis, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Suasananya cukup ramai dan dinamis. Jika dilihat sekilas, area tersebut bahkan mengingatkanku pada toko serba ada yang menyediakan hampir semua kebutuhan masyarakat modern.

Ketika naik ke lantai satu, suasana mulai berubah. Keramaian perlahan tergantikan oleh nuansa yang lebih tenang. Di sinilah Makarya berada. Ruangan ini terasa nyaman dan mengundang siapa saja untuk duduk, membuka buku, lalu melupakan waktu sejenak.

Sementara itu, lantai dua menjadi surga bagi para pemburu buku. Rak-rak tinggi dipenuhi karya sastra, novel populer, buku pengembangan diri, hingga karya-karya penulis ternama Indonesia. Nama-nama seperti Joko Pinurbo, Dee Lestari, Ika Natassa, Aan Mansyur, J.S. Khairen, dan Tere Liye hadir berdampingan dalam satu ruang yang sama.

Sebagai seseorang yang senang membaca, aku merasa seperti menemukan harta karun. Rasanya sulit menahan diri untuk tidak berhenti di setiap rak dan membuka halaman demi halaman buku yang menarik perhatian.

Rasa penasaran membuatku bertanya kepada salah seorang petugas mengenai tujuan dibangunnya Makarya. Jawaban yang aku terima ternyata sangat menarik.

Makarya hadir sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Gramedia ingin menyediakan ruang yang nyaman agar orang-orang dapat menikmati buku tanpa merasa terikat oleh suasana formal yang sering kali melekat pada perpustakaan konvensional.

Membaca Tanpa Sekat Formalitas

– Menemukan Makarya di Gramedia Matraman, Oase Literasi dan Secercah Harapan untuk Indramayu https://adikarto.com/menemukan-makarya-di-gramedia-matraman-oase-literasi-dan-secercah-harapan-untuk-indramayu/ ESAI, β€” Bulan maret 2025 lalu, aku mendapat kesempatan yang menyenangkan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Tujuan kedatanganku bukan sekadar berbelanja buku, melainkan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan oleh komunitas bincang buku nonfiksi Gramedia. Bagi seseorang yang suka dunia literasi, kesempatan seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Dewinta Ayuning Zulfa Dialektika
Ruang dalam Sumber: Dok. Istimewa Dewinta. A. Zulfa

Konsep ini menurutku sangat relevan dengan kebutuhan generasi sekarang. Banyak orang sebenarnya ingin membaca, tetapi mereka membutuhkan suasana yang lebih santai, ramah, dan cozy.

Di Makarya, pengunjung dapat membaca sambil menikmati kopi atau camilan. Kehadiran aroma kopi yang hangat berpadu dengan tumpukan buku menciptakan pengalaman membaca yang berbeda. Membaca tidak lagi terasa seperti kewajiban, melainkan menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Aku jadi membayangkan kaya gini: Adanya seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir, seorang pekerja yang ingin beristirahat sejenak dari rutinitas kantor, atau seorang ibu yang mencari waktu tenang di sela kesibukan rumah tangganya. Tentulah si Makarya ini, mampu memberikan ruang bagi semua orang untuk berjumpa dengan buku dalam suasana yang disesuaikan background pengunjungnya.

Menjalin Kedekatan Antara Pembaca dan Buku

– Menemukan Makarya di Gramedia Matraman, Oase Literasi dan Secercah Harapan untuk Indramayu https://adikarto.com/menemukan-makarya-di-gramedia-matraman-oase-literasi-dan-secercah-harapan-untuk-indramayu/ ESAI, β€” Bulan maret 2025 lalu, aku mendapat kesempatan yang menyenangkan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Tujuan kedatanganku bukan sekadar berbelanja buku, melainkan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan oleh komunitas bincang buku nonfiksi Gramedia. Bagi seseorang yang suka dunia literasi, kesempatan seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Dewinta Ayuning Zulfa Dialektika
Ruang dalam Makarya. Sumber: Dok. Istimewa Dewinta. A. Zulfa

Menariknya lagi, keberadaan Makarya juga menjadi solusi bagi kebiasaan sebagian pengunjung yang membuka segel plastik buku di rak penjualan. Dengan menyediakan ruang baca khusus, pengunjung dapat membaca koleksi yang tersedia tanpa harus merusak buku yang dijual.

Mendengar penjelasan tersebut, aku tidak bisa menahan senyum. Aku jadi teringat masa-masa ketika sering berkunjung ke Gramedia Cirebon.

Saat itu, aku kerap menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku yang sudah terbuka segelnya. Bukan karena tidak ingin membeli, melainkan karena ingin mengenal isi buku terlebih dahulu sebelum memutuskan membawanya pulang.

Bagi sebagian orang, mungkin pengalaman itu terdengar bukan hal yang spesial. Namun bagi pencinta buku, membaca beberapa halaman pertama sering kali menjadi momen yang menentukan. Dari sanalah hubungan antara pembaca dan buku mulai terjalin.

Hal lain yang membuatku kagum adalah konsistensi Gramedia dalam mengadakan berbagai kegiatan literasi. Bedah buku, diskusi, peluncuran karya, hingga pertemuan komunitas rutin diadakan untuk menghidupkan budaya membaca.

Aku melihat banyak peserta yang datang dengan antusias. Mereka tidak sekadar hadir untuk mendengarkan pembicara, tetapi juga aktif bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman membaca. Pemandangan seperti ini memberikan harapan bahwa budaya literasi masih terus tumbuh di tengah derasnya arus media sosial dan hiburan digital.

Sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta ke Indramayu, aku terus memikirkan satu hal. Alangkah indahnya jika suasana seperti ini juga dapat tumbuh di Indramayu.

Selama ini, kegiatan diskusi buku atau bedah buku masih tergolong jarang ditemukan di daerah kami. Ada sih, tapi tidak begitu banyak. Komunitas literasi di sebuah kota kecil sudahlah pasti membutuhkan ruang intelektual agar masyarakatnya dapat bertukar gagasan dan memperluas wawasan.

Karena itu, kehadiran Gramedia di Indramayu seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pembukaan toko buku saja. Lebih dari itu, ini adalah peluang untuk membangun ekosistem literasi yang lebih hidup. Harapannya demikian.

Aku membayangkan suatu hari nanti para pelajar, mahasiswa, guru, penulis, penyair, dan pegiat literasi di Indramayu dapat berkumpul dalam satu ruang untuk berdiskusi tentang buku, berbagi karya, atau sekadar berbincang mengenai ide-ide yang mereka miliki.

Bayangkan jika setiap bulan ada bedah buku karya penulis lokal. Bayangkan jika anak-anak muda memiliki tempat untuk mempresentasikan gagasan mereka. Bayangkan jika membaca menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, bukan sekadar kewajiban akademis.

Harapan itu mungkin terdengar agak rumit untuk diwujudkan, tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Kunjunganku ke Gramedia Matraman tak hanya perjalanan menghadiri acara buku. Kunjungan itu menjadi pengingat bahwa literasi membutuhkan ruang yang nyaman, komunitas yang hidup, dan dukungan yang berkelanjutan.

Makarya telah menunjukkan bahwa membaca bisa menjadi aktivitas posituf, berdampak memberikan wawasan namun dibungkus dalam konsep rileks dan menyenangkan.

Sebuah buku tidak harus selalu dibaca dalam suasana sunyi saja. Ia juga bisa dinikmati sambil menyeruput kopi, berbincang dengan teman, atau menghabiskan sore dengan diskusi yang menarik.

Bagi siapa pun yang suatu saat berkunjung ke Jakarta Timur, aku sangat merekomendasikan untuk mampir ke Gramedia Matraman dan menyempatkan diri mengunjungi Makarya. Tempat ini bukan ruang baca biasa, melainkan sebuah pengingat bahwa buku masih memiliki tempat istimewa di tengah kehidupan modernisasi yang melaju serba cepat.

Dan bagiku yang tinggal di Indramayu, semoga kehadiran Gramedia kelak menjadi awal dari tumbuhnya semangat literasi yang lebih kuat. Semoga semakin banyak orang yang menemukan kebahagiaan melalui membaca. Sebab dari sebuah buku, sering kali lahir mimpi-mimpi besar yang mampu mengubah masa depan seseorang.

Mari terus membaca, terus belajar, dan terus menyebarkan semangat literasi di mana pun kita berada. Karena setiap halaman yang kita baca hari ini mungkin saja menjadi jendela yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *