
GLOBAL, — Dua rekor jatuh nyaris bersamaan di Eropa tengah pekan ini, rekor suhu nasional tertinggi sepanjang sejarah Austria, dan rekor ketinggian air terendah di Sungai Danube. Keduanya bukan kebetulan. Gelombang panas ekstrem yang mendorong suhu di Austria hingga 41,2 derajat Celsius (106,2 derajat Fahrenheit), hanya sehari setelah rekor 41 derajat Celsius tercatat di Wina pada Selasa (4/8/2026), berjalan seiring dengan menyusutnya debit sungai yang selama ini menjadi urat nadi energi dan air bersih bagi sepuluh negara, menurut data resmi badan meteorologi GeoSphere Austria.
Dampaknya paling terasa di Hungaria. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) negara itu, Paks terpaksa memangkas produksinya hingga tersisa satu turbin yang masih beroperasi akibat kekurangan air pendingin dari Sungai Danube, kali pertama dalam 44 tahun sejarah operasionalnya produksi pembangkit itu anjlok mendekati nol.
Krisis inilah yang membuat sejumlah peneliti dan pengamat energi, termasuk peneliti keamanan energi Universitas Oslo, Francesco Sassi, ramai memberikan analisis publik soal dampaknya terhadap jaringan listrik Eropa tengah. Perdana Menteri Hungaria Péter Magyar bahkan memilih mengumumkan perkembangan situasi secara langsung lewat akun X pribadinya sepanjang pekan, alih-alih lewat jalur pernyataan resmi biasa, sinyal betapa seriusnya pemerintah Hungaria memandang krisis ini.
Rekor Panas Wina dan Bratislava dalam Hitungan Hari
Rekor pertama tercatat pada Selasa, 4 Agustus 2026, saat stasiun cuaca GeoSphere Austria di kawasan Stammersdorf, Wina, mencatat suhu 41 derajat Celsius, melampaui rekor nasional sebelumnya sebesar 40,5 derajat Celsius yang bertahan sejak Agustus 2013 di Bad Deutsch-Altenburg, Austria Hilir.
Rekor itu tak bertahan lama. Keesokan harinya, Rabu (5/8/2026), suhu di Bad Deutsch-Altenburg, dekat perbatasan Slovakia, naik lagi hingga 41,2 derajat Celsius, angka yang oleh SBS News dikonfirmasi sebagai suhu tertinggi yang pernah tercatat sepanjang sejarah Austria.
Slovakia mengalami hal serupa di hari yang sama: Bratislava mencatat 40,8 derajat Celsius, memecahkan rekor 39,9 derajat Celsius yang baru saja ditetapkan sehari sebelumnya. Pola ini menunjukkan pusat gelombang panas pekan ini benar-benar terkonsentrasi di kawasan timur Austria hingga Slovakia barat.
GeoSphere Austria pun mengeluarkan peringatan merah, level tertinggi untuk cuaca ekstrem, yang mencakup Wina, Burgenland utara, dan Austria Hilir bagian timur laut. Badan itu memperingatkan kombinasi suhu siang ekstrem dan malam yang tetap panas berpotensi menimbulkan tekanan berat pada kesehatan warga: di sejumlah wilayah timur Austria, suhu malam tidak turun di bawah 26 derajat Celsius, kondisi yang oleh badan meteorologi setempat disebut tropennacht atau malam tropis, membuat tubuh manusia dan bangunan lebih sulit mendingin setelah siang yang menyengat.
Gelombang panas ini datang di atas fondasi yang sudah kering. Austria baru saja mencatat Juli terpanas keempat sepanjang sejarah, dengan defisit curah hujan mencapai 90 persen di sejumlah stasiun pengukuran, kondisi yang menurut Menteri Pertanian Austria, Norbert Totschnig, membuat situasi semakin sulit bagi kalangan petani. Kebakaran hutan pun mulai muncul di negara bagian Burgenland, sementara kawasan lahan basah Lobau di Wina berada pada level bahaya kebakaran tertinggi.
Kombinasi panas dan kekeringan berbulan-bulan inilah yang kemudian menekan Sungai Danube. Harian Austria, Kronen Zeitung, melaporkan ketinggian air Danube di wilayah Austria kini berada pada level terendah dalam sejarah pencatatan, periode kekeringan yang disebut sebanding dengan dua tahun terparah sebelumnya, yakni 2003 dan 2018.
Sungai Danube Satu-satunya Pendingin Reaktor
Bagi banyak PLTN, selain menjadi persoalan kekeringan, sungai yang menyusut adalah ancaman langsung terhadap operasional pembangkit. Reaktor nuklir menghasilkan panas dalam jumlah masif yang harus terus didinginkan; sebagian PLTN mengatasi ini dengan menara pendingin yang mendaur ulang air dalam sistem tertutup, sehingga kebutuhan air segar dari sungai relatif kecil. Namun PLTN generasi lama seperti Paks di Hungaria dirancang menyedot air pendingin langsung dari sungai tanpa menara pendingin, begitu debit sungai turun drastis, kemampuan pembangkit untuk beroperasi penuh ikut anjlok.
Paks terletak sekitar 120 kilometer selatan Budapest, dekat kota Dunaszentbenedek, dan menyumbang hampir separuh kebutuhan listrik nasional Hungaria dari empat unit reaktor berteknologi Soviet berusia 44 tahun. Ketinggian Danube yang terus menyusut membuat sistem pompa pengambil air kesulitan memenuhi kebutuhan pendinginan reaktor.
Berdasarkan data World Nuclear News, Otoritas Tenaga Atom Hungaria mencatat Unit 3 mulai dihentikan pada 29 Juli setelah dayanya diturunkan bertahap sejak sehari sebelumnya. Unit 1 menyusul dihentikan pada 1 Agustus, sementara Unit 2 dan Unit 4 masing-masing dikurangi hingga separuh kapasitas normalnya. Akibatnya, produksi listrik Paks yang biasanya mencapai 2.000 megawatt sempat anjlok hingga tersisa sekitar seperempat dari kapasitas normal pada awal Agustus, bahkan menurut sejumlah laporan, produksi sempat jatuh hingga hanya 240 megawatt pada dini hari sebelum kembali naik.
Magyar, yang menjabat sejak terpilih dalam pemilu April lalu, memperingatkan publik pada Senin (3/8/2026) bahwa lima hari ke depan akan menjadi periode paling kritis. “Hari-hari tersulit ada di depan kita,” katanya, seperti dikutip CNN. Ia menyebut unit terakhir yang masih beroperasi berpotensi turut dihentikan jika ketinggian air Danube kembali turun, dan meminta dunia usaha serta rumah tangga menekan atau menjadwalkan ulang konsumsi listrik mereka, khususnya pada pukul 17.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Datanya cukup mengkhawatirkan: ketinggian air Danube di titik pengukuran Paks tercatat minus 131 sentimeter pada 1 Agustus, jauh di bawah rekor terendah sebelumnya yang tercatat pada 2018. Operator pembangkit bahkan sempat memproyeksikan ketinggian air berpotensi turun lebih jauh sebelum akhirnya stabil.
Krisis ini pun merembet ke kehidupan sehari-hari warga Kota Paks yang berpenduduk sekitar 17.000 jiwa. Sekitar 6.000 penduduk di 2.771 unit apartemen serta 181 institusi publik terancam kehilangan pasokan air panas, sehingga pemerintah kota terpaksa memasang boiler listrik darurat dan kontainer kamar mandi umum. Di tingkat nasional, pemerintah Hungaria memberlakukan pembatasan penggunaan air di lebih dari 100 kota dan desa di seluruh negeri, serta meminta perusahaan dengan konsumsi air besar untuk secara sukarela mengurangi penggunaannya.
Efek Domino ke Hilir Rumania, Bulgaria, dan Serbia Ikut Waspada
Krisis akibat menyusutnya Danube tak berhenti di perbatasan Hungaria. Sungai yang sama mengalir ke hilir menuju Rumania dan Bulgaria, dan di kedua negara itu pola yang sama berulang: pembangkit nuklir yang bergantung pada air sungai mulai kehilangan kapasitasnya.
Di Rumania, satu dari dua unit reaktor PLTN Cernavoda, satu-satunya pembangkit nuklir negara itu, yang biasanya menyumbang sekitar seperlima total produksi listrik nasional, telah terputus sepenuhnya dari jaringan, sementara unit keduanya beroperasi dengan output yang berfluktuasi ketat. Debit aliran Danube di wilayah Rumania dilaporkan turun di bawah 1.500 meter kubik per detik, kurang dari sepertiga debit normal bulan Juli.
Upaya menyelamatkan pasokan air pendingin Cernavoda bahkan sampai melibatkan militer: Angkatan Laut Rumania melakukan serangkaian ledakan bawah air terkendali untuk menghancurkan formasi batu di dasar Kanal Bala, guna mengalihkan aliran air ke arah pembangkit, menurut laporan yang dikutip Euronews dan CNN. Perdana Menteri sementara Rumania, Ilie Bolojan, turut menyerukan warga secara sukarela menurunkan konsumsi listrik, dan sektor energi negara itu berstatus siaga sejak akhir pekan lalu.
Situasi serupa mengancam Bulgaria, yang bergantung pada PLTN Kozloduy untuk sebagian besar kebutuhan listriknya. Menteri Energi Bulgaria, Iva Petrova, memperingatkan pada 29 Juli bahwa kedua unit reaktor yang beroperasi di Kozloduy berpotensi harus dihentikan sementara, menurut Nuclear Engineering International. Pemerintah Bulgaria bahkan menetapkan situasi ini sebagai kejadian force majeure, seiring permukaan sungai yang terus turun hingga dua sentimeter setiap harinya, otoritas setempat membentuk satuan tugas khusus dan menyiapkan pompa cadangan serta pengerukan dasar sungai sebagai langkah darurat.
Penyelamatan Kozloduy pada akhirnya bergantung pada kerja sama lintas negara. Kementerian Energi dan Pertambangan Bulgaria berkoordinasi langsung dengan otoritas Serbia, yang diketahui melepaskan air dari kompleks pembangkit listrik tenaga air Djerdap 1 atau “Gerbang Besi” untuk menjaga ketinggian Danube tetap di atas ambang batas kritis. Langkah ini bukan tanpa ongkos: pemerintah Serbia sendiri harus mengurangi produksi listrik dari sejumlah pembangkit tenaga airnya di tengah kekeringan ini. Di Beograd, surutnya permukaan Danube justru memunculkan area pasir tambahan di pertemuan Sungai Danube dan Sava, yang kini dimanfaatkan warga setempat untuk mendinginkan diri.
Korban Jiwa dan Kebakaran di Seluruh Eropa
Krisis di kawasan Danube hanyalah satu babak dari gelombang panas keempat yang melanda Eropa barat sejak Mei 2026, dan babak-babak lainnya jauh lebih mematikan. Menurut laporan New York Times, sedikitnya 10.000 orang meninggal akibat panas ekstrem di seluruh Eropa hanya pada Juni saja, sementara lebih dari 300.000 orang mengungsi akibat kebakaran hutan.
Italia mencatat 25 kota berstatus siaga merah akibat suhu ekstrem pada Senin (3/8/2026), sebelum status itu diperluas ke hampir seluruh kota besar pada pertengahan pekan; otoritas kota bahkan memasang kipas kabut pendingin di pintu masuk Colosseum di Roma dan menambah pos medis darurat. Di Yunani, dua helikopter pemadam kebakaran bertabrakan di udara saat memadamkan kebakaran hutan di barat laut Athena akhir pekan lalu, satu di antaranya jatuh ke tanah dan menewaskan dua awak yang berada di dalamnya, menurut layanan pemadam kebakaran Yunani.
Spanyol mengalami salah satu kebakaran hutan paling mematikan dalam sekitar dua dekade terakhir. Kebakaran di Provinsi Ávila tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah pencatatan negara itu, dan setelah bergabung dengan kebakaran lain di sekitar Madrid, area yang terbakar mencapai sekitar 80.000 hektare, kebakaran terburuk dalam sejarah wilayah tersebut. Prancis mengalami hal serupa: luas area yang terbakar sepanjang 2026 telah melampaui 115.000 hektare, memecahkan rekor nasional, dengan kebakaran di kawasan Gironde saja menghanguskan sekitar 42.000 hektare dan memaksa lebih dari 220.000 warga mengungsi. Portugal turut kehilangan sekitar 30.000 hektare lahan akibat kebakaran hutan tahun ini.
Secara keseluruhan, data yang dihimpun Mappr mencatat sedikitnya 14 orang tewas akibat kebakaran hutan di Eropa sepanjang musim ini hingga awal Agustus. Uni Eropa merespons dengan mengerahkan 22 pesawat dan lima helikopter pemadam kebakaran melalui armada rescEU ke 12 negara, disertai 777 personel pemadam kebakaran, mobilisasi terbesar sejak program tersebut dibentuk.
Kepala Informasi Iklim Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), John Kennedy, menyebut pola ini bukan kebetulan: gelombang panas di Eropa akan terus berlangsung lebih lama, lebih intens, dan lebih sering selama emisi gas rumah kaca tidak dikurangi. Sistem tekanan tinggi yang persisten, katanya, turut memicu lebih banyak kebakaran hutan dan kekeringan di seluruh benua, dengan rekor suhu sepanjang masa turut tercatat di Prancis, Jerman, dan Spanyol pada musim panas ini.
Kapal Pesiar dan Pasokan Air Warga Ikut Terganggu
Sungai Danube adalah sumber air pendingin reaktor terpanjang kedua di Eropa, mengalir melintasi atau menjadi batas bagi sepuluh negara dan menjadi sumber air minum bagi sekitar 10 juta orang, dengan empat ibu kota negara Wina, Bratislava, Budapest, dan Beograd berdiri di sepanjang alirannya.
Ketinggian air yang anjlok turut mengacaukan jalur pelayaran kapal wisata. Sejumlah operator kapal pesiar sungai, termasuk Viking, Avalon Waterways, AmaWaterways, dan Riviera Travel, terpaksa mengubah rute, mengganti kapal, atau menambah transfer menggunakan bus akibat kondisi ini, menurut laporan The Japan Times. Di Bratislava, sejumlah kapal pesiar dilaporkan tertahan karena ketinggian air tidak memungkinkan mereka melanjutkan perjalanan menuju Wina maupun Budapest dan otoritas setempat menyebut kondisi ini kemungkinan masih akan berlangsung dalam waktu dekat.
Di Budapest sendiri, ketinggian permukaan Danube sempat tercatat sekitar 10 sentimeter pada awal pekan ini, jauh di bawah rekor terendah sebelumnya sebesar 33 sentimeter yang tercatat pada 2018, kondisi yang turut berdampak pada sektor pariwisata dan aktivitas warga di sepanjang bantaran sungai.
Eropa Sebenarnya Sudah Diperingatkan
Komisi Eropa sejatinya telah mengantisipasi risiko semacam ini lewat Strategi Ketahanan Air Eropa yang dipresentasikan pada Juni 2025, dirancang untuk mengatasi kelangkaan air dan memodernisasi pengelolaan air di seluruh blok Uni Eropa. Namun kekeringan tahun ini tetap memengaruhi sekitar empat persen wilayah Uni Eropa, dan Paks bukan satu-satunya PLTN yang terdampak.
Sepanjang tahun ini, gelombang panas juga telah memaksa reaktor nuklir di Prancis dihentikan sebanyak tiga kali, sementara delapan PLTN lain di Eropa beroperasi dengan daya yang dikurangi. PLTN Beznau milik Swiss di Sungai Aare mengalami gangguan serupa, silih berganti antara penghentian darurat penuh dan pemangkasan daya hingga 50 persen sepanjang sebulan terakhir.
Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, menyatakan pihaknya terus memantau situasi dan siap menggelar pertemuan khusus Kelompok Koordinasi Kelistrikan Eropa apabila diperlukan, sinyal bahwa Brussels menganggap krisis energi akibat cuaca ekstrem ini sebagai persoalan yang bisa meluas melampaui satu atau dua negara.
Sungai Danube di Paks Mulai Naik dan Kabar PLTN Paks Hungaria
Menjelang akhir pekan, sinyal perbaikan mulai terlihat. Magyar menyatakan optimismenya pada Kamis (6/8/2026) bahwa ketinggian Sungai Danube mulai naik secara bertahap setelah sempat mencapai titik terendah pada akhir pekan sebelumnya. Berdasarkan data yang dikutip Euronews, ketinggian air di Paks naik dari minus 134 sentimeter pada Rabu pagi menjadi minus 131 sentimeter pada Kamis pagi, sembilan sentimeter di atas titik terendah akhir pekan lalu. Turbin terakhir yang masih beroperasi di PLTN itu dilaporkan tetap menghasilkan listrik hingga Kamis.
Magyar menyebut hujan diperkirakan turun di kawasan tangkapan air Austria dalam beberapa hari ke depan, meski ia tetap meminta warga menjaga efisiensi konsumsi listrik. Pemulihan penuh, tegasnya, masih memerlukan waktu dan bergantung pada konsistensi kenaikan permukaan air.
Wakil Direktur Teknik PLTN Paks, László Nagy, menjelaskan proses menghidupkan kembali seluruh empat unit reaktor secara bersamaan berpotensi memakan waktu hingga satu minggu. Menurutnya, penghentian satu unit reaktor merupakan prosedur rutin, namun kompleksitasnya meningkat signifikan jika seluruh unit tidak beroperasi dalam waktu bersamaan selama berminggu-minggu. Otoritas Tenaga Atom Hungaria sendiri menegaskan seluruh proses pengurangan daya dan penghentian unit reaktor ini tidak menimbulkan dampak negatif terhadap keselamatan nuklir maupun lingkungan sekitar.
Sampai artikel ini diperbarui, pemerintah Hungaria belum memberikan kepastian mengenai kapan operasional PLTN Paks akan kembali normal sepenuhnya, semuanya masih bergantung pada perkembangan ketinggian air Sungai Danube dalam beberapa hari mendatang.
Artikel ini disusun dan diverifikasi dari data resmi GeoSphere Austria, World Nuclear News, dan Otoritas Tenaga Atom Hungaria, serta menyilangperiksa dengan pemberitaan CNN, Al Jazeera, Euronews, CBS News, NBC News, Xinhua, World Nuclear News, Nuclear Engineering International, The Local Austria, SBS News, RTÉ, Mappr, dan The Japan Times.
