
OPINI, — Tentu saja peradaban kontemporer tidak pernah kekurangan kanal beredarnya informasi. Hanya saja, kita sedang mengalami keruntuhan empati kognitif massal, akibat terkikisnya kemampuan untuk menyimak.
Satu gejala sosiologis yang juga secara akurat menyerupai pola anarki komunikasi kaum Yakjuj Makjuj yang mandek dan bebal, karena watak destruktif tanpa ruang dialektis yang sehat.
Selain dihadapkan dengan resesi ekonomi dan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang gila-gilaan. Masalah mendasar lainnya ada juga pada kepunahan kemampuan manusia untuk saling menyimak.
Ruang publik pun beralih fungsi menjadi medan pertempuran verbal. Setiap argumen objektif langsung dicap sebagai ancaman eksistensial kelompok, figur, atau tokoh tertentu, tentunya hal itu dipicu oleh kebebalan kolektif mereka sendiri.
Gejala semacam ini menandai lahirnya watak peradaban baru yang benar-benar tuna-bahasa. Suatu kaum bertubuh modern tapi mengadopsi mentalitas massa liar dari Yakjuj Makjuj.
Atau sebut saja satu komunal yang bergerak atas dasar dorongan destruktif massal, baik pada dirinya maupun sekitarnya. Hingga rasanya kita perlu melakukan reduksi, bagaimana macetnya silaturahmi gagasan mereplikasi pola anarki sosiologis Yakjuj Makjuj.
Satu kesatuan yang tidak bersatu, adalah kaum Yakjuj Makjuj yang secara historis-teologis tercatat tidak mampu memahami, gagap membedakan abjad dan huruf, kata dan kalimat, pernyataan dan pertanyaan.
Sejarah mencatat kisah Raja Żulqarnain, yang sempat singgah di wilayah perbatasan terpencil terapit oleh dua gunung tinggi. Ia menjumpai sebuah komunitas masyarakat yang terisolasi dan kesulitan saat berkomunikasi menggunakan bahasa manusia pada umumnya.
Masyarakat itu mengadukan ancaman agresi berdarah yang terus membayangi mereka dari kelompok liar Yakjuj dan Makjuj. Mereka memohon kepada Żulqarnain untuk mendirikan sebuah dinding pembatas kokoh demi melindungi tatanan dari kehancuran massal.
Żulqarnain bersama warga setempat pun bergotong-royong mengisolasi kedua suku perusak itu di balik celah gunung. Dinding besi berlapis tembaga cair dibangun sebagai perisai, meskipun teks Qur’an mengingatkan bahwa pembatas ini kelak akan jebol dan runtuh juga, lalu mereka memangsa budaya dan peradaban manusia.
Dalam ilmu sosiologi dan geografi budaya, boleh jadi sebuah kaum terpencil menjadi “miskin bahasa” dan “gagap komunikasi” justru karena mereka diisolasi oleh keadaan dan selalu diteror oleh tetangga mereka, yakni kaum Yakjuj Makjuj.
Yakjuj Makjuj digambarkan oleh Ibnu Katsir sebagai suku liar yang tidak mengenal peradaban, tidak kenal diplomasi dan bahasa, serta menjadikan agresi sebagai satu-satunya instrumen untuk hidup.
Karena kaum mengadu ini tiap hari menghadapi makhluk yang tidak bisa diajak bicara (Yakjuj Makjuj), mereka akhirnya perlahan ikut kehilangan kemampuan berbahasa dan berdialog yang beradab. Mereka terpaksa memakai bahasa isyarat darurat.
Alegori historis ini mencerminkan logika-kontekstual terhadap realitas polarisasi sosial hari ini. Kita sedang melihat bertemunya dua sisi krisis bahasa tersebut dalam ruang hidup kita, tidak mengerti mana presiden mana pemimpin, mana opini mana fakta, antara kabar gembira dan buruk.
Bahkan lebih kacau lagi, tidak mengerti mana Barat mana Timur, yang mana Tuhan mana tuhan, apa itu pemerintah, apa itu partikelir, kritik akademis dan cuitan kecil, kebebasan berbicara dan anarki verbal.
Krisis ini meluas hingga merusak kemampuan membedakan antara hukum keadilan dan opini massa, antara silaturahmi gagasan dan gladiator kata-kata, hingga batas krusial antara mengayomi dan memanipulasi. Kehilangan kompas logika untuk menimbang antara validasi data ilmiah dan histeria sentimen komunal adalah hal yang sangat menyedihkan.
Hingga akhirnya, masyarakat yang katanya modern mengalami ketakutan komunal layaknya kaum yang mengadu, sekaligus mengadopsi watak agresif Yakjuj Makjuj saat merespons perbedaan pendapat.
Hal itu boleh saja terjadi di dunia maya, maupun dunia nyata sekitar kita, yang terlanjur mengadopsi mentalitas bebal tata bahasa dan budayanya. Walhasil ruang dialog otomatis runtuh total.
Belum lagi kritik objektif berupa pernyataan rasional langsung diterjemahkan oleh otak mereka sebagai interogasi, ancaman eksistensial, serta tabuhan genderang perang yang harus dibalas dengan bumi hangus.
Gemar Mengamuk Malas Menyimak
Naasnya ruang publik kita juga dipenuhi oleh berisik yang tidak berisi. Beberapa manusia berkumpul mengadopsi pola baca dan pola pikir Yakjuj Makjuj yang reaktif, tuna-bahasa, dan gemar menyerang membabi buta, tanpa mau memahami esensi pesan yang disampaikan.
Ada kegagalan mendasar dalam memisahkan sebuah pernyataan argumentatif dengan serangan terhadap identitas. Menampilkan data objektif di hadapan massa dimaknai dengan menabuh genderang perang.
Lalu masyarakat mengalami degradasi keberimbangan, kehilangan kesabaran intelektual untuk memilah, menimbang, dibarengi dengan mengunyah proposisi secara jernih.
Fenomena tersebut melahirkan sekelompok subjek sosial yang reaktif. Massa tidak lagi bergerak karena didorong oleh pemikiran yang matang.
Mobilisasinya hanyalah sentimen yang instan dibuat-buat, buah turunannya adalah diskusi publik yang tidak lagi menghasilkan sintesis pemikiran yang mencerahkan. Arena bertukar pikiran berubah total menjadi arena gladiator tidak karuan, atau tempat siapa yang berteriak paling keras keluar sebagai pemenang.
Jejak Yakjuj Makjuj yang Gagap Komunikasi
Untuk memahami akar kedangkalan ini, kita perlu melirik lembar sejarah peradaban kuno yang tertuang dalam literatur tafsir. Kitab suci merekam jejak sebuah komunitas misterius bernama Yakjuj dan Makjuj.
Secara etimologis, kata Yakjuj Makjuj berakar dari Ya’Jou dan Ma’Jou dalam tradisi Cina kuno, mencerminkan penduduk yang mendiami daratan luas Asia.
Ada satu sisi sosiologis dalam kisah perjalanan Żulqarnain saat menemui gerombolan ini. Dokumen historis mencatat bahwa di hadapan celah dua gunung tinggi, ditemukan sebuah kaum yang memiliki hambatan komunikasi yang ekstrem.
Teks klasik menggunakan kalimat la yakaduna yafqahuna qaula, mereka hampir tidak mengerti pembicaraan. Interaksi dengan dunia luar terpaksa berjalan menggunakan bahasa isyarat darurat.
Selain ketidakmampuan bertutur kata tersebut menghasilkan implikasi sosial yang mengerikan. Komunitas ini tumbuh menjadi entitas yang kasar, kurang mengenal sopan santun, dibarengi dengan abai terhadap adab peradaban.
Mereka gagal membedakan esensi pesan karena nalar bahasa yang tidak terbentuk. Efek dominonya adalah setiap kontak sosial di luar kelompok mereka selalu direspons dengan satu cara, agresi, penghancuran sistematis, atau perusakan tata cara berpikir dan hidup.
Anatomi Fisik dan Perilaku Manusia Modern
Secara ragawi, tradisi mencatat penggambaran Yakjuj Makjuj sebagai makhluk bertubuh pendek, bertelinga lebar, dengan paras yang buruk. Penggambaran fisik ini melambangkan keterbatasan kapasitas pandang serta buruknya resepsi visual terhadap kebenaran di luar dirinya, seolah dunia hanya berwarna hitam putih, benar dan salah, lucu dan tidak lucu, semuanya serba sempit dimaknai.
Watak sosial mereka berciri nomaden, bergerak cepat menunggangi kuda dalam jumlah massa yang sangat besar dan menakutkan. Mereka tidak membangun kota, mereka hanya melintasi wilayah untuk menghabiskan segala sumber daya pertanian yang dirawat oleh kaum yang menetap atau pribumi.
Mari kita benturkan karakteristik sosiologis purba tersebut dengan realitas sosial manusia modern hari ini:
- Mobilitas Nomaden: Massa modern berpindah dari satu isu ke isu lain secara kilat. Mereka tidak pernah menetap untuk mendalami akar masalah.
- Kolektivitas yang Tidak Kolektif: Gerakan sosial masa yang berbasis jumlah kuantitas atau angka-angka, meniru agresi pasukan berkuda Mongol dan Tartar di masa silam yang meluluhlantakkan Baghdad.
- Pakaian Bulu Mantel: Mereka membungkus diri dengan bias konfirmasi kelompok, mirip dengan baju bulu khas suku liar utara yang menolak sentuhan peradaban luar.
Kemiripan ini membuktikan bahwa tuna-bahasa bukan lagi monopoli sejarah masa lalu. Manusia modern yang memiliki perangkat teknologi canggih ternyata bisa memiliki cacat komunikasi yang serupa.
Seseorang bisa fasih mengetik ribuan kata, namun otaknya bebal saat dipaksa membaca kalimat yang berseberangan dengan keyakinannya.
Genom Sosiologis antara Karakteristik dan Kontekstualisasi Kontemporer
1. Manifestasi Ragawi dan Sensorik: Sempitnya Horizon Pikiran Modern
Naskah akademis mencatat bahwa entitas ini diidentifikasi memiliki karakteristik fisik berupa postur tubuh pendek, berparas buruk, serta telinga yang lebar. Sedangkan rekaman sejarah bani Israil mengategorikan ilustrasi ini sebagai narasi Israiliyat.
Kalau ditarik menuju ruang analisis sosiokultural hari ini, ciri ragawi kuno tersebut memancarkan simbol seperti:
- Kekerdilan Pola Pikir (Bertubuh Pendek): Merepresentasikan suatu kelompok modern yang mengalami miopia intelektual. Mereka gagal melihat gambaran besar dari suatu permasalahan sosial akibat sudut pandang yang pendek dan hanya mementingkan kepuasan instan kelompoknya sendiri.
- Pembusukan Estetika Moral (Berparas Buruk): Mencerminkan hilangnya objektivitas nilai dalam diskursus publik. Wajah interaksi sosial berubah menjadi menyeramkan, dipenuhi oleh caci maki, fitnah, serta hilangnya rasa hormat terhadap martabat kemanusiaan.
- Hiper-Resepsi Rumor (Bertelinga Lebar): Melambangkan watak manusia kontemporer yang membuka lebar pintu pendengarannya untuk melahap disinformasi, gosip, serta narasi kebencian tanpa filter kognitif yang memadai. Telinga mereka lebar untuk kebohongan komunal, tetapi menyempit rapat terhadap kebenaran ilmiah.
2. Spasial, Mobilitas, dan Agresi Kelompok
Sifat dasar komunitas purba ini bertumpu pada mobilitas berpindah-pindah, menggunakan armada kuda sebagai moda transportasi ekspansi, berwatak bengis, kejam, liar, serta bertindak sebagai perusak bumi (mufsiduna fi al-ard). Realitas ini bersemayam secara nyata dalam struktur sosial abad ke-21 melalui pola-pola pergerakan berikut:
- Anarki Nomaden Kontemporer: Publik tidak pernah menetap untuk mendalami esensi suatu persoalan. Mereka hidup berpindah platform dan berpindah isu secara kilat, berkerumun hanya untuk melakukan persekusi massal, lalu pergi meninggalkan kerusakan psikologis pada korban.
- Kendaraan Armada Agresi (Kuda Peradaban): Penggunaan kuda sebagai alat penaklukan cepat di masa lalu kini bertransformasi menjadi teknologi komunikasi yang digunakan untuk menyebarkan kepanikan massal serta mobilisasi massa beringas dalam hitungan detik.
- Normalisasi Kebalasan Sosial (Bengis dan Liar): Perilaku beringas yang dahulu memotong jalur damai kini menjelma menjadi budaya penghakiman sepihak (cancel culture) di dunia nyata. Individu kehilangan empati kemanusiaan saat bertindak di bawah pengaruh sentimen kawanan.
- Eksploitasi Bumi Hangus: Perilaku menghabiskan segala sesuatu di muka bumi mewujud dalam tindakan eksploitatif masyarakat modern yang menguras energi sosial, merusak kedamaian ekosistem warga, serta menyisakan trauma sosiologis yang mendalam.
3. Karakter Sosial dan Kebudayaan
Secara kultural, kelompok ini selalu bergerak dalam kuantitas massa yang sangat besar dan menakutkan, mengenakan pakaian dan sepatu dari bulu hewan, mengabaikan sopan santun, serta menjadi ancaman bagi masyarakat menetap karena hobi merusak sektor pertanian sumber pangan.
Manifestasi sosialnya bisa kita lihat pada hari ini melalui beberapa hal berikut ini:
- Tirani Kuantitas (Massa yang Menakutkan): Kebenaran tidak lagi diuji lewat validasi logika, melainkan ditentukan oleh seberapa besar jumlah kerumunan yang berteriak. Kuantitas gerombolan digunakan sebagai alat intimidasi untuk membungkam kebenaran objektif.
- Isolasi Kultural (Baju Bulu Kelompok): Mengenakan pakaian dari bulu hewan melambangkan cara manusia modern membentengi diri dalam bias konfirmasi kelompoknya. Mereka menolak mengenakan “pakaian kebudayaan” yang inklusif, memilih tetap berada dalam kelompok yang homogen dan eksklusif.
- Kepunahan Sopan Santun Publik: Sebagai makhluk yang tidak memiliki adab yang baik, hal itu tereplikasi pada kasarnya komunikasi publik kontemporer, tempat kritik ilmiah runtuh menjadi hinaan personal yang vulgar.
- Subversi Sektor Produktif (Perusakan Pertanian): Jika dahulu mereka menghancurkan lahan pangan kaum agraria yang menetap, sekarang massa liar modern bisa saja menghancurkan lahan produktif peradaban, berupa reputasi akademis, stabilitas ekonomi, atau tatanan pola hidup yang dirawat dengan susah payah.
4. Bahasa-Antropologi dan Kerusakan Gen Epistemologis Manusia
Seperti yang disebutkan sebelumnya, asal-usul etimologis istilah Yakjuj Makjuj berasal dari bahasa Cina Ya’Jou (penduduk Asia) dan Ma’Jou (bangsa kuda), yang diserap ke dalam bahasa Arab melalui akar kata aĵa atau ajij dengan makna gejolak api menyala atau gelombang air yang hebat.
Secara antropologis, para peneliti mengidentifikasi mereka sebagai keturunan Nabi Adam AS, cucu Nabi Nuh AS dari jalur Yafet (bangsa Scythia), yang bermanifestasi sejarah pada bangsa Mongol, Tartar, dan kabilah Turkistan.
Adapun secara kontekstual di zaman ini sangat jelas bisa kita lihat melalui:
- Mentalitas Api Menyala (Ajij): Komunikasi modern wataknya panas, destruktif, dan cepat menghanguskan jembatan silaturahmi antar personal. Setiap interaksi sosial tidak lagi untuk mendinginkan suasana, tapi memantik api konflik yang destruktif.
- Potensi Liar Gen Manusia: Penegasan bahwa mereka adalah keturunan Adam membuktikan bahwa sifat bebal dan merusak bukanlah ras asing dari planet lain. Sifat tersebut merupakan potensi kegelapan laten yang siap bangkit kembali dalam diri manusia modern apabila melepas jangkar moralitas dan akal sehatnya.
5. Desain Drama Konflik Geopolitik Global dan Imperialisme Belahan Utara
Karakter geopolitik entitas ini diidentifikasi melalui simbol kekuatan kafir wilayah Utara di bawah pimpinan militer Gog yang siap menginvasi kawasan Timur Tengah. Dalam kacamata modern, kaum Evangelis Barat menggunakan narasi ini untuk tujuan politik praktis dengan menyematkan cap Gog Magog pada aliansi negara Islam demi melegitimasi agresi.
Secara historis, manuver politik kelompok ini berkarakter imperialisme kuno yang sukses merubuhkan peradaban besar seperti Asyuria, Romawi, hingga Khilafah Abbasiyah di Baghdad melalui kepemimpinan Attila, Genghis Khan, dan Hulagu Khan.
Relevansi hari ini mencakup beberapa hal berikut ini:
- Tirani Hegemony Utara: Merefleksikan ketegangan geopolitik global kontemporer, tempat poros kekuatan belahan bumi utara terus mendikte, menekan, dibarengi dengan mengeksploitasi kedaulatan bangsa-bangsa berkembang melalui instrumen ekonomi dan militer.
- Stigmatisasi dan Politisasi Teologis: Penggunaan label keagamaan untuk membenarkan tindakan diskriminasi politik, pembantaian kemanusiaan, serta hegemoni kekuasaan di panggung internasional.
6. Sifat dan Ideologi Politik pada Ruang Moderat
Secara ideologis, tatanan politik mereka berciri mufsiduna fi al-ard (politik bumi hangus), menerapkan sistem totaliter dan otoriter yang mengandalkan kejahatan absolut tanpa ruang negosiasi damai, serta menolak tunduk pada hukum peradaban.
Apabila kita lihat dari konteks tafsir modern yang ditawarkan oleh Buya Hamka dan teoretikus sosiologi menjelaskan bahwa:
- Tirani Opini Totaliter: Hukum yang berlaku adalah pemaksaan kehendak sepihak. Ruang publik kehilangan fungsi mediasinya karena kelompok mayoritas yang beringas menolak adanya diskusi, kompromi, atau jalan tengah yang moderat.
- Kebocoran Pikiran Jahat (Alegori Ideologi Sesat): Watak destruktif Yakjuj Makjuj adalah simbol dari merembesnya pikiran-pikiran busuk, ideologi aneh, serta paham ekstrem yang merusak tatanan nilai masyarakat dari dalam. Saat manusia membiarkan fanatisme buta merobohkan dinding keimanan nalarnya (Al-Radm), mereka secara sadar sedang mengubah dirinya menjadi bagian dari Yakjuj Makjuj di dunia nyata.
Untuk memperjelas lebih lanjut lagi kita bisa lihat ringkasan tabel yang menerjemahkan karakteristik kaum Yakjuj Makjuj ini:
| Karakter | Sifat dan Sikap | Dampak |
| Tuna bahasa | Malas membaca esensi argumen | Gladiator kata-kata |
| Nomaden dan agresi komunal | Ikuti arus tanpa analisis | Cancel culture dan persekusi nyata |
| Politik bumi hangus | Fanatis destruktif | Keruntuhan modal sosial bangsa |
Mengapa Peradaban Mengalami Regresi dari Benturan Gagasan?
Ada sebuah kontradiksi yang menarik untuk dibahas. Sebagian analis sosial berpendapat bahwa kemudahan akses informasi saat ini seharusnya melahirkan masyarakat yang lebih bijaksana.
Harusnya kebebasan berpendapat dipandang sebagai motor penggerak demokrasi yang sehat. Narasi optimis ini percaya bahwa semakin banyak kepala yang berbicara, semakin cepat kebenaran kolektif akan ditemukan.
Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Kelimpahan data terbukti tidak berbanding lurus dengan kematangan berpikir. Terjadi fenomena yang disebut ledakan informasi di dunia cyber, sebuah kondisi yang membuat manusia kewalahan menyaring fakta.
Alih-alih menjadi cerdas, masyarakat justru mencari perlindungan di dalam lingkaran gaung (echo chamber) kelompoknya masing-masing. Di sinilah sintesis pemikiran akan kita uji.
Kebebasan berbicara tanpa didasari oleh adab untuk menyimak hanya akan melahirkan anarki sosial yang tidak jelas untuk apa dan ke mana arahnya. Benar bahwa kita seolah menghadapi situasi yang mirip dengan era ekspansi militer Attila atau Genghis Khan.
Penaklukan dilakukan bukan lagi menggunakan pedang, tetapi melalui pembunuhan karakter, penyebaran hoaks, dibarengi dengan pengucilan sosial (cancel culture) terhadap individu yang mencoba menyuarakan apa isi kepalanya.
Analisis Akar Masalah dan Matinya Nalar
Mengapa kemunduran ini bisa terjadi secara masif? Analisis lapis kedua menunjukkan adanya kerusakan pada sisi epistemologis masyarakat kita. Buya Hamka menawarkan sebuah sudut pandang dalam karya tafsirnya. Beliau menyebutkan bahwa Yakjuj Makjuj dapat ditafsirkan sebagai representasi dari pikiran-pikiran jahat dan ideologi yang sesat.
Ketika tatanan sosial kehilangan pembatas etika, pemikiran destruktif ini akan merembes keluar bak air bendungan yang bocor. Karakter Al-Radm atau dinding pembatas yang dibangun oleh Żulqarnain sejatinya adalah benteng pola pikir dan pola baca.
Tentu saja, keruntuhan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Dinding itu terkikis perlahan oleh akumulasi perilaku amoral, pengabaian terhadap kebenaran ilmiah, serta pembiasaan terhadap dusta yang terorganisir.
Selain itu, faktor teknologi pun ikut mempercepat proses pengikisan ini. Tidak ada algoritma modern yang dirancang untuk mencerdaskan manusia, kecuali untuk memanen sisi emosinal belaka.
Konten yang memicu kemarahan publik mendapatkan jangkauan yang jauh lebih luas daripada tulisan analitis yang membutuhkan waktu baca lama. Manusia modern dikondisikan secara biologis untuk menjadi makhluk yang gemar menyerang, menghardik, mencari-cari cara untuk menjegal dari seluruh sisi.
Implikasi Kemanusiaan
Dampak dari anarki komunikasi ini menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia yang paling rapuh. Contohnya ikatan bertetangga menjadi retak akibat perbedaan pilihan politik.
Institusi keluarga mengalami keretakan hubungan komunikasi karena perbedaan pandangan sosial. Rasa saling percaya antar warga (social trust), yang seharusnya menjadi modal utama berdirinya sebuah negara perlahan-lahan menguap.
Secara psikologis, akhirnya masyarakat modern hidup dalam kecemasan yang memang harus dirasakan. Ada ketakutan kolektif untuk menyuarakan argumen yang berbeda dari arus utama.
Individu yang mencoba bersikap netral dan objektif boleh jadi menjadi korban pertama yang digilas oleh gerombolan massa dari kedua belah pihak. Ruang tengah yang aman untuk berdialog telah dihancurkan secara paksa.
Kita sedang menyaksikan proses dehumanisasi peradaban. Manusia tidak lagi dipandang sebagai subjek yang memiliki akal budi untuk diajak berdiskusi. Mereka direduksi menjadi angka kuantitas dengan pilihan yang sempit; kawan atau lawan.
Jika mereka berada di luar kelompoknya, mereka adalah musuh yang harus dilenyapkan rekam jejak sosialnya. Begitu seterusnya, hingga diantaranya saling memangsa satu dengan yang lainnya.
Antisipasi Tembok untuk Menghalau Yakjuj Makjuj
Bagaimana kita bisa selamat dari kepungan Yakjuj Makjuj baru ini? Kita harus belajar dari strategi kebudayaan yang diterapkan oleh Żulqarnain. Saat beliau dimintai bantuan oleh kaum yang teraniaya, beliau tidak meminta imbalan materi berupa harta atau upeti.
Zulqarnain hanya menuntut kontribusi aktif berupa tenaga, gotong royong, dibarengi dengan penyediaan material fondasi yang kokoh berupa potongan besi dan tuangan tembaga cair.
Artinya, perbaikan ruang publik tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada regulasi atau para pembesarnya. Setiap individu harus berkomitmen secara sadar untuk membangun kembali dinding pertahanan mentalnya masing-masing.
Benteng pola baca dan pola pikir ini harus dirajut menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi:
- Disiplin Verifikasi: Menolak langsung menyebarkan informasi sebelum melakukan proses tabayun dan pengecekan fakta secara berlapis.
- Etika Menyimak: Memberikan kesempatan kepada argumen liyan untuk selesai diutarakan sebelum nalar kita merumuskan bantahan.
- Keberanian Berpikir Mandiri: Berani keluar dari kenyamanan ilusi kelompok demi mempertahankan objektivitas kebenaran ilmiah.
Tanpa adanya upaya kolektif untuk membangun dinding pertahanan nalar ini, kita akan terus menyaksikan kebocoran sosial yang semakin parah. Peradaban modern akan berakhir tragis, bukan karena dihancurkan oleh hulu ledak nuklir, tetapi karena runtuh di bawah beban kebebalan komunikasinya sendiri.
Konklusi dan Penolakan Bergabung dengan Yakjuj Makjuj
Sejarah telah memberikan peringatan yang sangat benderang melalui untaian sabda Rasulullah SAW mengenai hari esok. Ada masa ketika kejahatan merajalela, ditandai dengan jebolnya dinding pembatas peradaban secara perlahan.
Gerombolan Yakjuj Makjuj turun dari bukit-bukit tinggi dengan kecepatan yang menakutkan, meminum habis air kejernihan ilmu, dibarengi dengan meninggalkan bau busuk pembusukan karakter di mana-mana.
Pilihannya berada sepenuhnya di tangan kita masing-masing. Apakah kita akan membiarkan diri kita melebur menjadi bagian dari neo Yakjuj Makjuj modern yang bergerak tanpa arah, gemar merusak, dibarengi dengan anti terhadap dialog? Atau kita memilih berdiri kokoh bersama barisan untuk membangun peradaban yang teguh merawat tutur kata dan kejernihan pola pikir?
Meskipun memang betul, untuk menyelamatkan peradaban hari ini perlu dimulai dari sebuah langkah yang menuntut keteguhan hati luar biasa; simak baca sampai selesai, baru mulailah belajar mendengarkan orang lain dengan penuh kerendahan hati.
Rujukan:
- Abu Zaid, Hamdi bin Hamzah. (2007). Munculnya Ya’juj & Ma’juj di Asia. Jakarta: Almahira.
- Sasongko, Wisnu. (2009). Jejak Ya’juj wa Ma’juj dalam Inskripsi Yahudi. Jakarta: PT. Mizan Publika.
- Al-Khalidi, Shalah. (2000). Kisah-kisah al-Qur’an Pelajaran dari Orang-orang Dahulu (Jilid 2). Jakarta: Gema Insani Press.
- Syaikh Utsmani. Tafsir Al-Kahfi. Jakarta: Pustaka as-Sunah.
- Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Miṣbah (Vol. 7). Jakarta: Lentera Hati.
- Al-Maragi, Ahmad Musthafa. (1974). Tafsir Al-Maragi (Juz XVI). Mesir.
- Browning, W.R.F. (2008). Kamus Alkitab A Dictionary of the Bible. Jakarta: Gunung Mulia.
- Manuskrip Teks Perjanjian Lama: Kitab Yehezkiel.
- Hamka, Prof. Buya. (2003). Tafsir Al-Azhar (Juz XV). Jakarta: PT. Citra Serumpun Padi.
- Al-Qurthubi, Syaikh Imam. (2009). Al-Jami’ Li Ahkám Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Azzam.
